Arsitektur Bali Bukan Sekadar Pilihan Desain ---Mengapa Begitu?
JIKA seseorang ditanya mengapa datang ke Bali, jarang sekali jawabannya karena ingin melihat gedung tinggi, kawasan bisnis modern, atau deretan bangunan pencakar langit. Orang dat...
Jalan Pedang
Seperti acara yang diadakan tahun-tahun sebelumnya, lomba muspus kali ini diikuti oleh peserta dari Negara, Buleleng, dan Denpasar. Dari Teater Tanpa Nama, Kelompok Seribu Jendela, Teater Ilalang, Komunitas Cemara Angin, Menjelang Pagi, Santo Paulus Singaraja, hingga Cakrawala dan Senja.
Masih ada nama beberapa kelompok (baru) yang tidak disebutkan, juga berperan dalam lomba ini. Perjalanan lomba dari tahun-tahun sebelumnya telah memberi bukti bahwa kelompok-kelompok ini tetap setia pada Jalan Pedang masing-masing.
Panas memang sempat mengguyur area Wantilan Kampus Bawah tempat berlangsungnya lomba, akan tetapi setelah matahari mulai bisa diajak berkompromi, area ini kembali diramaikan oleh penonton. Terlebih mulai banyak stand makanan dari jurusan-jurusan di Fakultas Bahasa dan Seni yang dibuka untuk menyediakan minuman atau makanan-makanan ringan yang mengitari tempat berlangsungnya acara.
Namun, tetap saja penyerahan hadiah menjadi waktu yang sangat ditunggu-tunggu oleh peserta maupun para pendukung kelompok yang mengikuti lomba. Setelah penjurian selesai dan diskusi antar juri berakhir, satu per satu juri memberi masukan untuk peserta lomba juga penonton.
Sebenarnya Bisa Lebih Variatif
Juri pertama yang memberi masukan adalah Herry Anggara yang kurang lebih mengatakan bahwa peserta lomba kurang memaknai puisi, hal ini akan sangat terlihat terutama pada hasil aransement puisi. Hal semacam ini tidak akan bisa menyampaikan isi puisi yang digarap. Hal seperti ini juga sesungguhnya membuktikan bahwa dalam musikalisasi puisi, pemahaman terhadap puisi menjadi hal yang sangat penting.
Setelah Herry Anggara memberi masukan, giliran juri Wayan Gde Yudane menyampaikan beberapa hal. Kurang lebih Yudane mengatakan bahwa peserta sekarang cenderug menggunakan pola ketukan yang biasa, misalnya ketukan pola 4, sehingga music cenderung datar. Padahal, pada umumnya kata atau kalimat dalam puisi tak memiliki ketukan yang biasa, bisa pola genap, bisa juga pola ganjil. Sehingga dalam musikalisasi puisi, ketukan itu bisa dipermainkan sehingga menciptakan musik yang lebih bervairatif.
Selain itu, dengan agak satiris, Yudane mengungkapkan kekagumannya terhadap peserta di atas panggung. Yudane menuturkan, “Saya kagum sekali, dalam lomba ini ada kelompok yang penyanyinya bersuara fals dari awal sampai akhir. Dari awal bermain hingga akhir suaranya tetap fals. Saya pun tidak bisa seperti itu. Itu kemampuan luar biasa,” katanya.
Sontak penonton tertawa terbahak-bahak.
Pertanggungjawaban terakhir dari juri ke tiga yang mengatakan bahwa penting sekali dalam hal ini memahami nada. Sebelum naik ke panggung juri ketiga, Akar Narwastu mengatakan bahwa dirinya ditanyai oleh peserta. “Tadi ada peserta yang bertanya ke pada saya, ‘Kak, tadi yang fals gitarnya atau suara saya, ya?’ Saya jawab, ‘sound-nya.’”
Lagi-lagi tawa pecah di tengah-tengah para peserta yang tegang menunggu pengumuman juara. Akar juga mengingatkan bahwa chek sound, sudah seharusnya dimanfaatkan dengan lebih baik sehingga peserta bisa membawakan karya musikalisasinya dengan maksimal.
Para Juara
Penyampaian hal-hal penting dari para juri kemudian diakhiri dengan pengumuman juara beserta penyerahan hadiah. Wajah murung dan tegang sempat menyelimuti sekitaran wantilan, namun sorakan kembali bergemuruh setelah pengumuman juara.
JIKA seseorang ditanya mengapa datang ke Bali, jarang sekali jawabannya karena ingin melihat gedung tinggi, kawasan bisnis modern, atau deretan bangunan pencakar langit. Orang dat...
KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., berbagai program revitalisasi...
DI salah satu sudut ruang pamer lantai dasar gedung Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali, sebuah lukisan terpajang dalam bingkai hitam. Di depannya, seorang mahasiswa berdiri sembar...
PERINGATAN Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan anak di Indonesia. Melalui kolaborasi antara Yayasan Literasi Anak Indonesia (YLA...
ANTARA Bung Karnodan Chairil Anwar adalah Bung Sjahrir. Chairil Anwar sebagai pengarang berhasil mengintip dan menguntit Bung Sjahrir untuk mengorek informasi tentang Bung Karno....
DI Desa Adat Pecatu, hujan tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa alam. Ia adalah harapan, doa, sekaligus sumber kehidupan yang dinantikan ketika musim kering datang. Dari tradisi...
Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini dua cerita yang telah direvitalisa...
Niels Bohr dan Kerendahan Hati di Hadapan Misteri DALAM sejarah sains modern, nama Niels Bohr sering dikaitkan dengan lahirnya mekanika kuantum dan Interpretasi Kopenhagen. Nam...
JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar dari isi rekeningnya: semesta pasti punya rencana khusus...
Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah, hutan tua mendekapnya denganakar-akar yang t...