Nunung Noor El Niel# Puisi: Jemari Waktu, Igauan Selembar Daun

Nunung Noor El Niel
by Nunung Noor El Niel — Oktober 26, 2017 in Puisi

Tatkala.co
. JEMARI WAKTU jemari waktu merangkum dalam hening senja dan ranting ranting pohon tertunduk sunyi terbaca syahdu dari untaian awan kelabu menanti malam hadir bersama hangatmu hari adalah mesin hitung penuh dengan angka-angka yang kita tahu sementara kita tetap melaju mengarung nasib yang sudah tak lagi tertib mengukir indah dalam hampar pasir pantai dan sebenarnya kita sadar bahwa itu akan segera terurai semua terpaku pada jejak yang retak yang sekuat tenaga kita jadikan abadi dan tak pernah tahu apa yang sebenarnya kita cari … Denpasar, Januari 2017 PREMATUR gadis kecil itu tak pernah dikandung dalam impian hanya sebuah kenyataan yang melahirkannya tanpa sedikit pun dapat menyusui masa kanak-kanaknya gadis kecil itu pun tumbuh secara prematur dalam inkubasi ruang yang piatu membuatnya menjadi perempuan dewasa di luar waktu untuk mengadopsi dirinya sendiri sebagai seorang ibu dari sebuah imajinasi yang hilang gadis kecil itu pun tertinggal di sana, di sudut airmata selalu berusaha menggapainya dengan tatapan masa lalu penuh pertanyaan dari rongga rahim yang tak pernah selesai : di mana ariariku sebagai tali ikatan itu ditinggalkan? seluruh pertanyaan gadis kecil itu pun menggelembung seperti air ketuban yang kemudian pecah setiapkali perempuan itu berusaha membasuh dirinya dalam sebuah doa sebelum mencapai batas amin Denpasar September 2015 IGAUAN SELEMBAR DAUN Aku hanyalah selembar daun Yang tumbuh di pucuk-pucuk ranting Aku hanyalah selembar daun Yang tubuh di musim penghujan Aku hanya selembar daun Yang mulai mengering Di antara batang-batang melapuk Menunggu sisa waktu untuk luruh Aku hanya selembar daun Yang kelak dipetik oleh angin Aku akan melayang entah ke mana Mungkin ke luar dari musim Di luar musim, mungkin Aku akan merabuk perlahan Kembali ke tanah Di mana aku berawal dan berakhir Denpasar Oktober 2017 MENJERANG PUISI lelaki arang yang hangus terbakar oleh ibu yang memanggang pagi kepulkan seluruh impianmu dengan kepulan asap rokok sebelum siangmu menjadi radang jika kau kini arang dari sisa pembakaran kegamangan kata-kata dari sajak yang tak bijak biarkan seluruh tanda kau baca dengan kalimat-kalimat yang sungsang melenggang dan bernyanyilah di antara para pedagang dengan bahasa perniagaan singgahilah seluruh lapak-lapak impian sebelum kau bumbui menjadi kenyataan hingga seluruh igauan menjadi matang dan tuanglah seluruh puisi yang kau jerang sekental kopi arang di tepi-tepi jalan sebelum kau kembali terhempas di ujung malam dan ibu menutup pintu kelam yang membuatmu mengerang dalam kerinduan yang panjang hanya untuk mendengar dongeng tentang terang Denpasar 13 02 2017 LEMBAB Baiklah. aku menutup pintu kamar Tak akan ada lagi ketukan di sana Langkahmu sudah lenyap tanpa jejak Hanya ada suara angin di luar jendela Memukul batangnya, menyelinap di daunan Mengapa kau tersenyum melihat ke luar jendela? Tak ada matahari petang di sana Hanya bayangannya merimbun di bawah pohon Merebahkan diri di antara daun-daun kering Meranggaskan musim kering yang panjang Jangan kau aduk siang itu di cangkir Tak ada gula atau ada gula sama saja Tak bisa kau hirup udara yang di luar sana Tubuhmu telah basah oleh kemarahan Mari kita bersulang, melupakan percakapan Sebab, tak ada lagi yang perlu dibicarakan Apakah kau masih merindukan hujan? Hanya ingin meruap bau tanah yang basah? Tak ada lagi ramalan cuaca di televisi Di sana tak ada puisi untuk membasuh dirimu Tanggalkan seluruh pakaianmu Bersetubuhlah dengan seluruh keyakinan Hingga terbakar seluruh kesangsianmu Tanpa sebuah pertengkaran Denpasar Oktober 2017 - 2012
Tag: Puisi
Avatar

Nunung Noor El Niel

Related Posts
Cerpen

Gabriela

BY Putri Handayani Juli 03, 2016

Cerpen: Putri Handayani   “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...

Read More
Cerpen

Wanita Senja

BY Satia Guna Juni 25, 2016

Cerpen: Satia Guna                Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...

Read More