Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Suasana pameran Dari Masa ke Rasa#2 di Santrian Gallery, Sanur, Denpasar[/caption]
Walau terlampau umum dan mungkin biasa terjadi pada banyak kelompok seniman lain, akan tetapi dengan melihat beberapa aspek, kita akan mendapatkan beberapa petunjuk mengapa ‘masa’ dan juga ‘rasa’ ini perlu mereka ketengahkan.
“Pilihan menggunakan ‘rasa’ sebagai bagian dari judul pameran dalam pandangan saya berkaitan dengan situasi yang bukan hanya terjadi dalam proses kreatif mereka, namun juga merupakan bagian dari reaksi terhadap apa yang mereka hadapi dalam situasi sosial seni rupa di Indonesia,“ kata penulis pameran Rain Rosidi.
Ia menilai perkembangan seni kontemporer yang mulai marak di tahun 1990-an, ditandai dengan menguatnya seni konsep yang cenderung bermuatan sosial politik plus penampilan kembali seni tradisi dengan baju baru (tradisi yang dimodernkan). Dua macam kecenderungan yang sempat dicatat oleh Asmudjo dalam buku Outlet ini menjadi wacana kuat dalam praktik seni kontemporer di Indonesia.
Menguatnya wacana seni konseptual patut diduga ikut andil meminggirkan seni yang berbasis teknis belaka. Dalam kaitan dengan hal ini, para seniman dalam kelompok ini cenderung untuk mengembalikan semangat teknis dalam berkarya. Bagi mereka, teknis juga mengandung gagasan dalam dirinya.
Hal tersebut merupakan salah satu manifestasi dari ketegangan yang dialami di dalam pendidikan akademis.Salah satu ketegangan yang dirasakan oleh para seniman terdidik adalah ketegangan antara teknik dan konsep. Kedua hal itu seakan saling memakan, sehingga apabila seniman mengutamakan konsep, akan mengabaikan teknik, dan begitu pula sebaliknya.
Penulis pameran sangat spesial memaparkan pemaknaan kepada publik pecinta seni. Apalagi pameran ini melibatkan dua penulis. Selain Rain Rosidi, juga I Made Susanta Dwitanaya. Kalaborasi apik dua penulis menyudutkan makna di balik tajuk pameran. Karya yang dihadirkan dalam gallery berjumlah 23 karya yang terdiri dari karya lukisan dan karya grafis (cukilan) sampai 30 Desember 2017.
Serupa dalam pandangan I Made Susanta Dwitanaya. Kehadiran lima pelukis itu kini di Bali dalam pameran Dari Masa ke Rasa #2 adalah sebuah penegasan bahwa, walaupun kebersamaan mereka kini terpisahkan oleh jarak dan aktivitas masing masing mreka masih bisa tetap bersama sama dalam menjaga komitmen yang telah mereka tetapkan bersama sejak di Yogyakarta dulu hingga kini. Kebersamaan yang mungkin saja dilandasi oleh cara pandang mereka yang memandang esensi dari dunia kesenian di mana rasa adalah hal yang vital didalam berkarya seni rupa.
Menurut Susanta, tentu saja pameran itu tidak berhenti menjadi pameran “ajang reunion” dari lima orang sahabat seangkatan, melainkan ada sebuah gagasan dan kesadaran untuk tetap bergerak bersama dalam momentum-momentum pameran untuk mempresentasikan karya-karya mereka yang mencoba melihat fenomena berdasarkan eksplorasi mereka pada kekaryaan masing masing.
Pertemuan kelima perupa 2012 silam di Yogjakarta terjadi ketika mereka sama-sama menempuh studi pascasarjana di ISI Yogyakarta. Ada dalam angkatan yang sama, membuat persahabatan mereka berlima terjalin erat, mereka sering larut dalam diskusi yang berujung pada adanya satu komitmen untuk mengadakan event pameran bersama. Walupun secara tegas mereka tidak pernah mendeklarasikan sebuah kelompok namun gairah kreatif untuk hadir bersama dalam sebuah event pameran terus mereka gulirkan.
Selepas studi di tahun 2015, mereka terpisahkan satu sama lain, sebagian besar kembali ke tempat asal mereka dan sebagian lagi merantau ke tempat yang berbeda. Namun keterpisahan jarak ini tak serta merta memutus begitu saja komunikasi dan ikatan persahabatan antar mereka, komitmen awal untuk hadir dalam event pameran bersama ternyata tetap terpupuk di antara proses kreatif mereka masing-masing. (T)
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...