Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Sumber : liputan6.com[/caption]
Gunung yang kini sedang erupsi tentunya akan menimbulkan nestapa. Di tengah gencar-gencarnya pemerintah menekan jumlah penduduk miskin di Indonesia, uang yang berasal dari rakyat dan hendak digunakan untuk kepentingan rakyat malah dibobol para tikus berdasi.
Dengan uang sebesar itu seharusnya Indonesia bisa membangun ribuan ribu unit rumah baru untuk warga miskin, pendidikan gratis untuk jutaan anak, dan membelikan jutaan unit komputer di sekolah-sekolah sebagai sarana belajar. Bagaimana tidak korupsi dapat memiskinkan negara secara struktural.
Kehidupan kenegaraan kita secara pelan-pelan sekarat dan akhirnya ambrol jika masalah ini tidak segera disadari bersama. Seperti api dalam sekam, perlahan akan hangus. Kegaduhan demi kegaduhan mulai terbangun oleh korupsi. Kepercayaan publik terhadap pemimpinnya kini semakin surut.
Lalu bagaimana Indonesia bisa maju jika antara masyarakat dengan pemimpinnya tidak harmonis. Masyarakat hanya bisa bungkam ketika korupsi itu telah terjadi. Penangan kasus yang sering kali tercecer bahkan timbul tenggelam kepermukaan membuat masyarakat beropini bahwa antara koruptor dan aparat terjadi „kongkalikong‟. Panggung korupsi ini seakan menjadi drama kolosal.
Melawan Korupsi dengan Pendekatan Spiritual
Indonesia adalah negeri yang beradat. Setiap jengkal tanah di negeri ini bersemayam darah para pahlawan yang siang malam mengangkat senajata. Indonesia juga negeri yang berdasarkan Ketuhan Yang Maha Esa, artinya setiap warga negara memeluk agamanya masing-masing.
Setiap agama tentunya akan menuntun setiap umatnya ke jalan kebenaran (dharma). Tak ada agama yang menganjurkan umatnya untuk berbuat negatif, bahkan menyengsarakan hajat hidup orang banyak dengan korupsi. Sebagai pemeluk agama kita mengenal adanya hasil perbuatan.
Dalam ajaran Agama Hindu disebut karma phala. Karma phala sama halnya dengan istilah “apa yang engkau tanam, itulah yang engkau tuai”. Artinya setiap perbuatan yang kita lakukan akan menghasilkan buah perbuatan itu sendiri. Sebagai makhluk berkeTuhanan hasil perbuatan itu bisa kita nikmati ketika masih hidup di dunia, atau pun saat kehidupan mendatang (dalam proses renkarnasi), dan hasil perbuatan yang belum habis dinikmati pada kehidupan sebelumnya akan dibawa ke kehidupan sekarang.
Kita juga mengenal perbuatan baik dan buruk, mengetahui surga dan neraka dan paham dengan perbuatan buruk atau dosa. Sudah barang tentu korupsi adalah perbuatan terhina yang jauh dari ajaran agama.
Pendekatan secara religius ini lah yang harus di tanamkan setiap manusia di negeri ini. Mind set keTuhanan harus selalu dipeganng dalam setiap tatanan kehidupan termasuk dalam mencegah dan membumi hanguskan korupsi. Sikap apatis dan culas yang selama ini dilakukan masyarakat seharusnya dirubah. Korupsi adalah hama yang harus diberantas bersama, dengan turut andil serta berbenah diri dalam penyelenggaraan brokrasi negeri.
Secara tidak langsung kita pernah menjadi bagian dari korupsi. Korupsi ada setiap lini kehidupan kita, akar korupsi adalah diri kita sendiri. Untuk itu, perpegang pada ajaran dharma (kebaikan) dan selalu bersyukur atas karunia Ilahi adalah kunci dalam memberantas korupsi. Niscaya, gunung korupsi di negeri ini perlahan akan tertidur untuk selama-lamanya.
Selalu katakan tidak para korupsi, dan katakana norak pada koruptor! (T)
Catatan: Esai ini peserta Lomba Penulisan Festival Anti Korupsi Bali 2017
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...