17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
I Made Arya Dwita Dedok adalah satu perupa dari Bali yang mewakili Indonesia. Ia mengatakan, pameran ini penting karena aura berimajinasi akibat pikiran positif dan molekul-molekul pikiran, terasa asyik diajak berkarya. Rasa haus dalam diri dalam berkarya tumbuh seiring aura positif dipancarkan. “Bertemu rekan seniman lintas negara membuka cakrawala kesenirupaan antar perupa itu sendiri,” ujar Dedok.
Indonesia mengirimkan sebanyak 12 perupa. Selain I Made Arya Dwita Dedok yang menggandeng istrinya, juga seorang perupa Grace Tjondronimpuno. Perupa Bali lain yang sering berpameran luar negeri adalah I Ketut Lekung Sugantika. Tuan rumah Singapura mengikutkan partisipasi lebih dominan yakni 17 perupa. Sementara Malaysia paling sedikit menyertakan perupanya yakni sebanyak 6.
Dedok menambahkan pemeran seperti ini membuktikan bahwa sekat dan perbedaan tidak.jadi masalah justru satu hati karena lewat seni. Dalam pameran ini, gayung bersambut akan menjadi perayaan karya besar oleh perupa yang datang. Mereka berlatar belakang yang berbeda berkumpul melupakan egomoni negara berkalaborasi mengambil isu-isu nyata dalam hidup sehari-hari serta merespon sesuatu yang menarik dalam perhatianya.
Pameran ini benar-benar kalaborasi yang membumikan segala bentuk intrik masing-masing pembeda baik personal maupun negara. (T)
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...