“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
*
Dusun Karangbinangun masih diam meskipun beberapa jenis satwanya sudah membuka mata menyambut hari baru. Kambing-kambing mulai mengembik. Kokok ayam jantan bersahutan. Burung sikatan mencicit sesekali menyambar tanah, ekor hitamnya mengembang sempurna. Dari sarangnya di atas pohon mangga keluar seekor bajing mencari pasangan. Seekor codot buru-buru melintas hinggap tepat di daun pisang yang masing kuncup. Jangkrik, orong-orong dan walang kerik sudah lama bungkam. Jangkrik menelusup lubang-lubang di pematang atau di bawah tumpukan jerami kering. Orong-orong menggali tanah, sedangkan walang kerik hinggap di dedaunan hijau. [caption id="attachment_5674" align="alignnone" width="690"]
Pertanian di Karangbinangun[/caption]
Lebah madu dengan penuh ketekunan menghimpun sari bunga. Dengungannya bak suara gong ditabuh. Datar dan halus. Suaranya mengisi kelengangan pagelaran alam. Alam yang begitu harmoni. Bau tanah. Segarnya embun yang telah menangkap datangnya pendar cahaya dari timur.
Pancaran cahaya matahari adalah sebuah kehidupan. Membangkitkan kuncup jagung. Bergeliat muncul dari dalam tanah. Sinar itu membangunkan Dusun Karangbinangun dengan menyibak kabut yang menyelimutinya. Beberapa lesung sudah terdengar. Alu memukul dengan penuh kasih dan harapan. Menutu padi, daun yang nanti akan dijadikan pembungkus makanan. Di sampingnya lelaki tua menjambret daun pisang kering untuk menggulung tembakau. Di balik tumpukan jerami di atas pematang, seseorang jongkok. Tangannya mengibas mengusir lalat yang merubung kepalanya. Dusun Karangbinangun sudah terjaga. Surga saya. Surga semua masyarakatnya.
Ya, di dusun kecil inilah saya dilahirkan. Suatu ketika, pada hari Jum’at Pon, tanggal 1 Januari 1997. Bayangkan, betapa riuhnya kala saya dilahirkan. Di belahan dunia lain kembang api meledak-ledak menyambut tahun baru. Ketika kembang api meledak, pada saat itulah saya dilahirkan.
Dalam sebuah rumah sederhana berdinding kayu berlantai tanah merah yang tak rata, Emak menjerit. Mbokwo Ngaeni, seorang dukun bayi termasyhur kala itu, membantu Emak melahirkan. Bapak dengan perasaan gusar berjalan mondar-mandir di depan pintu. Semua tegang. Pukul dua belas malam lebih sedikit bayi itu lahir, Mbokwo Ngaeni bersorak. Saya menjerit untuk pertama kalinya. Dusun Karangbinangun, bagian terkecil dari dunia, yang pertama saya lihat. Tanah yang telah mengajarkan saya tentang norma-norma, merajut satu persatu aksara dan bahasa. Emak dan bapak, dua mahluk imigran surga yang telah mengenalkan saya tentang dunia. Karangbinangun, surga bagi saya.
Sawah ladang mengelilingi dusun kecil itu. pohon-pohon bambu berjejer bak benteng yang tak dapat ditembus. Padi-padi yang masih ranum. Sebelah selatan, bukit-bukit menyambung seperti tak ada putusnya. Sebuah telaga berada tepat di tengah persawahan, dengan sebuah pohon yang menghiasinya. Sungguh, Karangbinangun, nama itu, seperti telah terajut dalam lubuk hati saya yang paling dalam. Nama tanah air saya yang kecil itu selalu memanggil kemana pun kaki melangkah.
Tapi sayang, akhir-akhir ini, surga saya yang ranum itu mendapatkan masalah. Sebuah masalah yang muncul karena egoisme kekuasaan dan kepuasan lahiriah. Sebuah sengketa, yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan rasa keikhlasan. Sengketa yang sebenarnya tidak perlu ada. Saya begitu perihatin dengan surga kecil yang ranum ini.
Bagi warga Dusun Karangbinangun, tak ada satu pun titik yang indah kecuali melihat padi menguning, jagung mengering, termasuk mentimun segar ketika ketiga (kemarau) sehat terawat. Hingga suatu hari, kericuhan itu terjadi. Sawah-sawah warga tiba-tiba sudah beralih tangan menjadi milik sebuah pabrik semen. Entah, bagaimana ceritanya, semua surat-surat tanah itu sudah berada di tangan pabrik semen. Surga kecil yang malang.
Demo warga pun tak bisa dihindarkan. Berhari-hari Abu melakukan aksi demo memimpin warga Desa Gaji – termasuk warga Dusun Karangbinangun di depan Gedung DPRD, Kantor Bupati sampai memblokade jalan menuju pabrik semen. Ya, kejadian ini memang jalas kaum sosialis yang menentang kaum kapitalis. Revolusi? Entahlah.
*
Itulah, tanah kelahiran saya. Sungguh tak sampai hati saya memandang pemuda-pemuda kuli itu. Kutatap mata mereka dalam-dalam, tapi aneh, aku tak melihat mereka karena yang kulihat adalah wajah bangsa ini, seperti dalam novel Andrea Hirata, wajah-wajah para wakil rakyat dan pemimpin negeri ini, wajah para koruptor yang tertawa-tawa di layar televisi. Ke manakah orang-orang itu? Pagi ini pasti mereka tengah mengibas-ngibaskan koran pagi sambil menyeruput teh hangat. Sayang mereka tak berada di sini untuk melihat sebuah pertunjukan sirkus. Anak manusia memanjat gedung setinggi tiga puluh meter lebih. Gedung pabrik yang mereka sebut silo, di bawahnya menganga lautan batu bara bergelora seperti api neraka, dan arwah-arwah yang menjerit meminta keadilan Tuhan. Apakah saya salah kalau saya berkata, “Tuban, Ironi kemiskinan di tanah industri?” Ah! Entahlah. Nanti saya dikira pemberontak. Saya hanya berharap, semoga surga kecil saya yang malang itu akan kembali asri seperti dulu. Tanpa ada egoisme kekuasaan, atau bahkan penindasan yang memuakkan. (T)
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
ADA semacam protes di media sosial, kenapa wayang wong, sebagai kesenian klasik adiluhung yang baru saja ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, justru dipe...
SEPAK bola kampung kini hanya fosil ingatan. Mungkin karena kampung selalu dirundung revolusi yang dialirkan zaman. Sawah-sawah, bahkan kebun yang dulu menjadi arena laga sepak bol...
KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi ka...
BEGITU puluhan penari memasuki panggung di depan Tugu Singa Ambara Raja, sore menjelang senja di Singaraja terasa lebih berwarna dari biasanya. Warna-warna itu bukan hanya memancar...
Judul Buku: Sayap Anjing (Kumpulan Cerpen) # Penulis: Triyanto Triwikromo #Halaman: 144 pages # Penerbit: Buku Kompas # Tahun: 2003 # ISBN: 9797090914 (ISBN13: 9789797090913) /...
BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gem...
Ini pengalaman ketika saya mengajar di sebuah sekolah dasar di Alor, NTT, sebagai guru dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal). SEPERTI b...
MISI belum tuntas! Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan terus bikin kegiatan. Setelah terlaksananya acara Festival Puisi Bangkalan, 20-21 Mei 2016, kini tengah bersiap-siap mengge...
SIAPA saja yang suka memuji dan mengagung-agungkan Bali, pasti bertemu subak. Mereka yang berniat mengikuti alur jejak watak manusia Bali, seyogyanya juga mengakrabi subak. Bagaima...