17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
*
Saya tidak hendak membicarakan pemakaian terobosan IT dan alat-alatnya yang terasa lebih marak pada jaman ini. Itu bukan masalah bagi saya. Yang lebih membuat saya galau adalah sejenis ketidakmasukakalan manusia di-era digital ini. Seperti apa yang dituliskan Pak Iqbal Aji, beginilah teknologi datang kepada kita. Ia menawarkan efektivitas dan efisiensi, namun melenyapkan hal-hal lama yang kadang membuat kita menikmati takdir sebagai manusia. Lalu dengan keterikatan dan ketergantungan kepada teknologi, masihkan kita untuh dalam kemanusiaan kita? Pertanyaan yang lebih mendasar lagi bisa saja diajukan: Apakah itu manusia? Benarkah komputer lebih rendah derajatnya daripada manusia, sehingga kita mesti resah dengan perubahan nilai dan segenap gejalanya? Atau, jangan-jangan kita ini juga Cuma robot, yang bisa menciptakan robot-robot lain yang bakalan mengganggu eksistensi para robot lama? Jian tenan, dan ternyata, wabah seperti ini bukan hanya terjadi pada anak yang sedang saya amati tadi, ketika saya pulang, adik saya, teman saya, dan bahkan Anda pun tanpa disadari telah mengalamai in-rasional seperti ini. Wabah seperti ini menyerang kita secara halus, pelan tapi pasti. Tanpa kita sadari kapan awalnya dan kenapa bisa begitu. Bajigur betul, kan. Mari renungkan dalam-dalam. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Apakah kita yang mengoprasikan smartphone, atau jangan-jangan kita yang dioprasikan oleh smartphone? Baik, permasalahan seperti ini, baiknya kita berbincang-bincang panjang, tertawa bersama, berdebat dengan ceria, berjumpa, berdiskusi layaknya manusia, dan menyapa satu sama lain sebagai sesama manusia.*
“Wan... makan dulu!” “Sebentar, Mak, lagi balas chat dulu.” (T)
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...