"Catatan Pulang" Penyair Angga Wijaya, Catatan Seorang Pengagum

Radita Puspa
by Radita Puspa — Februari 03, 2018 in Ulasan

Tatkala.co
PERTAMA-TAMA, sebelum saya membahas buku kumpulan puisi ini, saya ingin menceritakan bagaimana pertemuan saya dengan Pak Angga (selanjutnya saya sebut Angga saja). Jauh sebelum saya mengenal langsung, maaf, maksud saya bertemu atau bertatap muka. Saya cukup familiar dengan nama Angga Wijaya ini. Saya sudah menemukan cukup banyak tulisan-tulisannya. Kebetulan, saya gila baca. Hampir semua media online (baik itu dari jurnalis atau netizen) semacam Tatkala, Hipwee, Qureta, Mojok, Balebengong, dan Basabasi. Waktu saya habis hanya untuk baca dan baca. Hanya media online terpercaya inilah yang dapat menghibur hari-hari saya yang (katakanlah) jobless, pun saya belum mampu membeli buku-buku karya para penulis idola. Saya cukup punya beberapa nama penulis yang gak pernah saya lewatkan, pun selalu saya tunggu tulisan-tulisannya. Contohnya, kalau saya lagi ingin baca yang rada menggelitik, saya akan buka Mojok dan mencari tagar Agus Mulyadi. Kalau saya ingin baca yang agak berat, saya akan cari di Basabasi, atau sekedar hiburan di Tatkala. Atau mau baca berita, paling asique, ya di Balebengong. Untuk puisi, kebetulan saya orangnya malas ribet, malas mikir, malas nyerna. Banyak puisi sastra yang cuma bikin saya pusing, karena gak mengerti isi atau makna puisinya. Atau memang apa daya otak tak sampai? Atau pernah juga saya menemukan puisi yang saya suka, tapi kalau diminta menjabarkan kisah di balik puisi, saya suka angkat tangan. Dan puisi yang cukup bisa saya pahami dan mengerti kebetulan nemu punyanya Angga. Puisi karya Angga di mata saya cukup sederhana, tapi tetap kudu diperhitungkan. Karena apa? Ya bahasa dalam puisinya mengalir. Dikatakan puisi, mungkin agak ke sajak, dikatakan sajak, eh ini puisi bukan ya? Puisi Angga yang saya baca selama ini benar-benar seperti bercerita, padahal ini hanya puisi, rangkaian kata singkat. Tapi mampu menerangkan atau menggambarkan pokok bahasan. Terlebih bahasa yang dipilih oleh Angga cukup mudah dimengerti. Dan membaca puisinya, saya merasa seperti diceritakan sebuah kisah. Oh iya, ada sedikit cerita menarik dari pertemuan saya dan Angga. Ibu sayalah yang sebenarnya lebih dulu mengenal Angga. Waktu itu, Ibu sedang menggulung koran di Rumah Berdaya. Angga menghampiri Ibu lalu bertanya, "Bu, Ibu pasien sini ya?" Ibu menjawab, "Nggih, saya membantu di sini." Saya waktu itu jengkel pada Ibu, dan mengatakan bahwa Angga yang Ibu kenal itu kemungkinan besar tidak lain adalah Angga Wijaya, penulis puisi dan essai yang gak pernah saya lewatkan. Nah, beberapa hari berselang, saya berkesempatan bertemu dengan Angga. Ibu iseng nyeletuk, "Pak, Bapak pasien sini ya?" Dengan santainya Angga menjawab, "Ya.". Jawaban 'Ya' tersebut saya pikir hanya bercandaan. Angga adalah salah satu alumni Rumah Berdaya. Awal obrolan kami, saya cukup kesulitan berbicara dengan Angga. Ia tidak seperti di tulisan-tulisannya yang saya baca. Saya berusaha mengimbangi pembawaan bicaranya yang putus-putus. Hingga saya berhasil mengobrol panjang lebar dengannya. Kami punya topik yang cukup asique untuk dibahas. Kitapun berteman via facebook. Dan, cuma Angga lho yang di awal pertemanan sudah blak-blakan bilang saya (asli) dan di foto profile facebook kok beda? Padahal saya gak pernah sampai hati membohongi teman maya dengan aplikasi percantik foto. Tapi setelah ceki-ceki, oya iya beda. Foto facebook saya saat itu foto yang terjepret tahun 2015. Saya jarang ganti foto. Jadilah dari percakapan itu, saya mulai baper dan mengganti foto FB secara berkala maksimal 1 bulan sekali. Baik lanjut ke buku karya Angga. Buku ini desain cover-nya cukup menarik. Ada kesan tersendiri pada sampulnya. Menggambarkan tiga orang anak kecil bermain ombak di pantai. Anak-anak ibarat tanpa beban. Sesulit apapun yang mereka rasa, tetap bisa tertawa lepas. Tidak ada kata permusuhan di hati anak-anak. Membahas anak-anak, mengingatkan masa kecil saya dulu. Saya terlahir berbeda, tapi tidak pernah merasa 'perbedaan' itu beban. Meski sudah diberi tahu, sudah diwanti-wanti tidak boleh begini, begitu, ina, inu, endebrew. Seperti bukan masalah, toh hanya beda sedikit. Barulah ketika dewasa, mulai mengerti. Mulai tau rasa down. Mulai belajar menyikapi diri, menata emosi dan acceptance. Suasana di cover menggambarkan keindahan matahari terbenam atau senja yang telah lewat. Warna langit biru kelabu. Abu-abu. Sedikit muram. Di mana gelap bagi orang pada umumnya, seolah menggambarkan bahwa gelap melindungi kita dari kelelahan. Gelap bagi saya pribadi adalah serupa inspirasi-inspirasi liar yang hendak tumpah. Bagai pikiran, ide dan imajinasi yang siap untuk dilepaskan menjadi sebuah karya. Dari gambar pantai ini, saya menyimpulkan tentang kembali ke alam. Pulang. Pulang adalah keindahan yang tak ternilai. Berharga mahal yang tidak bisa ditukar dengan apapun. Begitupun debur ombak, seakan bercerita, jika kita kuat seperti batu karang, kita akan tegar menghadapi ujian. Bila tidak mampu bertahan, kita akan terseret. Terseret disini bagi saya adalah hanya sebagai kata pengganti 'penerimaan diri'. Biar, biarlah mengalir. Kita memang berbeda dan akan tetap berbeda sekuat apapun keinginan untuk pulih. Pulang, pulanglah! Kebahagiaan ada saat kembali. Buku ini tebalnya 90 halaman. Tidak ada oretan pada layout, jadi para pembaca tenang saja. Kalian bisa baca dengan fokus puisi-puisinya tanpa terganggu oleh ornament tata letak yang biasanya menghiasi latar buku. Berisi sejumlah 67 puisi (semoga gak salah hitung). Penerbit: Pustaka Ekspresi bekerja sama dengan : KPSI SIMPUL BALI dan Rumah Berdaya. Sampul oleh: Wayan Martino. Tata Letak: Phalaya Suksmakarsa. ISBN : 978-602-5408-17-5. Cetakan pertama, Januari 2018. Berikut saya tampilkan beberapa judul puisi dalam buku ini   KENANGAN DI RUMAH SAKIT JIWA   Kopi di sini nikmat sekali dibawakan tiap pagi menjelang "kopi, kopi, kopi," suaranya bangunkanku dari mimpi kami minum bersama ada yang meminumnya saat panas, tanpa takut terbakar   orang-orang menyebut kami gila, dan kami menyangka merekalah penyebab kami berada di rumah sakit ini di ruangan berterali bersama orang lain yang juga disebut gila   matahari meninggi saatnya mandi lalu makan dan minum obat sementara ruangan dibersihkan dari segala kotoran dan serapah, juga tangis kami semalam   aku tak tahu sampai kapan di sini rinduku pada rumah semakin menebal ingin sekali menelpon “kapan kemari menjemputku, kalian membiarkanku membusuk bertahun-tahun di tempat asing ini”   kudengar kabar pasien yang lari atau bunuh diri sebab hidup tak penting lagi tak ada cinta untuk kami (2017) ---halaman 89.   NOCTURNO   Daun-daun menguning Kenangan membiru Lebam oleh waktu   Dimanakah kita bertemu Di ranjang atau kuburan Tempat segala usia Berakhir semestinya   Aku merindukanmu, Ibu Maafkan aku tak bisa Membuat kau bahagia Sakit ini merenggut Mimpi dan harapan   Beban kupikul sendiri Kadang aku tak kuat Tapi Tuhan baik Kirimkan aku gadis Merawat dan menjagaku   Ibu suruh Tuhan? Terima Kasih, Ibu Aku berjanji Giat bekerja Suatu waktu Kita bertemu Lahir kembali Kulihat Ibu Dalam mata Anakku (2017) ---halaman 83 . MANUSKRIP DIRI   Aku sulit mengingat nama anak-anak Aku lebih suka menatap mata mereka Mata yang penuh kepolosan dan keluguan Juga tawa mereka yang lepas   Bersamamu Aku menjadi kanak-kanak lagi Berlari sambil tertawa Melewati hari-hari yang semakin biru   Adakah kau lihat bahagia Di mataku Di sekujur tubuhku Kasihmu membuatku bangkit Hari-hari yang kelam Kini berganti rupa   Wahai Kekasih Mari mengucap doa Semoga perjalanan kita abadi, meski keabadian Milik Sang Khalik semata (2014) ---halaman 77.   SEBELUM PULANG   “jangan pulang kita ngobrol dulu,” ucapmu   malam berjalan lambat jalanan riuh. kita menatap jendela berembun   orang datang dan pergi restoran sebentar tutup kau enggan beranjak ingin mengabadikan perjumpaan kita bukan dengan gambar diambil dari ponsel seperti pasangan remaja genit dan kasmaran melukis malam di pundak waktu seakan tak ada hari esok   sebelum pulang kulihat diriku di tajam matamu terbakar api cintamu! (2016) ---halaman 67/68.   SKIZOFRENIA-3 Isap dan hembuskan rokokmu, agar dunia tahu kita masih ada. Melukis di atas kanvas, tuangkan gelisah dan laramu. Petik gitarmu dan nyanyikan lagu perlawanan. Jika kau lelah tidurlah, biarkan obat yang kau minum bekerja. Jangan pedulikan mereka yang tak peduli padamu. Kita orang terbuang, mereka lelah bersamamu dan membiarkan kau membusuk bertahun-tahun di rumah sakit jiwa. Jangan takut pada malam. Semua akan berlalu seiring pagi menjelang. Ingatlah bahwa duka adalah penawar rasa sakitmu. Menangislah! Bukan untuk dikasihani melainkan untuk bangkit kembali. Mari ber-ria, mari bersuka. Menarilah di bawah rembulan, di malam-malam saat sepi mencekikmu. Alam semesta bersamamu. Kawan abadi bagi setiap luka. (2017) ---halaman 43.   SKIZOFRENIA-4 kepada Virginia Woolf Suara-suara itu berbisik di telingaku. Aku tak kuat lagi, kegilaan ini menyiksaku. Tokoh dalam bukuku seakan hidup dan aku ada di dalamnya. Kau dengar, aku mulai berbicara sendiri, meracau tentang sesuatu yang tak kumengerti. Aku berpikir untuk bunuh diri. Maafkan aku, mungkin ini jalan terbaik untuk mengakhiri semua. Jalan menuju desa sepi pagi itu. Daun-daun gugur, burung berkicau dengan riang. Sungai di dekat rumah kita mengalir deras. Air berwarna kecoklatan, hujan semalam membawa lumpur dan keruh. Aku bergegas memakai jaketku dan membuka pintu menuju ke sana. Bisikan di telingaku makin keras dan menyuruhku mengakhiri hidup. Aku tak tahan lagi. Menuju sungai, aku mengambil batu dan kumasukkan ke kantong jaketku lalu masuk ke dalam air. Sesaat aku tercenung, sebelum tenggelam ke dasar sungai. Kesunyian yang amat sangat. (2017) ---halaman 84.   SENJA DI BUKIT KAPUR   layang-layang tak bisa bisa pulang mungkin juga aku sendiri di tempat ini   percakapan kian hambar terlempar dadu waktu ujian tak berperi tertancap di pori-pori   adakah kejujuran pada kita pada semua tanya di mata   O, Keabadian ajak aku menujumu semesta raya semesta jiwa   (Bukit Jimbaran, Juli 2011) ---halaman 46.   RENDEZVOUS :Reda   perjalanan ini semoga tak sekadar persinggahan   seorang turis menyenangi negeri eksotis mampir di setiap tempat pada waktunya akan pergi melupakan nama juga tempat yang disinggahi   pernah aku berkelana ke negeri jauh lupa jalan pulang tersesat di hati perempuan yang kemudian meninggalkanku   aku tak ingin jatuh lagi percakapan kita membuatku paham arti kehadiran pejalan asing di negeri asing singgah hanya singgah di hati kita yang sepi tanpa tepi.   (Negara, 11 Maret 2014) ---halaman 30.   CARI TUHAN   Seperti kesurupan Orang-orang mencari tuhan Di dawai doa Di debur ombak Di sunyi hutan Di lemari es Di hingar diskotik Di puncak birahi "Di mana tuhan?" teriak mereka lelah Sambil merobek dan membakar Kitab sucinya   Di balik nurani, nurani, nurani Tuhan tersenyum Menatap lubang jendela (2003) ---halaman 7. Tak perlulah saya jabarkan puisi demi puisi ini, kalian pasti bisa dengan mudah memahaminya. Lagipula siapalah saya? Saya bukan sastrawan, bukan juga kritikus sastra. Saya hanya penikmat karya sastra yang juga gila menulis, gila membaca, dan gemar bercerita. Oh iya di cover belakang tertulis sebuah penggalan : . . . . berapa kelok lagi mesti kutempuh untuk sampai padamu jarak terasa jauh   ingatan melekat mesa laluku perbincangan kita menggantung senja yang muram   celoteh anak-anak bangunkanku dari mimpi . . . . (yang penasaran versi utuhnya bisa dicek langsung halaman 49, judulnyaaa... ehmp, kasi tau gak yaaa?) Wah, rangkaian kata yang cukup mendalam. Saya bahkan tidak perlu berulang kali baca untuk memahaminya. Karena kata-kata yang ditulis cukup mudah untuk dimengerti. Saya tidak pernah menyangka Angga Wijaya yang tulisannya selama ini saya kagumi adalah salah satu bagian dari Orang Dengan Skizofrenia (ODS). Saya pikir ucapan kalimatnya yang terputus-putus hanya sebuah kerendahan hati. Tidak ada yang berbeda darinya. Dan saya juga tidak mau menilai orang hanya dari satu sisi. Angga di mata saya, cukup beruntung menemukan jalan, menemukan cara untuk memulihkan diri. Bonusnya adalah kini menulis menjadi bagian hidupnya. Banyak karya tulisnya dimuat di koran lokal. Bisa ditemukan juga di beberapa media online. Oh iya, buku ini tidak sepenuhnya berisi atau membahas tentang skizofrenia. Ada banyak judul berbeda di buku ini. Ada yang rangkaiannya hanya terdiri dua kata di tiap baitnya. Ada yang hampir melebihi satu halaman, adapula yang satu kalimat penuh. Buku ini merupakan kumpulan puisi Pak Angga selama 16 tahun (2001 s/d 2017). Puisinya bagi saya cukup ringan tapi tidak remeh. Cocok bagi kalian yang malas mikir kayak saya tapi maunya tetap yang berbobot. Mungkin banyak karya puisi sastra di luar sana yang rangkaian katanya sangat indah dan njelimet. Tapi pada puisi karya Angga Wijaya ini, saya menemukan bahwa kita bisa bercerita dengan menggunakan sebuah kesederhanaan kata dan cara yang sangat serderhana. Saya suka keunikan dari gaya penulisan Angga. Saya jatuh cinta sejak pertama kali membaca karyanya. Akhir kata sebagai penutup, saya berpendapat, bahwa karya yang menyentuh hati ---yang sampai ke para pembaca, ia adalah PEMENANG-nya. Sekali lagi selamat dan sukses untuk Angga Wijaya, selamat atas launching-nya buku kumpulan puisi "CATATAN PULANG" ini. Terima kasih untuk bukunya, terima kasih juga untuk bonus kalimat super menyentuh, "Puisi adalah tempat pulang yang hakiki" beserta tanda tangannya. Tetaplah (pertahankan) menjadi penulis unik dengan ciri khas kuat, yang jika orang menemukan tulisan Anda tanpa membaca nama, mereka bisa menebak siapa penulis dibalik tulisan tersebut. Oh iya, satu lagi. Bagi yang berminat dengan buku "Catatan Pulang karya Angga Wijaya", bisa hubungi (contact person) fanspage facebook @ Rumah Berdaya (bisa datang ke RUMAH BERDAYA DENPASAR yang beralamat di Jalan Hayam Wuruk No. 179, Sumerta Kelod, Denpasar Timur, Bali 80239) atau obrolin langsung orderan kalian ke penulisnya juga bisa banget di facebook @Angga Wijaya. "RumahKU... Tempat hatiku berlabuh Sepi disini tanpaMU Oh aku ingin pulang BersamaMU, aku... Tenang..."   Denpasar, 21 Januari 2018 08.21 wita Ditulis sambil mendengarkan lagu online (by youtube) di HardRock.FM Rumahku-Gita Gutawa (lagu yang beberapa penggal liriknya memiliki 'makna' tersendiri bagi saya pribadi, khususnya). (T)
Avatar

Radita Puspa

Related Posts