Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
***
Di sebuah hutan ada danau yang sangat jernih. Di danau itu ada seekor ikan kecil dan cebong baru menetas. Mereka berteman. Pertemanan mereka pun tak terpisahkan lagi. Suatu pagi, kecebong itu melihat dirinya memiliki dua kaki kecil. “Lihat,” kata kecebong penuh kebahagiaan. “Lihat, aku akan menjadi katak.” “Tidak mungkin. Itu omong kosong!” kata ikan kecil tak percaya. “Bagaimana mungkin kamu bisa menjadi katak? Jika baru kemarin malam adalah seekor ikan kecil, sama seperti saya!” Mereka pun berdebat dan terus berdebat tanpa akhir. Lalu, cebong itu berkata, “Nah, katak adalah katak dan ikan adalah ikan. Itu memang begitu.” Beberapa minggu kemudian, kaki depan kecebong itu tumbuh kecil dan ekornya semakin mengecil dan menghilang. Dan suatu hari, kecebong itu pun menjadi seekor katak yang sejati. Ia pun pergi dari danau itu dan menelusuri rerumputan hijau di hutan. Kini, ikan kecil itu pun sudah menjadi ikan yang dewasa. Namun, ia sering bertanya-tanya kemana pergi teman berkaki empatnya. Ia sangat kesepian sendirian di danau. “Kenapa dia pergi meninggalkanku? Apa enaknya keluar dari danau? Sudah berhari-hari dan berminggu-minggu temanku pergi, masih belum kembali! Di mana dia bisa hidup?” keluh ikan itu. Lalu, suatu hari katak berkunjung ke danau itu menemui sahabatnya si ikan. Katak menceritakan pengalamannya di darat. Katak menceritakan begitu banyak binatang darat yang ditemuinya seperti sapi, burung, dan manusia. Mendengar cerita katak, ikan membayangkan diri menjadi sapi, burung, dan manusia. Si ikan terus terbayang dengan cerita-cerita katak. Dan, ikan memutuskan untuk pergi meloncat ke darat. “Ah, aku tidak bisa napas! Aku sesak, tolonggggg!” ringkih ikan. “Sudah kubilang, ikan tetaplah ikan yang tidak bisa hidup di darat,” ucap katak bergegas medorong ikan masuk ke dalam air. “Benar katamu, aku tetaplah ikan. Ikan adalah ikan,” ucap ikan kembali menelusuri danau bersama sahabatnya katak.***
“Mengapa ikan tidak bisa hidup di darat?” tanya Ibu Nengah ketika sudah mengakhiri ceritanya. “Ikan kan hidupnya di air mana mungkin bisa hidup di darat,”sahut salah satu anak. “Ikan kan bernapas dengan insang,” celetuk anak. Mungkin, anak itu mengingat pengalamannya ikut membedah ikan besar dan meraba-raba rupa ingsang pada ikan. Jika membahasnya secara filosofis cerita itu atau pengalaman anak itu sendiri, tentu tidak akan pernah menghakimi dengan pandangan kebenaran yang membatu/memfosil. Sebab, filosofi selalu meregenerasi pandangannya yang tidak akan pernah terjebak pada pandangan yang memfosil. Jika pandangan sudah memfosil dalam diri kita, tentu itu bukan filosofi tetapi sudah dogma yang menyesatkan. Untuk itu, seorang pendidik mungkin harus menjadi seorang filosofi dan sekaligus menjadi seorang geologi pendidik. Seorang geologi pendidik tentu akan selalu menggali setiap pengalaman anak didiknya dan dengan kemampuan filosofisnya, anak akan merekontruksi pengalaman lama menjadi pengalaman baru. Ketika ini tidak pernah dipahami sebagai seorang pendidik, maka akan terjadi seperti cerita anak teman yang anaknya masih TK. Anak itu bingung melihat gurunya kesal karena mendengar cerita pengalamannya yang diceritakan di kelas. Sampai di rumah anak itu bercerita kepada ibunya: “Bu guru kok kesal saat adik cerita menanam anak babi yang mati kemarin di kebun? Benarkan Bu? Adik dan Bapak menanam anak babi kemarin? Tapi, adik cerita di kelas, Bu Guru langsung berhenti dan duduk.” “ Ya, benar adik menanam anak babi kemarin. Memang teman-teman adik cerita apa?” ucap ibu juga terheran. “Teman adik ada yang cerita menanam bunga mawar,” jawab anak itu masih bingung. Apakah ia sudah berbuat salah atau tidak. Mendengar cerita anak itu, ibunya memahami yang terjadi di sekolah. Anaknya sedang belajar tentang menanam tumbuhan. Di sinilah, semestinyan seorang pendidik tidak berhenti pada pandang yang memfosil sehingga menghakimi dengan kebenaran yang sudah membatu. Bisa saja terus menelusuri pengalaman itu, kita bisa menemukan bahwa anak babi yang di tanam itu lama-kelamaan menjadi busuk. Lalu, di tempat ditanamnya anak babi itu, tanahnya menjadi subur dan bagus ditanami bunga, misalnya. Anak babi yang ditanam itu telah menjadi pupuk. Bahkan, jika ditelusuri dengan baik, anak akan banyak mendapatkan pengalaman-pengalaman baru yang menakjubkan. Apalagi secepat kilat menghakimi anak telah berbuat buruk/jahat dengan mengutuknya sebagai alpaka guru (durhaka terhadap guru). Perkembangan baik-buruk seorang anak tidak hanya bisa diselesaikan dengan dogma alpaka guru. Sepertinya, hidup hanya mau menerima yang baik-baik saja. Apakah semudah itu menyimpulkan pengalaman perkembangan anak dalam melihat karakter anak? Apakah anak sudah menemukan makna hidup yang menakjubkan dengan hanya mengingat kejadian pengalaman hidup? Lalu, apakah pendidik hanya berhenti dan hanya mementingkan karakter pertanyaan yang bisa mereka banggakan jawabannya seperti tes-tes akhir semester? Mengapa tidak masuk lebih filosofis? Ah, entahlah! Lebih baik menyaksikan kebahagiaan ikan yang asyik berimajinasi menjadi sapi, burung, dan manusia. (T)
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...