Proses Kreatif Kurnia Effendi 2# Curah Kisah
SEWAKTU-WAKTU, ketika sedang bersama saya, jangan heran jika saya curahi cerita. Biasanya, judul yang mengemban kandungan cerita itu tak cukup sabar tetap tersimpan dalan vestiaire...
Kegembiraan di Festival Tepi Sawah (Foto: Istimewa)[/caption]
Hari pertama Festival Tepi Sawah memang diwarnai berbagai kegiatan yang mengundang semangat.. Dibuka dengan beberapa workshop yang bersifat edukatif dan digemari oleh anak-anak lokal pejeng, acara inipun dimulai pukul 10.00 sampai senja hari hingga akhirnya pada pukul 19.00 pertunjukan malam dan opening ceremony dibuka oleh MC.
Menarik memang, Festival yang berlatarkan sawah ini seolah dapat menimbulkan aroma asri ingatan kita akan masa lalu, yang mungkin sedikit menjadi cerminan masa sekarang: kicauan burung yang bersahutan dalam rimbun dedaunan, dan celoteh anak-anak kecil.
Betapa tidak, Festival yang diadakan dua hari yakni pada tanggal 08 dan 09 September 2018 ini dimeriahkan pula oleh lanksap anak-anak kecil yang riang menyambut pelatihan demi pelatihan di dalam workshop festival. Sebut saja workshop Sapek: Create to play dan bermain genggong. Kedua workshop ini sangat digemari oleh anak-anak kecil lokal pejeng yang sengaja datang untuk memeriahkan festival ini.
Untuk kalangan yang lebih dewasa, tidak kalah seru: workshop olah suara bersama Trie Utami menjadi pilihan favorit kaum remaja dan dewasa. Ada pula hal yang membuat anak kecil ini sumigrah melihat festival ini, yaitu dengan diadakannya acara Piknik di Tepi Sawah. Piknik di Tepi Sawah ini menjadi pilihan favorit bagi semua pengunjung.
Kegiatan santai yang digelar di tengah taman sekitaran panggung utama dan di bawah pohon waru besar ini dibagi menjadi tiga yaitu Solo Gitar oleh Renda, Sapek Dayak oleh Agus, dan Littletalks Book Corner di mana anak-anak ini dilatih secara santai untuk menulis puisi, kemudian satu per satu dari anak-anak itu akan membacakan puisi yang ditulis mereka saat itu juga di depan teman-temannya yang lain.
“Workshop berjalan baik, saya sangat berharap bisa bermanfaat. Memang tidak mungkin segala ilmu vocal bisa tertuang hanya dalam waktu 45 menit, tetapi setidaknya ini adalah hal dasar yang bisa dilatih untuk para peserta workshop,” ucap Trie Utami, salah satu pembicara workshop olah vocal Festival Tepi Sawah.
[caption id="attachment_8279" align="aligncenter" width="570"]
Genggong Kutus di Festival Tepi Sawah (Foto: Istimewa)[/caption]
Memasuki malam hari, pementasan demi pementasan yang menarik ditampilkan bergiliran di antara dua panggung: Panggung Uma (outdoor) dan Panggung Kubu (Indoor). Tidak seperti hari-hari sebelumnya di mana curah hujan berjatuhan dari langit Pejeng, hari pertama festival ini tidak ada hujan yang turun sedikitpun.
Beberapa line up tampil menarik di atas panggung termasuk Gamelan Ceraken itu. Di Panggung Kubu ada juga Genggong Kutus. Lalu ada Nuswantoro Trio, Lagu dan Lenong Betawi, Trie Utami dengan lantunan lagu-lagu pertamanya, dan garapan yang paling terakhir di mana berbagai artist berkolaborasi di dalamnya untuk mengenang Almarhum Chrisye dalam Tribute to Chrisye.
Inilah puncak kemeriahan Festival Tepi Sawah di hari pertama. Penampilan kolaborasi Trie Utami, Dian Pratiwi, Matthew Sayersz, Nita Aartsen dan Fascinating Rhythm secara jamming membuat penonton juga bersenandung dari tempat duduknya. Masih dengan latar sawah, boleh dikata, ajang ini seperti lagu-lagu panen yang dinyanyikan para petani ketika menyaksikan pada berkuningan. Petani itu, boleh jadi, adalah kita semua yang menyaksikan Festival Tepi Sawah 2018. (T/*/Pranita Dewi)
Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja
SEWAKTU-WAKTU, ketika sedang bersama saya, jangan heran jika saya curahi cerita. Biasanya, judul yang mengemban kandungan cerita itu tak cukup sabar tetap tersimpan dalan vestiaire...
PERNAH nunu urutan setiap pagi menjelang sekolah, pada masa-masa usai libur Hari Raya Galungan dan Kuningan? Jika pernah, masa kecil Anda dipastikan sederhana namun bahagia. Nunu...
"PANJEKAN" mungkin asal muasal kata "panjak". Biasanya prekanggo atau wong kuasa duduk didampingi anak buahnya yang dijadikan "injakan kaki" (panjekan). Lihatlah, foto yang dipasa...
GEGURITAN Galungan (karya IB Putu Bangli) yang penulisannya bersumber dari Lontar Parerembon (milik Ida Pedanda Gede Made Sidemen, Gria Taman Sanur), menuturkan bahwa tra...
SEBAIKNYA di sini kita tidak membahas sloka, lontar, mantra atau Veda. Di zaman informasi yang demikian derasnya, ketidakpedulian hanyalah sebuah pilihan. Hal-hal yang bersifat pen...
HARI Raya Galungan dan Kuningan tentu saja disambut bahagia semua umat Hindu di Bali. Namun, tak begitu dengan sejumlah anggota Dewan, DPRD, DPD atau DPR. Meski tetap tampak bahag...
BAGI umat Hindu di Indonesia, terutama di Bali, Hari Raya Galungan dan Kuningan tentu menjadi hari raya yang paling ditunggu-tunggu. Hari raya ini diperingati setiap 6 bulan sekali...
Saya adalah salah satu dari banyak orang yang sangat menikmati momen KKN, meski saya tidak mengetahui detail kisah KKN kalian satu per satu tapi saya berusaha mewakili rasa rindu k...
GALUNGAN kembali tiba. Sebagian orang mungkin akan bersemangat mendengarnya karena merupakan hari raya besar yang ditunggu-tunggu. Sembahyang, mungkin hanya satu alasan. Ada banyak...
Cerpen: Fatah Anshori "Dalam tradisi Yahudi empat puluh hari sebelum, bayi lelaki dilahirkan. Dilangit ada suara yang meneriakkan siapa wanita yang kelak akan di kawininya. Aku tah...