Proses Kreatif Kurnia Effendi 2# Curah Kisah
SEWAKTU-WAKTU, ketika sedang bersama saya, jangan heran jika saya curahi cerita. Biasanya, judul yang mengemban kandungan cerita itu tak cukup sabar tetap tersimpan dalan vestiaire...
[caption id="attachment_4723" align="alignnone" width="689"]
Pemandangan alam di Desa Mayong[/caption]
Pada tahun 2010, Subak Poh Asem maju ke lomba perkumpulan petani pemakai air tingkat nasional setelah keluar sebagai juara I lomba subak se-Provinsi Bali. Di tingkat nasional subak Poh Asem meraih posisi lima besar karena Subak Poh Asem didukung kelembagaan yang terorganisir, pemeliharaan sistem irigasi serta sistem pembiayaan dalam mengelola tata guna air. Ini adalah prestasi yang membanggakan.
Namun sayang keunggulan ini belum bisa ditonjolkan secara maksimal, yang mana prestasi ini sebenarnya bisa menjadikan Subak Poh Asem sebagai tempat studi, khususnya di bidang subak yang telah menjadi warisan budaya UNESCO. Keunggulan dan keunikan Subak Poh Asem juga bisa dijadikan promosi pariwisata untuk eco-tourism yang sedang digalakkan pemerintah Kabupaten Buleleng.
Menurut penuturan Made Jina, Pakaseh Subak Poh Asem era 80'an, Subak Poh Asem memang dari dahulu menjadi primadona karena tata kelola airnya yang baik. Subak di sini sepanjang tahun mendapat air, sehingga bisa melakukan panen padi 3-4 kali dalam setahun.
Ia bercerita, bahwa air di subak ini mengalir dari daerah-daerah di atasnya, khususnya dari desa Tirta Sari, dahulu para tetua di sini membuat uwungan atau terowongan sepanjang 2,5 km untuk bisa mengalirkan air sampai di Subak Poh Asem.
Selain Subak Poh Asem, Desa Mayong juga memiliki sebuah pura yang unik yakni Pura Gede atau Pura Batur Sari. Tidak seperti pura pada umumnya yang memiliki beberapa bangunan pelinggih, Pura Gede hanya terdiri dari kumpulan dan tumpukan batu besar.
Masyarakat di sini sangat menyucikan pura ini, karena dipercaya dari sinilah cikal bakal leluhur penduduk Desa Mayong berasal. Dikelilingi aliran air subak yang jernih dan hamparan sawah hijau, serta pohon-pohon yang besar, menjadikan pura ini begitu magis dan asri. Namun sayang tiadanya peninggalan prasasti ,atau adanya penelitian yang serius, menjadikan kapan waktu pendirian pura ini belum diketahui dengan pasti.
Di sebelah selatan Pura Gede juga ada bebera bebaturan pelinggih kecil, salah satunya pelinggih Dewa Ayu Celi Mengkep. Pelinggih ini dipercaya memberikan kesuburan dan kemakmuran bagi warga desa.
[caption id="attachment_4724" align="alignnone" width="695"]
Pura unik di Desa Mayong[/caption]
Wisata Desa Tua
Baru-baru ini Pemerintah Kabupaten Buleleng melakukan peningkatan jalan Mayong-Poh Asem, dan yang terbaru Poh Asem-Banjar via Santal, sehingga arus transportasi untuk menjangkau Desa Mayong, khususnya Subak Poh Asem, lebih lancar dan mudah.
Ini sesuai dengan program pemerintah Kabupaten Buleleng menggalakkan wisata desa tua atau Bali Aga. Dengan adanya jalan itu, dari Desa Banjar, yang secara kultural budaya pariwisatanya lebih mapan, untuk menjangkau Desa Mayong hanya diperlukan waktu sekitar 15-20 menit. melewati daerah perbukitan dengan panorama pemandangan laut dan bukit yang indah.
Melihat potensi Desa Mayong, ke depannya diharapakan program ekowisata dan Wisata Desa Bali Aga yang digalakkan pemerintah Kabupaten Buleleng yang dikenal dengan nama SCTPB terdiri dari lima desa yakni Desa Sidetapa, Desa Cempaga, Desa Tigawasa, Desa Pedawa, dan Desa Banyuseri, juga dapat dinikmati diperluas hingga Desa Mayong, yang mana jika hal ini dapat dilakukan dapat menjadikan kawasan ini sebagai daerah wisata yang berintegrasi dan berhubungan.
Harapannya program Pemerintah Kabuapaten Buleleng itu selain dapat meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan warga, juga sebagai sarana pelestaraian dan pengembangan budaya yang keberadaanya hampir terlupakan. (T)
SEWAKTU-WAKTU, ketika sedang bersama saya, jangan heran jika saya curahi cerita. Biasanya, judul yang mengemban kandungan cerita itu tak cukup sabar tetap tersimpan dalan vestiaire...
PERNAH nunu urutan setiap pagi menjelang sekolah, pada masa-masa usai libur Hari Raya Galungan dan Kuningan? Jika pernah, masa kecil Anda dipastikan sederhana namun bahagia. Nunu...
"PANJEKAN" mungkin asal muasal kata "panjak". Biasanya prekanggo atau wong kuasa duduk didampingi anak buahnya yang dijadikan "injakan kaki" (panjekan). Lihatlah, foto yang dipasa...
GEGURITAN Galungan (karya IB Putu Bangli) yang penulisannya bersumber dari Lontar Parerembon (milik Ida Pedanda Gede Made Sidemen, Gria Taman Sanur), menuturkan bahwa tra...
SEBAIKNYA di sini kita tidak membahas sloka, lontar, mantra atau Veda. Di zaman informasi yang demikian derasnya, ketidakpedulian hanyalah sebuah pilihan. Hal-hal yang bersifat pen...
HARI Raya Galungan dan Kuningan tentu saja disambut bahagia semua umat Hindu di Bali. Namun, tak begitu dengan sejumlah anggota Dewan, DPRD, DPD atau DPR. Meski tetap tampak bahag...
BAGI umat Hindu di Indonesia, terutama di Bali, Hari Raya Galungan dan Kuningan tentu menjadi hari raya yang paling ditunggu-tunggu. Hari raya ini diperingati setiap 6 bulan sekali...
Saya adalah salah satu dari banyak orang yang sangat menikmati momen KKN, meski saya tidak mengetahui detail kisah KKN kalian satu per satu tapi saya berusaha mewakili rasa rindu k...
GALUNGAN kembali tiba. Sebagian orang mungkin akan bersemangat mendengarnya karena merupakan hari raya besar yang ditunggu-tunggu. Sembahyang, mungkin hanya satu alasan. Ada banyak...
Cerpen: Fatah Anshori "Dalam tradisi Yahudi empat puluh hari sebelum, bayi lelaki dilahirkan. Dilangit ada suara yang meneriakkan siapa wanita yang kelak akan di kawininya. Aku tah...