Baduy Luar, Etalase Pariwisata Banten
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
*
Saya tidak hendak membicarakan pemakaian terobosan IT dan alat-alatnya yang terasa lebih marak pada jaman ini. Itu bukan masalah bagi saya. Yang lebih membuat saya galau adalah sejenis ketidakmasukakalan manusia di-era digital ini. Seperti apa yang dituliskan Pak Iqbal Aji, beginilah teknologi datang kepada kita. Ia menawarkan efektivitas dan efisiensi, namun melenyapkan hal-hal lama yang kadang membuat kita menikmati takdir sebagai manusia. Lalu dengan keterikatan dan ketergantungan kepada teknologi, masihkan kita untuh dalam kemanusiaan kita? Pertanyaan yang lebih mendasar lagi bisa saja diajukan: Apakah itu manusia? Benarkah komputer lebih rendah derajatnya daripada manusia, sehingga kita mesti resah dengan perubahan nilai dan segenap gejalanya? Atau, jangan-jangan kita ini juga Cuma robot, yang bisa menciptakan robot-robot lain yang bakalan mengganggu eksistensi para robot lama? Jian tenan, dan ternyata, wabah seperti ini bukan hanya terjadi pada anak yang sedang saya amati tadi, ketika saya pulang, adik saya, teman saya, dan bahkan Anda pun tanpa disadari telah mengalamai in-rasional seperti ini. Wabah seperti ini menyerang kita secara halus, pelan tapi pasti. Tanpa kita sadari kapan awalnya dan kenapa bisa begitu. Bajigur betul, kan. Mari renungkan dalam-dalam. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Apakah kita yang mengoprasikan smartphone, atau jangan-jangan kita yang dioprasikan oleh smartphone? Baik, permasalahan seperti ini, baiknya kita berbincang-bincang panjang, tertawa bersama, berdebat dengan ceria, berjumpa, berdiskusi layaknya manusia, dan menyapa satu sama lain sebagai sesama manusia.*
“Wan... makan dulu!” “Sebentar, Mak, lagi balas chat dulu.” (T)
SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami pedesaan juga merasakan nafas kemajuan s...
DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah mengatakan “pilihan kata (diksi) meng...
SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Wantilan yang biasanya digunakan...
REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di bidang pertanahan. Selama puluh...
MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir (TA) Proyek Inovatif Seni Pertunjukan, P...
DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus penjaga nilai-nilai keh...
Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata, India. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga terpelaj...
DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa...
BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang menyimak. Malam pertama Juni 2026, itul...
JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat itu adalah Buleleng. Tepat pada...