Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
Penyalin lontar ini, saya hampir yakin, punya kesengajaan menipu pembeli (mungkin Pusdok mengupah atau membeli) lontar ini. Pada halaman pertama, kalimat pertama berbunyi sebagai berikut: "Buddha-gama". Kalimat selanjutnya tidak ada hubungan dengan judulnya, malah yang disalin selanjutnya, menjadi isi lontar ini, adalah 'Usada Wong Beling'.
Silahkan lontar bisa dilihat dan baca di link ini:
https://archive.org/stream/buddha-gama/buddha-gama-400ppi#page/n0
Lontar-lontar lain yang sangat-sangat berpotensi memunculkan konflik adalah beberapa lontar yang merupakan babad, prasasti, atau lontar yang disebut prasasti atau babad, tapi isinya adalah karya baru yang sangat meragukan. Tidak disertai keterangan apapun kalau babad, purana, atau yang disebut prasasti tersebut sumber dan tahun penulisannya. Penulisan ini memang terkesan ada kesengajaan menyamarkan isi lontar agar terkesan kuno.
Pembaca awam umumnya berasumsi, bahkan banyak percaya begitu saja, bahwa apa yang ada di lontar berasal dari ratusan tahun silam. Bagi kalangan awam lontar adalah sesuatu yang kuno. Padahal tidak sepenuhnya benar. Banyak lontar berjudul babad, purana, dan prasasti, muncul di tahun 1950-an, 1960-an, 1970-an, bahkan penulisan babad keluarga tertentu ada yang ditulis ulang tahun 1990-an yang tak lain revisi lontar sebelumnya, atau rangkuman lontar ditambahi data efigrafi hasil penelitian sarjana Belanda, dimasukkan dalam lontar tersebut, sehingga terkesan kuno dari segi bahasa dan juga isi.
Secara pribadi saya belajar banyak dari lontar-lontar koleksi Pusat Dokumentasi, tapi pesan saya: Jangan 100% mempercayai isi lontar-lontar tersebut, sebaiknya baca tuntas, lalu carikan lontar pembanding, setidaknya bisa dicek koleksi Gedung Kirtya atau tepat lainnya.
Ada beberapa yang sangat bermutu baik di Pusat Dokumentasi Bali, contohnya adalah lontar-lontar koleksi Gedung Kirtya yang kini tersimpan di Pusat Dokumentasi Bali (dulu kabarnya dipinjam dan belum dikembalikan ke Gedung Kirtya sampai kini) dan lontar-lontar tua lainnya, serta salinan para tokoh penulis yang sangat bisa dipertanggungjawabkan isinya, terlihat dari kolofon dan penulisannya yang konsisten menggunakan 'pasang pageh', disertai keterangan babonnya.
Secara umum saya bisa katakan 10% lontar dan atau salinan lontar serta transkrip lontar koleksi di Pusat Dokumentasi Bali meragukan, 90% bisa kita jadikan bagian pembelajaran yang berarti dan penting, sekalipun harus tetap dibandingkan dengan lontar sejenis dari tempat lain.
Apa yang perlu dikerjakan? Apa solusinya?
Koleksi lontar di Pusat Dokumentasi Bali sebaiknya dikurasi ulang, agar koleksi yang ada mempunyai kejelasan asal dan proses penyalinan, serta ditambahkan lontar bersumber dari lontar kuno (salinan lontar), karya baru atau buku, disebutkan dengan jelas siapa yang menjadi penyedian/pedagang/penulis lontar itu secara singkat.
Kerja ini adalah kerja detektif melacak kembali dari mana lontar-lontar itu diperoleh dan siapa yang menjadi penyalinnya, untuk kejelasan data naskah. Walaupun beberapa lontar ada keterangan penyalinan, pada kolofonnya, tapi tidak semua masyarakat bisa memahaminya.
Bagi para peneliti dan mahasiswa yang memakai acuan lontar-lontar atau transkrip di Pusat Dokumentasi Bali, sebaiknya melakukan perbandingan dengan lontar-lontar atau transkrip yang disediakan di Gedung Kirtya atau perpustakaan lainnya.
Ketidaktersediaan informasi terkait asal-usul lontar, ketidakberesan kuratorial, ketiadaan sinkronisasi kembali judul dan isi, serta tiadanya pengecekan isi di masa awal pengumpulan lontar sebagai tambahan koleksi Pusat Dokumentasi Bali, berpotensi menyesatkan pembacanya (yang umumnya krama Bali). Mahasiswa atau peneliti yang kurang peka atau tidak melakukan cross-checking isi, jika memakai lontar-lontar tersebut, berpotensi menyebarkan ketidakvalidan isi lontar-lontar yang isinya kurang meyakinkan tersebut.
*Catatan Harian, Sugi Lanus, 21 Agustus 2018.
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
PADA zaman maya saat ini, seorang remaja tanpa menyentuh gadget atau handphone selama satu hari saja sudah termasuk hebat. Tapi di Desa Bungaya, Karangasem, Bali, ratusan remaja pu...
KESULITAN terbesar saya ketika harus membicarakan sajak-sajak Nuryana Asmaudi SA yang terkumpul dalam buku "Doa Bulan untuk Pungguk" (DBUP) adalah upaya menghilangkan bayang-bayang...
JIKA ingin melihat sejati-jatinya festival yang jujur, tanpa pesan ini-itu, tanpa pidato ini-itu, tanpa kampanye ini-itu, tanpa bau politik dan kekuasaan, tanpa EO dan panitia over...
MAHASISWA adalah sebutan untuk “siswa” dengan tambahan kata “maha” di depannya. Maha artinya besar. Mahasiswa tentu bukan lagi siswa biasa. Kehidupan siswa bisa bergantung pada or...
Cerpen: Made Adnyana Ole TUBUH mungil gadis itu ditusuk pedang cahaya ketika sinar purnama menerobos di sela ranting gaharu. Cahaya memantul dari tubuhnya hingga hutan kecil di tep...
IGAU andaikata rumput berwarna merah muda, sapi-sapi mungkin saja berwarna jingga. dan kau berdiri di atas batu kuning mengenakan sepatu hijau, menembaki aku dengan senapan buru l...
MASA KKN (Kuliah Kerja Nyata) kini sudah usai. Acara perpisahan di balai desa atau di lapangan umum sudah digelar dengan meriah, penuh canda sekaligus haru. Namun, setelah KKN buba...
MENYELENGGARAKAN ngaben megah menghabiskan banyak uang, diurus oleh beratus-ratus orang dengan uang ratusan juta rupiah, adalah salah satu contoh, betapa orang Bali senang sekali m...
BERBICARA sebagai orang awam, sembari turut menilai fenomena dan paradigma tentang berbagai hal yang terjadi di masyarakat, tentu dengan guyonan ringan ditambah dengan sruputan kop...