Rai Sri Artini# Puisi-puisi: Rendezvous Biru, Di Sebuah Kapela

Rai Sri Artini
by Rai Sri Artini — Desember 09, 2017 in Puisi

Tatkala.co
. UAP KOPI Kita selalu merindukan puisi-puisi yang terbang bersama uap kopi diam-diam menyelinap manja dalam hangatnya meresapi wanginya untuk merasakan lapar, sisa-sisa masa lalu dan guguran rasa yang lain Kita selalu luruh dalam uap kopi yang bebas menggeliatkan angan dari campakan ego melayarkan kembali mimpi yang hampir samar karena cuaca masihkah kita terjebak dalam medan magnet asing ketika ampas-ampas kopi menyayat huruf-huruf ganjil dalam mata lalu puisi-puisi berhamburan ke dalam dada ranummu dan gelora kecipak darahmu Hingga kita mulai percaya bahwa kopi selalu menyediakan ruang untuk melabuhkan riuh rindu karena ia mampu menjahit jerit kehilangan dari perca-perca hasrat yang purba (Tegaljaya, Oktober 2016) DI SEBUAH KAPELA Pukul duabelas lonceng kapela berbunyi Nyanyian menggema terbang melintasi sejuta serapah Mendedah segala nyeri mengisi kuk jiwa yang larat Ribuan anak panah melesat seperti uap tangis balita di antara homili Di bawah cahaya lampu, sayap-sayap yang patah jadi tirai dan anyir lidah dimurnikan nyanyian hosanna Kita tak perlu mencari robekan baju atau serat-serat yang rontok Hanya dengarkan seksama suaranya dalam mata injil Di bawah lampu perca-perca harapan lahir Konsekrasi membuka rahasia baju kita yang paling kelit Memanjangkan rasa dan bayangan jadi energi untuk menjahit Robekan yang asin oleh darah Lewat tangan imam roh ditiupkan pada hosti yang sampai di telapak tangan kita Kita segera menyantapnya lalu tenggelam dalam serat baju kita masing-masing (Tegaljaya, November 2017) ABU-ABU Di sini Dua orang duduk dalam satu bangku panjang berunding Tentang hari-hari yang lewat sia-sia Dan hari-hari yang belum lewat menghitung detak jam, melihat kalender dan menantang malam Lalu mereka memutuskan mencari cara keluar Dari kubang jelaga dengan cara indah dan rapi Namun jelaga masuk ke bilik jantung Mereka mencoba telanjang dan duduk di kursi terpisah Rasa paling manusiawi terbit Meliuk licin di serabut cinta Cinta dan puisi mengambang dalam warna abu-abu Mereka mencoba lagi menyalin surat cinta yang pernah mereka tulis Tapi huruf-huruf dingin bermunculan Membeku di kucup malam Kelopak usia beringsut keriput Sekeriput rasa yang mulai lelah oleh liang lapar Janji kehilangan tuah di hari keramat Kini dada merekapun berubah warna jadi abu-abu Seperti mendung yang bergelayut di langit sore (Tegaljaya, November 2017) HARI KEMENANGAN “Mereka mengikat beban-beban berat lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.” Jumbai panjang penuh penghormatan semestinya tak hanya untuk sebuah ritual Mereka terlelap dalam anggur terbaik Harum piala memuntahkan manis puja-puji Kata-kata tuhan telah dipanggul di bahu masing-masing orang Sedang mereka menyisihkan diri dan memasang tilam yang lain Waktu tak pernah mengekalkan sebuah dusta apalagi kesesatan Siapa yang menebar jala ia akan mendapat bagiannya Maka sang waktu menjamin ada satu tiang yang dapat dijadikan sandaran Meski terkepung silau oleh tirai jubah Belati pikiran akan mengusap lembut punggungmu sebelum akhirnya menusukmu Sekerat roti menjadi hambar meski dicelup dalam anggur Tapi marilah berdoa Atas keratan beban di kepala dan bahu Dan salib yang terus memberat mendaki bukit tengkorak Dengan senyum paling ramah merayakan lubang paling nyeri hingga sampai di puncak pembebasan di hari kemenangan (Tegaljaya, November 2017) RAHASIA SUNYI Keringatmu kutampung dalam piala Juga ludahmu Kusimpan dalam lembar-lembar kitab Tak lupa kujahit lidahku dalam huruf-huruf di tiap lembarnya Hingga kita selalu bersama sekaligus mengakrabi nurani dibalik Getar-getar yang nyala “Pulanglah.” Ujarmu Kilau gigimu membuka rahasia tubuh yang lama ditempeli identitas Cakar-cakar emosi bersarang di kedua bilik dan serambi jantung Serta beribu tanda tanya diantara barisan kecemasan Keringatmu terlalu cukup untuk kugubah menjadi tawa atau catatan kematian Terlalu cukup. Bahkan kurindui meski bisu memenjarakan seribu tangan Dan segugus harap Ah, aroma keringatmu telah menaksir jarak , langkah dan jadwal kepulanganku Yang selalu menjadi rahasia Rahasia sunyi. ( Tegaljaya, Mei 2017 ) RENDEZVOUS BIRU Bu, hanya pada angin kita berkicau lantang tentang kesunyian yang merambat menjadi dialog Semata karena ia ringan dengan segala rupa resah dan gerigi pedih Ia bebas lepas laksana udara Menyusupi setiap ruang pilu Menghempas lelap dan jaga Segala embun kerak, keranda purba yang terbaca dalam diam Menggetarkan kita dalam pengasingan tak berujung Bu, telah sampai manakah suara kita? Tak adakah ruang sepanjang detak waktu untuk kita bersama Sekadar bertukar kata (hengkang dari sepah orang) Untuk memberi warna pada mata kita yang telaganya telah lama menguap Karena mimpi yang bersimpangan dan getar energi berseberangan Bu, di rendezvous biru Litani – litani bangkit menggapai langit Setelah sekian lama mengendap di pucuk ingin Di rendezvous yang redup dengan wangi lily Selalu kutunggu kerling matamu meski kata-kata tak mampu mewakili tetes rindu Biarkan aku mencipta syair dari intisari doa Untuk mengabadikan perjalanan yang kian uzur Dikerat usia (Tegaljaya, November 2017 )
Tag: Puisi
Avatar

Rai Sri Artini

Related Posts