Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
*
Saya tidak hendak membicarakan pemakaian terobosan IT dan alat-alatnya yang terasa lebih marak pada jaman ini. Itu bukan masalah bagi saya. Yang lebih membuat saya galau adalah sejenis ketidakmasukakalan manusia di-era digital ini. Seperti apa yang dituliskan Pak Iqbal Aji, beginilah teknologi datang kepada kita. Ia menawarkan efektivitas dan efisiensi, namun melenyapkan hal-hal lama yang kadang membuat kita menikmati takdir sebagai manusia. Lalu dengan keterikatan dan ketergantungan kepada teknologi, masihkan kita untuh dalam kemanusiaan kita? Pertanyaan yang lebih mendasar lagi bisa saja diajukan: Apakah itu manusia? Benarkah komputer lebih rendah derajatnya daripada manusia, sehingga kita mesti resah dengan perubahan nilai dan segenap gejalanya? Atau, jangan-jangan kita ini juga Cuma robot, yang bisa menciptakan robot-robot lain yang bakalan mengganggu eksistensi para robot lama? Jian tenan, dan ternyata, wabah seperti ini bukan hanya terjadi pada anak yang sedang saya amati tadi, ketika saya pulang, adik saya, teman saya, dan bahkan Anda pun tanpa disadari telah mengalamai in-rasional seperti ini. Wabah seperti ini menyerang kita secara halus, pelan tapi pasti. Tanpa kita sadari kapan awalnya dan kenapa bisa begitu. Bajigur betul, kan. Mari renungkan dalam-dalam. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Apakah kita yang mengoprasikan smartphone, atau jangan-jangan kita yang dioprasikan oleh smartphone? Baik, permasalahan seperti ini, baiknya kita berbincang-bincang panjang, tertawa bersama, berdebat dengan ceria, berjumpa, berdiskusi layaknya manusia, dan menyapa satu sama lain sebagai sesama manusia.*
“Wan... makan dulu!” “Sebentar, Mak, lagi balas chat dulu.” (T)
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
MENGUNJUNGI Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, yang terkenal dengan adat dan budaya yang unik, bagi publik akademik di kalangan kampus, bukan hanya untuk tujuan wisata, na...
PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara yang serbacepat. Demi menghemat ene...
“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne, semengan ada bedik jumah. Nak, mekaad peteng, teka peteng. K...
Ketika diumumkan lomba dimulai, suasana ruangan mendadak dipenuhi suara riuh, sorak-sorai dan tepuk tangan sebagai dukungan dari penonton, suporter atau rekan satu hotel ataupun s...
JANGAN sepelekan tradisi menganyam. Seniman Bali, I Ketut Putrayasa membawa tradisi anyaman itu mendunia. Ia dipercaya membuat empat patung yang akan dijadikan ikon kampus di Turk...
PEED Aya atau Pawai Budaya dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 akan hadir dengan wajah baru yang lebih dinamis dan atraktif. Pertunjukan seni berjalan ini...
KEMAJUAN teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, memperoleh informasi, dan belajar. Dalam hitungan detik, seseorang dapat mengakses berbagai sumber pengetahua...
DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan, bergema meneror kedua...
LANGIT biru di atas pantai dan laut, di daerah Peninsula Island, Nusa Dua, Bali, dipenuhi warna-warni layang-layang yang menari mengikuti hembusan angin laut, Minggu 7 Juni 2026....