Buleleng Terkaya di Bali, Sesungguhnyalah Tak Perlu Investor
DI Bali hanya dua kabupaten yang memiliki danau sekaligus laut: Buleleng dan Tabanan. Bangli punya danau besar tapi tak punya laut. Semua kabupaten lain punya laut, tapi lacur tak...
Sumber : liputan6.com[/caption]
Gunung yang kini sedang erupsi tentunya akan menimbulkan nestapa. Di tengah gencar-gencarnya pemerintah menekan jumlah penduduk miskin di Indonesia, uang yang berasal dari rakyat dan hendak digunakan untuk kepentingan rakyat malah dibobol para tikus berdasi.
Dengan uang sebesar itu seharusnya Indonesia bisa membangun ribuan ribu unit rumah baru untuk warga miskin, pendidikan gratis untuk jutaan anak, dan membelikan jutaan unit komputer di sekolah-sekolah sebagai sarana belajar. Bagaimana tidak korupsi dapat memiskinkan negara secara struktural.
Kehidupan kenegaraan kita secara pelan-pelan sekarat dan akhirnya ambrol jika masalah ini tidak segera disadari bersama. Seperti api dalam sekam, perlahan akan hangus. Kegaduhan demi kegaduhan mulai terbangun oleh korupsi. Kepercayaan publik terhadap pemimpinnya kini semakin surut.
Lalu bagaimana Indonesia bisa maju jika antara masyarakat dengan pemimpinnya tidak harmonis. Masyarakat hanya bisa bungkam ketika korupsi itu telah terjadi. Penangan kasus yang sering kali tercecer bahkan timbul tenggelam kepermukaan membuat masyarakat beropini bahwa antara koruptor dan aparat terjadi „kongkalikong‟. Panggung korupsi ini seakan menjadi drama kolosal.
Melawan Korupsi dengan Pendekatan Spiritual
Indonesia adalah negeri yang beradat. Setiap jengkal tanah di negeri ini bersemayam darah para pahlawan yang siang malam mengangkat senajata. Indonesia juga negeri yang berdasarkan Ketuhan Yang Maha Esa, artinya setiap warga negara memeluk agamanya masing-masing.
Setiap agama tentunya akan menuntun setiap umatnya ke jalan kebenaran (dharma). Tak ada agama yang menganjurkan umatnya untuk berbuat negatif, bahkan menyengsarakan hajat hidup orang banyak dengan korupsi. Sebagai pemeluk agama kita mengenal adanya hasil perbuatan.
Dalam ajaran Agama Hindu disebut karma phala. Karma phala sama halnya dengan istilah “apa yang engkau tanam, itulah yang engkau tuai”. Artinya setiap perbuatan yang kita lakukan akan menghasilkan buah perbuatan itu sendiri. Sebagai makhluk berkeTuhanan hasil perbuatan itu bisa kita nikmati ketika masih hidup di dunia, atau pun saat kehidupan mendatang (dalam proses renkarnasi), dan hasil perbuatan yang belum habis dinikmati pada kehidupan sebelumnya akan dibawa ke kehidupan sekarang.
Kita juga mengenal perbuatan baik dan buruk, mengetahui surga dan neraka dan paham dengan perbuatan buruk atau dosa. Sudah barang tentu korupsi adalah perbuatan terhina yang jauh dari ajaran agama.
Pendekatan secara religius ini lah yang harus di tanamkan setiap manusia di negeri ini. Mind set keTuhanan harus selalu dipeganng dalam setiap tatanan kehidupan termasuk dalam mencegah dan membumi hanguskan korupsi. Sikap apatis dan culas yang selama ini dilakukan masyarakat seharusnya dirubah. Korupsi adalah hama yang harus diberantas bersama, dengan turut andil serta berbenah diri dalam penyelenggaraan brokrasi negeri.
Secara tidak langsung kita pernah menjadi bagian dari korupsi. Korupsi ada setiap lini kehidupan kita, akar korupsi adalah diri kita sendiri. Untuk itu, perpegang pada ajaran dharma (kebaikan) dan selalu bersyukur atas karunia Ilahi adalah kunci dalam memberantas korupsi. Niscaya, gunung korupsi di negeri ini perlahan akan tertidur untuk selama-lamanya.
Selalu katakan tidak para korupsi, dan katakana norak pada koruptor! (T)
Catatan: Esai ini peserta Lomba Penulisan Festival Anti Korupsi Bali 2017
DI Bali hanya dua kabupaten yang memiliki danau sekaligus laut: Buleleng dan Tabanan. Bangli punya danau besar tapi tak punya laut. Semua kabupaten lain punya laut, tapi lacur tak...
INI adalah komentar seorang teman pebisnis sukses, orang Bali yang tinggal di Amerika “Orang Bali harusnya ajarkan anak-anaknya berbisnis bukan hanya sembahyang”. Dan comment yang...
WABAH Pokémon Go sepertinya sudah masuk ke ceruk kehidupan orang Bali. Di Pulau Seribu Pura ini, tentu bukan hal aneh jika sarang Pokémon banyak terdapat di Pura. Di Pura besar ata...
Cerpen: Ni Kadek Desi Nurani Sari Purnama pasah, tiga anak bajang berjalan melenggang ke arah barat tempat di mana, rusuk seorang ibu tersesat jalan pulang. Mereka kembara, membawa...
BUNGA KECOMBRANG (1 ) Pada kelopak mudaku kau temukan rasa yang enggan pergi dari tiap ujung papila Kau terbakar rasa larut dalam liur kuntum kuntumku membuat...
SALAH satu cara mengatasi kerumitan pilihan hidup dalam dunia, --- yang mana orang-orangnya kian jauh dari kesempatan untuk berbeda adalah mengikuti ke mana arah pemikiran pergi,...
"Itulah pekerjaan, saya profesional, keluarga tahu saya bekerja sebagai penari joged, tidak jual diri," KERUMUNAN tampak dari kejauhan. Iringan suara gamelan rindik berpadu dengan...
HARI sekolah tiba. Orang tua harap-harap cemas. Apakah si anak bisa berprestasi di sekolah. Jika iya tentunya membanggakan. Namun, hilangkan harapan itu. Baiknya, jangan paksa anak...
Judul: Magening # Pengarang: Wayan Jengki Sunarta # Penerbit: Kakilangit Kencana # Tahun: April 2015 # Tebal: vi, 164 halaman # ISBN: 978-602-8556-53-8 899.221 3 NOVEL Magening...
PADA suatu masa, tak terlalu lama, di negeri ini pernah ada penggemar cicak dan ada penggemar buaya, ada juga yang suka melihat ribut-ribut antara keduanya. Tapi saya sendiri lebih...