Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
Saya menduga bahwa Erawan ingin menyodorkan suatu “kejamakan” sebagai sebuah realita menuju suatu “ketunggalan” sebagai suatu niatan. Shadow Dance dan Dasa Muka merupakan suatu kejamakan yang dalam istilah lain sering disebut sebagai kebhinekaan. Bayangan dalam Shadow Dance sesungguhnya merupakan tambahan wujud atas wujud. Tidak penting apakah ia menyerupai atau tak. Apakah bisa dikenali atau tak. Apakah bermakna atau sekadar noktah.
Makanya, wujud-wujud tiga dimensi yang dipamerkan oleh Erawan bukan dimaksudkan untuk mengenali sosok tertentu. Walaupun sedikit tanda-tanda yang seolah-olah ingin mengarahkan kita untuk mengenalinya sebagai wujud tertentu yang terlanjur ada di ingatan kita.
Misalnya, adanya bentuk-bentuk berbulu seolah barong, ada tungkai menggelayut seolah kaki, ada bulatan seolah wajah, ada ‘pepatran’ seolah api, ada lubang seolah karang, dan banyak lagi “wujud seolah” yang merupakan tarian bayangan yang sangat jamak kita ciptakan sendiri.
Pesan Erawan di ruang pameran dilanjutkan kemudian ke panggung monolog. Panggung yang diset layaknya ‘tetaringan’ dengan tiang bambu yang cukup tinggi serta ‘terajangan’ yang mengingatkan kita pada pentas Calonarang di desa, membuat saya tak bisa menduga model pentas apa yang akan saya saksikan. Sebuah gesekan pada rebab raksasa yang sengaja tak diniatkan melahirkan nada pentatonis yang melodis justru mampu menarik perhatian saya.
Selanjutnya adalah atraksi Erawan memanfaatkan monolog untuk unjuk rupa. Serapan Erawan dari teks monolog karya Putu Wijaya menjadi energi rupa di panggung. Siraman cat di kepala, cipratan di kanvas, dentuman kepala-kepala jatuh berlumur warna merupakan monolog rupa yang sesungguhnya.
Jadi, kita sesungguhnya menyaksikan Erawan bukan Putu Wijaya, bukan pula Putu Satria, harap maklum. Karena artikulasi rupa berbeda dengan artikulasi sastra (drama), berbeda pula dengan artikulasi musik. Namun demikian, mereka tetap satu dalam panggung. Seperti Sumpah Pemuda menyatukan Shadow Dance dan Dasa Muka di Bentara Budaya Bali malam itu. (T)
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...