Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Samadi[/caption]
Samadi yang bernama lengkap Mardi Yitno Utomo, merupakan pembuat topeng dari Bobung, Putat, Patuk, Gunungkidul. Sedini muda ia telah menekuni kerajinan di Bobung. Dia adalah salah satu penerus tradisi pembuatan topeng Panji yang masih tetap berkarya. Dia berharap tetap bertahan untuk melestarikan pembuatan topeng klasik.
“Dengan kesenian dan aktivitas masing-masing, mereka menyuarakan suara rakyat. Mereka berkesenian yang berorientasikan pada rakyat. Akan tetapi mereka berupaya memberi makna pada kehidupan bagi orang-orang di sekitarnya” ungkap Frans Sartono, Direktur Program Bentara Budaya.
Selain di BBB, program penghormatan serupa digelar pula di 4 venue lain: Bentara Budaya Jakarta, Bentara Budaya Yogyakarta dan Balai Soedjatmoko Solo berupa pertunjukan, pameran, diskusi, workshop, pemutaran dokumenter dan lain-lain yang mengedepankan capaian seni dan dedikasi mereka selama ini.
Adapun Pameran Topeng karya Samadi di BBB akan diresmikan oleh Prof. Dr. I Wayan Dibia, SST., MA. Selain itu dihadirkan pula pameran foto sosok Luh Menek karya fotografer Doddy Obenk. Eksibisi akan berlangsung hingga 3 Maret 2018 mendatang, disertai juga workshop & demonstrasi membuat topeng, Minggu (25/2) dan Senin (26/2), pukul 14.00 WITA.
[caption id="attachment_8187" align="aligncenter" width="571"]
Beberapa topeng karya Samadi[/caption]
Turut memaknai pembukaan, akan tampil Pertunjukan Tari Teruna Jaya oleh Luh Menek, diiringi Sekaa Gong Pinda pimpinan Ketut Cater serta pemutaran dokumenter.
Anugerah Bentara Budaya sebelumnya juga pernah diberikan pada 10 Pengabdi Seni Budaya, tahun 2012 lalu, antara lain kepada : pelukis Sulasno (Yogya), Ni Nyoman Tanjung (Bali), Anak Agung Ngurah Oka (Bali), Pang Tjin Nio (Jakarta), Rastika (Cirebon), Sitras Anjilin (Magelang), Mardji Degleg (Jawa Timur), Dirdjo Tambur (Yogyakarta), Hendrikus Pali (NTT) dan Zulkaidah Harahap (Sumut). (T)
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...