Puisi-puisi Angga Wijaya# Sanur, Serenade, Sanghyang Ambu

Angga Wijaya
by Angga Wijaya — Februari 14, 2018 in Puisi

Tatkala.co
SANUR Apa yang kukenang darimu Ayah mengajakku ke sini sewaktu kecil dulu, libur sekolah ke luar kota Ayahku sopir taksi Dibawanya aku berkeliling Siang hari pergi ke Sanur Berteduh di pinggir pantai Sebotol teh temani kami Ombak jilati kenangan Ayah baru saja dapat tamu Kabar gembira bagi ibu dan kakakku di kampung Kami jadi bisa bayar SPP Setelah lama menunggak Namun ada kabar sedih Ayah akan di-PHK Perusahaan kolaps Ayah dan kawan-kawan berdemo tuntut keadilan Nasib kami di tangan korporasi, kaum buruh selalu kalah dan mengalah 2018 SERENADE Restoran ramai pengunjung. Lagu Sayang Via Vallen sayup-sayup terdengar. Di sudut ruangan anak-anak bermain riang. Jemarimu menari di laptop, menulis entah apa. Tahun baru telah berlalu. Setelah pesta di malam penghujung tahun kita kembali berjumpa dengan rutinitas, kecemasan dan kegelisahan. “Sudahkah kau bahagia hari ini?” Pertanyaan janggal dari seorang kawan yang baru berpisah dengan istrinya. Sebab kebahagiaan itu datang dan pergi maka itu aku tak terlalu percaya padanya. Kau ingin aku meramal masa depanmu. Kubuka kartu tarot, kulihat pedang berhamburan dari dalam kartu dan aku menjelma pangeran yang patah hati. Sudahlah, masa depan itu nisbi, semua tergantung saat ini. Apa yang kau tabur itu yang akan kau tuai. Kau lalu memeluk dan menciumku lalu bergegas mengajakku pulang. 2018 SEUSAI PERAYAAN Pesta telah usai. Simpan puja-puji yang kau terima, itu cambuk melecut kreativitas, bisa juga menjadi candu; kau menatap bayangmu sendiri dan jatuh cinta padanya. Saatnya kembali ke dunia nyata; tumpukan buku berdebu, uang menipis, kekasih menunggu jemputan dan kucing yang merajuk saat kau pulang. Minum obatmu, agar kau bisa tidur nyenyak dan tak terjaga hingga pagi menjelang. Tulis puisi untuk hilangkan gelisah, puisi yang tak selalu sendu. Tak perlu kau tunjukan wajah sedihmu, mereka akan tertawa karena cinta makin hilang di dunia yang kejam ini. Pergilah ke mana hatimu ingin melangkah. Pulang ke rumah yang selalu terbuka bagi jiwa lelah dan terluka. Orang-orang menyukai kepolosan, bagai kanak-kanak belum mati dibunuh ambisi. Kembali menginjak bumi, disini dan sekarang, tak risau akan masa depan dan sesal masa lalu. Bergembiralah! Kabarkan cinta di setiap kata yang kau tulis. Dunia sepi tanpa penyair, pejalan sunyi yang berumah dalam hening. 2018 SANGHYANG AMBU Sepasang kera menatap tajam Saat kakiku tiba di warung Kuhirup kopi dan udara perbukitan Di sini, gunung dan laut begitu dekat Alam indah menarik pelancong Datang dan pergi, bawa kenangan sepetak surga di negeri tropis pada kartu pos yang dikirim ke negeri jauh, kabarkan matahari tak pernah padam atau pantai perawan tak terjamah Kudengar kesedihan Tamu sepi karena erupsi Periuk nasi tak terisi Ekonomi hampir mati Orang-orang pergi Menjadi pengungsi Tinggalkan desa Sunyi-sepi terasa Aku tak bisa menjawab Aku tak tahu pasti Pariwisata membuat banyak pemuda bermimpi pindah ke kota hanya untuk menjadi pencuci piring restoran atau pembersih kamar Petani tak lagi diminati Sawah-sawah dijual Demi gengsi dan tradisi Entah sampai kapan ini terjadi 2018
Tag: Puisi
Avatar

Angga Wijaya

Related Posts