Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
***
Segelas air putih kuminum sekali teguk, tandas. Itu sebab aku kehausan. Bukan sebab aku habis olahraga. Perihal aku minun, sebab aku memutuskan berhenti untuk mengejarmu—seperti sebuah lagu, ‘semakin kukejar, semakin kau jauh. Tak pernah letih...’ tidak, aku benar-benar letih—ya, aku berhenti. Dua laki-laki baik itu rupanya juga mendekatimu. Apalah aku jika bersaing dengan mereka. Tak bisa. Aku bakal kalah saing. Maka, dengan berat hati aku memutuskan, aku berhenti untuk mengagumimu. Dan aku mulai berharap, jika memang kau tulang rusukku, maka kau akan kembali pada tubuh ini. Nah, dalam berharap pun, bisa-bisanya aku masih mengutip lirik sebuah lagu. Aku memang tak pantas untuk bersamamu. Kau tahu, tak ada yang lebih sakit daripada mengalah berjuang untuk mendapatkan gadis pujaannya. Dan aku, mengalah sebab kedua laki-laki itu temanku sendiri. Kau harus tahu itu. Sebenarnya, kalau aku boleh sombong, aku masih sanggup untuk bersaing dengan mereka. Tapi apa gunanya aku mendapatkanmu dengan cara menyakiti hati orang lain. Biar. Biar aku saja yang sakit, mereka jangan.***
Ada malam-malam yang aku harus jalani sendiri. Seperti kebiasaanku, melihat bintang dan memberinya nama satu-satu. Itu, bintang yang paling terlihat besar dan paling terang bercahaya, kau tahu, aku memanggilnya percis ketika aku memanggilmu. Hadirnya bintang itu, menandakan bahwa sebenarnya dunia ini hanya sebuah kegelapan. Seperti lampu neon di kamar kontrakanku yang sudah mulai redup. Entah. Aku pikir, lampu noen itu seperti manusia, punya kehidupan: ada kalanya semangat bersinar dan ada kalanya tidak semangat bersinar. Rak buku, lemari plastik warna biru, buku-buku, jendela yang menatap iba dan tak terbuka, pintu yang sendari tadi menolak untuk menutup, baju berserakan, adalah bukti kekalahanku. Tentang kamu dan gagalnya dua lelaki yang mendekatimu. Bodoh, sial. Rupanya dua lelaki itu kandas sebelum memilikimu. Penyesalan memang datang belakangan. Kenapa aku tidak menolak tatkala sebelum aku memutuskan untuk berhenti. Bajingan betul perasaanku waktu itu. Perihal aku saat ini: kalah untuk kedua kalinya. Dua lelaki itu sirna. Seorang lelaki datang lagi padamu disaat aku mulai merancang, mereka-reka dan mencipta untuk kembali mengagumimu lagi. Sialan betul. Padahal, aku sudah mulai kembali meneruskan sketsa wajahmu yang sempat terbengkalai dalam otakku di kala respon pertama kali tatapan kita satu jurusan. Di himpunan, ada kenangan yang mengambang. Tepat di samping ruangan di mana aku menyimpan nama kedua orangtuaku. Namamu. Tertulis dan tersimpan rapi di sana. Ada air mengalir di sana, airnya bagus. Bagiku sendiri, itu adalah air yang paling menyegarkan di dunia ini. Ya, itulah yang orang sebut: kebahagiaan. Dan kebahagiaan itu adalah kamu. Perkah kau mencoba melihatku di sini waktu itu? pertanyaan yang aku tanyakan kepada diriku sendiri. Mulutku seperti terkunci ketika aku sudah berada di depanmu. Aku ingin mengumpat. Menyumpah serapahi diriku sendiri. Aku betul-betul hina. Bagaimana mungkin aku kembali mengatakan, aku berhenti untuk mengagumimu. Yang kedua kalinya. Cukup. Entahlah. Seseorang yang mendekatimu saat ini juga temanku juga. Seperti yang sudah tertulis, sebenarnya, kalau aku boleh sombong, aku masih sanggup untuk bersaing dengan mereka. Tapi apa gunanya aku mendapatkanmu dengan cara menyakiti hati orang lain. Biar. Biar aku saja yang sakit, mereka jangan. Dan aku kembali berharap, jika memang kau tulang rusukku, maka kau akan kembali pada tubuh ini. Nah, dalam berharap pun, bisa-bisanya aku masih mengutip lirik sebuah lagu. Aku memang tak pantas untuk bersamamu.***
Tetanggaku, ibu paruh baya itu, masih menyapu halamannya. Suara sabu lidinya masih mengambang. Bayangan ibu masih terlihat di sana. Tapat. Seperti merasuki ibu paruh baya itu. Dan di sana, bayanganmu pula terlihat jua. Kau, gadis sederhana, kata ibuku. Saat ini tak capek aku untuk mengejarmu. Sebab, kau sudah ada di pelukanku. Tinggal aku dan kamu membangun konsisten. Mau sampai mana dan mau dibawa kemana hubungan kita—maaf, Om Armada, aku kutip bentar, demi kekasihku. Sekarang, bintang yang paling besar dan paling bersinar terang itu benar-benar kupanggil namamu. Dengan lantang. Jujur. Bangga. Sebab, kau memang memilihku dari sekian banyak yang mendekatimu. Entah karena apa. Cinta tak butuh alasan, cinta lebih butuh balasan, katamu. Apakah kau tahu, mengapa ikan-ikan di lautan tidak merasa kedinginan bahkan tanpa sehelai benang pun yang menutupi kulitnya? Ya, mereka kuat bertahan seperti itu karena semuanya di dasari yang namanya keyakinan. Rambutmu meyakinkan, alismu, matamu, pipimu, bibirmu, semua tentangmu telah meyakinkanku, membawaku ke alam lamunan dan mengurungku di sana. Kamu adalah perpaduan wanita-wanita tercantik di dunia. Di satu sisi aku menyebutmu Cleopatra, bukan. Sebab, di sisi lain, ternyata kau lebih mirip Drupadi, ah... tidak. Sepertinya kau lebih pantas aku panggil Srikandi. Sial, tidak juga. Ah... benar, kau memang perpaduan antara mereka. Kau, kekasihku. Yang aku dapatkan dengan sungguh-sungguh. Kaulah satu-satunya. Dari beribu bintang yang bersinar, tapi hanya kaulah yang paling terang. Namun sayang, cintaku padamu tidak membutuhkan suatu sebab—mau bersinar atau tidak—ia terjadi begitu saja. Mendapatkanmu bukan hanya perihal bahagia saja ternyata, ketakutan juga hadir bersamanya. Aku menggigil, gemetar, dan dihadapkan pada ketakutan luar biasa: kehilanganmu. Ya, membiarkanmu hilang adalah suatu kebodohan yang nyata. Mungkin, jika tidak ada keinginan melihatmu esok hari, aku mati sekarang juga. kekasihku, tetaplah bersinar, walau mentari telah mengalahkanmu. Sebab, bintang itulah kekasihku. (T)
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
PADA zaman maya saat ini, seorang remaja tanpa menyentuh gadget atau handphone selama satu hari saja sudah termasuk hebat. Tapi di Desa Bungaya, Karangasem, Bali, ratusan remaja pu...
KESULITAN terbesar saya ketika harus membicarakan sajak-sajak Nuryana Asmaudi SA yang terkumpul dalam buku "Doa Bulan untuk Pungguk" (DBUP) adalah upaya menghilangkan bayang-bayang...
JIKA ingin melihat sejati-jatinya festival yang jujur, tanpa pesan ini-itu, tanpa pidato ini-itu, tanpa kampanye ini-itu, tanpa bau politik dan kekuasaan, tanpa EO dan panitia over...
MAHASISWA adalah sebutan untuk “siswa” dengan tambahan kata “maha” di depannya. Maha artinya besar. Mahasiswa tentu bukan lagi siswa biasa. Kehidupan siswa bisa bergantung pada or...
Cerpen: Made Adnyana Ole TUBUH mungil gadis itu ditusuk pedang cahaya ketika sinar purnama menerobos di sela ranting gaharu. Cahaya memantul dari tubuhnya hingga hutan kecil di tep...
IGAU andaikata rumput berwarna merah muda, sapi-sapi mungkin saja berwarna jingga. dan kau berdiri di atas batu kuning mengenakan sepatu hijau, menembaki aku dengan senapan buru l...
MASA KKN (Kuliah Kerja Nyata) kini sudah usai. Acara perpisahan di balai desa atau di lapangan umum sudah digelar dengan meriah, penuh canda sekaligus haru. Namun, setelah KKN buba...
MENYELENGGARAKAN ngaben megah menghabiskan banyak uang, diurus oleh beratus-ratus orang dengan uang ratusan juta rupiah, adalah salah satu contoh, betapa orang Bali senang sekali m...
BERBICARA sebagai orang awam, sembari turut menilai fenomena dan paradigma tentang berbagai hal yang terjadi di masyarakat, tentu dengan guyonan ringan ditambah dengan sruputan kop...