Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
Jalan Pedang
Seperti acara yang diadakan tahun-tahun sebelumnya, lomba muspus kali ini diikuti oleh peserta dari Negara, Buleleng, dan Denpasar. Dari Teater Tanpa Nama, Kelompok Seribu Jendela, Teater Ilalang, Komunitas Cemara Angin, Menjelang Pagi, Santo Paulus Singaraja, hingga Cakrawala dan Senja.
Masih ada nama beberapa kelompok (baru) yang tidak disebutkan, juga berperan dalam lomba ini. Perjalanan lomba dari tahun-tahun sebelumnya telah memberi bukti bahwa kelompok-kelompok ini tetap setia pada Jalan Pedang masing-masing.
Panas memang sempat mengguyur area Wantilan Kampus Bawah tempat berlangsungnya lomba, akan tetapi setelah matahari mulai bisa diajak berkompromi, area ini kembali diramaikan oleh penonton. Terlebih mulai banyak stand makanan dari jurusan-jurusan di Fakultas Bahasa dan Seni yang dibuka untuk menyediakan minuman atau makanan-makanan ringan yang mengitari tempat berlangsungnya acara.
Namun, tetap saja penyerahan hadiah menjadi waktu yang sangat ditunggu-tunggu oleh peserta maupun para pendukung kelompok yang mengikuti lomba. Setelah penjurian selesai dan diskusi antar juri berakhir, satu per satu juri memberi masukan untuk peserta lomba juga penonton.
Sebenarnya Bisa Lebih Variatif
Juri pertama yang memberi masukan adalah Herry Anggara yang kurang lebih mengatakan bahwa peserta lomba kurang memaknai puisi, hal ini akan sangat terlihat terutama pada hasil aransement puisi. Hal semacam ini tidak akan bisa menyampaikan isi puisi yang digarap. Hal seperti ini juga sesungguhnya membuktikan bahwa dalam musikalisasi puisi, pemahaman terhadap puisi menjadi hal yang sangat penting.
Setelah Herry Anggara memberi masukan, giliran juri Wayan Gde Yudane menyampaikan beberapa hal. Kurang lebih Yudane mengatakan bahwa peserta sekarang cenderug menggunakan pola ketukan yang biasa, misalnya ketukan pola 4, sehingga music cenderung datar. Padahal, pada umumnya kata atau kalimat dalam puisi tak memiliki ketukan yang biasa, bisa pola genap, bisa juga pola ganjil. Sehingga dalam musikalisasi puisi, ketukan itu bisa dipermainkan sehingga menciptakan musik yang lebih bervairatif.
Selain itu, dengan agak satiris, Yudane mengungkapkan kekagumannya terhadap peserta di atas panggung. Yudane menuturkan, “Saya kagum sekali, dalam lomba ini ada kelompok yang penyanyinya bersuara fals dari awal sampai akhir. Dari awal bermain hingga akhir suaranya tetap fals. Saya pun tidak bisa seperti itu. Itu kemampuan luar biasa,” katanya.
Sontak penonton tertawa terbahak-bahak.
Pertanggungjawaban terakhir dari juri ke tiga yang mengatakan bahwa penting sekali dalam hal ini memahami nada. Sebelum naik ke panggung juri ketiga, Akar Narwastu mengatakan bahwa dirinya ditanyai oleh peserta. “Tadi ada peserta yang bertanya ke pada saya, ‘Kak, tadi yang fals gitarnya atau suara saya, ya?’ Saya jawab, ‘sound-nya.’”
Lagi-lagi tawa pecah di tengah-tengah para peserta yang tegang menunggu pengumuman juara. Akar juga mengingatkan bahwa chek sound, sudah seharusnya dimanfaatkan dengan lebih baik sehingga peserta bisa membawakan karya musikalisasinya dengan maksimal.
Para Juara
Penyampaian hal-hal penting dari para juri kemudian diakhiri dengan pengumuman juara beserta penyerahan hadiah. Wajah murung dan tegang sempat menyelimuti sekitaran wantilan, namun sorakan kembali bergemuruh setelah pengumuman juara.
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...