Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
Para perupa B to B di Komaneka. /Foto: Santana ja Dewa[/caption]
I Made Susanta Dwitanaya, kurator pameran menjelaskan sepuluh perupa berpameran bersama adalah pembuktian bahwa mereka memperlihatkan semangat dan kesadaran untuk terus menggerakkan dan memupuk kebersamaan mereka dalam aktivitas kreatif bersama.
Melalui pameran ini, disamping dapat dimaknai sebagai sebentuk perayaan dari kebersamaan dan persahabatan kreatif antar perupa yang berasal dari dua wilayah yang berbeda yakni Bali dan Batu , pameran ini juga bisa dimaknai sebagai momentum bagi para apresiator untuk melihat capaian-capaian kreatif dari masing masing perupa dari dua wilayah yang berbeda ini.
Hal ini menjadi sebuah momentum untuk terjalinnya dialog kreatif dan ajang sharing gagasan dari masing masing perupa kepada publik seni rupa di Bali. Melalui pameran ini kita sebagai publik seni rupa Bali dapat melihat dan menyimak sebagian perkembangan dan pergulatan kreativitas seni rupa di Batu , demikian pula dengan para perupa Batu pameran ini adalah ajang bagi mereka untuk mempresentasikan gagasan gagasan dan capaian kreatif mereka kehadapan publik dan apresiator seni rupa di Bali.
Dalam konteks wacana seni rupa kontemporer hal ini tentu saja menjadi salah satu hal yang menarik sebab pameran ini menyajikan peristiwa untuk melihat bagaimana perkembangan seni rupa hari ini yang terpresentasikan dalam karya-karya para perupa yang tampil dalam pameran ini yang menyajikan keberagaman gagasan dan olah visual masing-masing perupanya.
[caption id="attachment_5379" align="aligncenter" width="580"]
Para pengunjung pameran B to B di Komaneka, Ubud[/caption]
Nyoman Sujana Kenyem menampilkan karya-karya termutakhirnya yang sebagian besar menghadirkan objek objek ranting pohon pada karya. Garis pada karya- karya Wayan Suastama terkadang hadir sebagai latar belakang (background) karya-karyanya berasosiasi pada suatu yang representatif semisal hujan ataupun secara artistik terlihat sebagai penegas dari gerak.
Sementara perupa lain adalah I Putu Bonuz Sudiana, I Ketut Suasana Kabul, Diwarupa, Suwandi Waeng, Bambang BP, Heri Catur Prasetya dan Rifa.
"Pameran B to B, paling penting bagi saya untuk dicatat dalam pameran ini adalah komitmen, kebersamaan, dan sikap yang terbuka dan cair yang memungkinkan terjadinya dialog. Kita diajak untuk melihat bagaimana perkembangan seni rupa dari dua wilayah yang berbeda di Indonesia," kata Susanta. (T)
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...