Raudal Tanjung Banua# Puisi: Ke Barat dari Lovina, Blora, Sungai Sungi Tabanan

Raudal Tanjung Banua
by Raudal Tanjung Banua — Desember 16, 2017 in Puisi

Tatkala.co
. KE BARAT DARI LOVINA 1. Sulur-sulur anggur menggoda kami di jalan lurus Matahari memerah. Di antara tiang-tiang kayu junjungan, di bukit landai dan pantai yang kurus menjulur batang-batang karma merindukan api penyulingan gelas dan darah perjamuan Maka kami pejamkan mata sejenak mengenang panjang perjalanan. Ada yang berdentang di hati kami, ada yang pecah, retak berkeping. Tapi ada pula menyatu: segala buih, desir pasir, smaraman ombak, segala yang tak kami tahu jadi piala bening kaca selusin anak lumba-lumba meluncur di sisi perahu—di sisi mana kami berpacu Tapi tidak. Sebagai piala dari laut dan pantai kesunyian, kamilah yang meluncur—di jalan lurus memburunya ke cakrawala yang kini memerah, entah warna matahari atau merah anggur darah yang tumpah dari altar para dewa 2. Pucuk-pucuk lontar menggapai kami selepas tikungan Padang datar sehening batu. Dalam semak-semak seekor ular sumbing mengintai buah dan piala yang kami dekap lekat ke dada. Seekor menjangan luka menggariskan darahnya pada tanah Kami pun khusuk berdoa, sebelum tengadah menampak garis nasib kami tergurat di daun-daun lontar yang bergerak perlahan seperti kipas di tangan penari ngibing: ada yang lepas, yang tidak pada tempatnya, jatuh ke padang datar Ada yang tumbuh diam-diam dari tikungan ke tikungan seperti doa-doa kami mencari alamat pengaduan. Hening. 2011 DI KAMPUNG NAGA, AKU TERINGAT RUMAH Tiba-tiba aku teringat rumah saatku bersila di Kampung Naga. Keheningan menyembunyikan keningku di lorong yang bersusun batu-batu —seperti lorong waktu Di antara rumah-rumah dengan jendela kayu dan pintu-pintu serasa hendak memelukku. Semuanya mengingatkanku pada rumah masa kecil di ranah ibu. Batinku hanyut menyusuri kenangan di antara kolam, parit, pancuran batu hingga kesunyian Sungai Ciwulan memberiku mainan pahit-rindu: ranum pisang panggang, selendang lusuh bekas gendongan, dan akhirnya puting susu ibu yang tak kutahu lagi cara mereguknya! /Tasikmalaya, 2006 JAGUNG BAKAR TEPIAN MAHAKAM jagung bakar tepian mahakam, umbu, ngingatkanku pada sajakmu: jagung bakar pantai sanur apalah beda bara rindu kita sama membubungkan satu pinta: bersua tak di mana, bersua di mana-mana... pun latar masih perahu kayu keberangkatan sebatas penyeberangan laut dan sungai samalah keruh tapi kita tetap berpaut bersauh di tengah riuh orang-orang meminang petang o, adakah mereka tahu hangus jagung bakar itu hanguskan petak ladang kenanganku! ke air keruh kulempar tongkol jagung sisa kenangan lalu bertongkol-tongkol yang lain dilempar orang hingga ke seberang tapi aneh, aku melihatnya serupa pohon-pohon besar terhumbalang tak berdaya hanyut dalam ikatan kapal-kapal baja hitam. /Samarinda, 2004-2006 SUNGAI SUNGI, TABANAN Sungai Sungi yang dalam Apa kabar lumbung-lumbung kencana subak dan banjar, tanah Tabanan? Masihkah segalanya terjaga dengan mata bajak, sapi pilihan, kelenong genta, tabuh gamelan? Masihkah terbuka tangan-tangan pengharapan yang mengangkut hasil panen setinggi kepala perempuan berbaris di pematang menyunggi bunga dan persembahan? O, Sungai Sungi beri aku jawaban: sunyi yang dalam! /Tabanan, 2011 BLORA —keluarga mastoer Karena minum air dari akar kayu jati maka kalian keras memeluk bumi. Blora bumi manusia Tanah panas matahari Tapi lebih panas di luar sana dan segalanya menanti. Di bukit-bukit kapur Tak terlihat kapal-kapal datang dan pergi di Laut Jawa. Tapi lambungnya menghisap sampai jauh ke mata air Kali Lusi yang kalian punya. Maka lewat seutas jalan ke Rembang Kalian pun datang ke laut, mengenal samudera Segalanya bergelora, segalanya bergelora! Kali Lusi, dada yang bergemuruh pertama kali Janganlah ditinggalkan Dan memang tak pernah kalian tinggalkan. Di sana, segalanya nyala dalam darah dan urat tangan Keras memeluk bumi kelahiran. /Blora, 2013
Tag: Puisi
Avatar

Raudal Tanjung Banua

Related Posts