Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara# Irama Tubuh, Perempuan dalam Puisi

Wayan Esa Bhaskara
by Wayan Esa Bhaskara — Januari 14, 2018 in Puisi

Tatkala.co
. PEREMPUAN DALAM PUISI Dia seorang puisi dan aku mencintainya dengan cemas (siapa) pertanyaan-pertanyaan bagai hujan pada, sepotong kisah pada, sebait lagu Sedemikian terburu-burukah? sebab istanaku tanpa beranda mencipta gambar tanpa punya tinta selain senyummu, debar hatimu Coba kupahami sepotong tubuh dengan kenangan menembus rahasia yang kita tulis saban hari Nyali rubah duri jadi bunga juga bayang-bayang bernada dan film telah menua Tangannya gemetar sepucuk surat huruf berpendar dari tempat paling jauh di sini, detik tanpa keluh (2017) HUJAN DAN MALAM bermain di ujung matamu bersama laki-laki takdirmu menunggu restu kerap hujan buat malam kuyup oleh cemburu dalam ingatan redup-redup pada skenario baru waktu makin larut begitu sunyi begitu sepi tapi tak mati sekarang, tentu akan tumbuh mataku menduga-duga akan lahir dunia ketika membuka mata biarkan harapan ranting-ranting mimpi kemudian biarkan sihir angin bijak mengayun manja langkah ialah isyarat malam tetap tenang dan hujan telah matang (2017) SURAT IBU Akhir tahun ini masih keluh yang sama. Saya tak bisa pulang, Bu. Saya sibuk hitung musim. Sebab kemarau tak lagi banyak bicara. Dalam sepucuk surat. Keluh kulipat dan harap rindu-rinduku. Kawan untukmu. Saya coba berdamai dengan nasib. Syukur saya masih memiliki malam. Yang meski sama. Diberkati hujan berdendang nyaring. Saya tak bisa mengubah apapun. Hanya ini, surat buatmu. Semoga hatimu selalu merdu. (2017) IRAMA TUBUH dongeng warna merah jambu turun-temurun bagai kelambu tanpa sengaja ramu pada musim-musim tertentu ada mereka ingin petik bahkan menculik habis seluruh manis mengupasnya hingga ke sari lalu membuangnya begitu saja sabarlah oh, irama tubuh berlumur peluh riak telaga di matanya menunggu musim hujan selanjutnya yang tak loba menunggu hingga lebih dewasa (2017) KELOPAK ALISMU Lengkung pagi ini melukis pelangi di antara lekuk pelipismu usai hujan mengalir deras dari kedua bola matamu Aku mencari doa, di tepi Mei pada tiga puluh anak tangga menujumu mendongengkan jejak secangkir teh, sekitar kelopak alismu secangkir sorot yang tak pernah redup kepada siang di desa dalam kota Cerita ini tak dicatat kitab manapun hanya mengalir di jalan-jalan kecil seelok lekuk tubuhmu (2016)
Tag: Puisi
Avatar

Wayan Esa Bhaskara

Related Posts