“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
Para perupa B to B di Komaneka. /Foto: Santana ja Dewa[/caption]
I Made Susanta Dwitanaya, kurator pameran menjelaskan sepuluh perupa berpameran bersama adalah pembuktian bahwa mereka memperlihatkan semangat dan kesadaran untuk terus menggerakkan dan memupuk kebersamaan mereka dalam aktivitas kreatif bersama.
Melalui pameran ini, disamping dapat dimaknai sebagai sebentuk perayaan dari kebersamaan dan persahabatan kreatif antar perupa yang berasal dari dua wilayah yang berbeda yakni Bali dan Batu , pameran ini juga bisa dimaknai sebagai momentum bagi para apresiator untuk melihat capaian-capaian kreatif dari masing masing perupa dari dua wilayah yang berbeda ini.
Hal ini menjadi sebuah momentum untuk terjalinnya dialog kreatif dan ajang sharing gagasan dari masing masing perupa kepada publik seni rupa di Bali. Melalui pameran ini kita sebagai publik seni rupa Bali dapat melihat dan menyimak sebagian perkembangan dan pergulatan kreativitas seni rupa di Batu , demikian pula dengan para perupa Batu pameran ini adalah ajang bagi mereka untuk mempresentasikan gagasan gagasan dan capaian kreatif mereka kehadapan publik dan apresiator seni rupa di Bali.
Dalam konteks wacana seni rupa kontemporer hal ini tentu saja menjadi salah satu hal yang menarik sebab pameran ini menyajikan peristiwa untuk melihat bagaimana perkembangan seni rupa hari ini yang terpresentasikan dalam karya-karya para perupa yang tampil dalam pameran ini yang menyajikan keberagaman gagasan dan olah visual masing-masing perupanya.
[caption id="attachment_5379" align="aligncenter" width="580"]
Para pengunjung pameran B to B di Komaneka, Ubud[/caption]
Nyoman Sujana Kenyem menampilkan karya-karya termutakhirnya yang sebagian besar menghadirkan objek objek ranting pohon pada karya. Garis pada karya- karya Wayan Suastama terkadang hadir sebagai latar belakang (background) karya-karyanya berasosiasi pada suatu yang representatif semisal hujan ataupun secara artistik terlihat sebagai penegas dari gerak.
Sementara perupa lain adalah I Putu Bonuz Sudiana, I Ketut Suasana Kabul, Diwarupa, Suwandi Waeng, Bambang BP, Heri Catur Prasetya dan Rifa.
"Pameran B to B, paling penting bagi saya untuk dicatat dalam pameran ini adalah komitmen, kebersamaan, dan sikap yang terbuka dan cair yang memungkinkan terjadinya dialog. Kita diajak untuk melihat bagaimana perkembangan seni rupa dari dua wilayah yang berbeda di Indonesia," kata Susanta. (T)
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...