Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
*
Saya tidak hendak membicarakan pemakaian terobosan IT dan alat-alatnya yang terasa lebih marak pada jaman ini. Itu bukan masalah bagi saya. Yang lebih membuat saya galau adalah sejenis ketidakmasukakalan manusia di-era digital ini. Seperti apa yang dituliskan Pak Iqbal Aji, beginilah teknologi datang kepada kita. Ia menawarkan efektivitas dan efisiensi, namun melenyapkan hal-hal lama yang kadang membuat kita menikmati takdir sebagai manusia. Lalu dengan keterikatan dan ketergantungan kepada teknologi, masihkan kita untuh dalam kemanusiaan kita? Pertanyaan yang lebih mendasar lagi bisa saja diajukan: Apakah itu manusia? Benarkah komputer lebih rendah derajatnya daripada manusia, sehingga kita mesti resah dengan perubahan nilai dan segenap gejalanya? Atau, jangan-jangan kita ini juga Cuma robot, yang bisa menciptakan robot-robot lain yang bakalan mengganggu eksistensi para robot lama? Jian tenan, dan ternyata, wabah seperti ini bukan hanya terjadi pada anak yang sedang saya amati tadi, ketika saya pulang, adik saya, teman saya, dan bahkan Anda pun tanpa disadari telah mengalamai in-rasional seperti ini. Wabah seperti ini menyerang kita secara halus, pelan tapi pasti. Tanpa kita sadari kapan awalnya dan kenapa bisa begitu. Bajigur betul, kan. Mari renungkan dalam-dalam. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Apakah kita yang mengoprasikan smartphone, atau jangan-jangan kita yang dioprasikan oleh smartphone? Baik, permasalahan seperti ini, baiknya kita berbincang-bincang panjang, tertawa bersama, berdebat dengan ceria, berjumpa, berdiskusi layaknya manusia, dan menyapa satu sama lain sebagai sesama manusia.*
“Wan... makan dulu!” “Sebentar, Mak, lagi balas chat dulu.” (T)
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...