Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
***
Menurut Ristekdikti, bidikmisi adalah bantuan biaya pendidikan bagi calon mahasiswa tidak mampu secara ekonomi dan memiliki potensi akademik baik untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi pada program studi unggulan sampai lulus tepat waktu. Bidikmisi kependekan dari Biaya Pendidikan Mahasiswa Miskin Berprestasi. Saat ini, para mahasiswa yang mendapatkan bantuan bidikmisi sedang dilema, gelisah, galau, merana. Persoalannya mudah ditebak, belum cairnya dana bidikmisi. Persoalan itulah yang membuat para mahasiswa bidikmisi mabuk kepayang, terlunta-lunta mencari asupan dana, kesana-kemari mencari alamat (Ayu Ting-Ting, dong). Seperti aku dan teman senasibku—Taufiqurrahman Al-Hafsyi—kesana-kemari mencari sesuap nasi, kok lebay sekali ya. Seperti hari-hari biasanya, aku dan Taufiq memulai aktivitas dengan membuka facebook, update status, membaca buku barang selembar-dua lembar, menulis kalau gak malas, dan memikirkan, mau makan apa hari ini? “Jas, mau makan apa hari ini?” tanyanya padaku ketika aku baru melihat dunia setelah mati sementara. “Apa, ya?” ia balik nanya. “Hmmm...” “Gimana kalau beli mie instan aja, Indomie misalnya, atau mie Sedap, Sarimi barangkali?” “Sudah dua hari aku makan mie, Fiq.” Kali ini mimik wajah Taufiq berubah. Rasa iba kepadaku mungkin. “Gimana kalau kita beli ayam aja sekali-kali?” ujarku. Ia kaget. “Emangnya kamu punya uang? Kan bidikmisi belum cair?” Aku tersenyum walau terlihat tawar. Beberapa menit kemudian... “Fiq, mari makan!” “Udah matang? Cepet banget,” katanya kagum. “Mana ayamnya?” lanjutnya. “Ini,” kataku sambil menunjukkan sesaset Masako rasa ayam. “Weeeladalahhh...” “Ealah, aku ini lagi belajar mengelola keuangan kayak Bu Sri Mulyani, Fiq. Kita sebagai mahasiswa bidikmisi harus hemat. Negara inikan tidak hanya memikirkan dapuranmu tok kan. Kita harus menjadi mahasiswa bidikmisi yang visioner, Fiq.” “Fiq... aku punya rencana...” kataku serius. Kali ini ia memperhatikanku lekat-lekat. “Gimana kalau kita demo saja kampus?” Mukanya merah padam. “Serius?” “Serius.” “Jangan, Jas! Nanti kita dipanggil pihak kampus.” “Itukan hak kita, Fiq.” “Iya aku tahu, Jas. Aku gak berani, Jas.” “Sama aku juga gak.” “Sialan.” Lengang. Aku diam dan Taufiq diam dengan pikiran masing-masing. Mereka dan mencipta, ada kendala apa biaya bidikmisi gak cair-cair. Apa ada kesalahan pada kami selama ini. Apakah IPK kami gak bagus, atau kami jarang bikin PKM, aktif organisasi kampus barangkali, atau keuangan negara sedang devisit? Ah.. dunia memang penuh dengan kemungkinan. Aku tahu, apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh para mahasiswa bidikmisi. Hanya satu, kapan dana itu akan masuk ke rekening para mahasiswa. Banyak yang mengeluhkan akan hal ini dan banyak juga yang tabah akan hal ini, ada juga yang sok kuat. Bagi mahasiswa pribumi, masih lumayan bisa pulang kampung walaupun sabtu-minggu untuk sekedar mengurangi pengeluaran. Lalu, bagaimana dengan mahasiswa perantauan yang jauh dari kampung halaman yang rata-rata penerima bidikmisi adalah mahasiswa yang terlahir dari orangtua petani yang pendapatannya setahun sekali ketika panen raya. Sekali lagi ada yang mengeluh, ada yang tabah, dan ada yang sok kuat. Mahasiswa yang mengeluh, biasanya akan koar-koar di facebook, atau saling bincang kapan bidikmisi cair. Biasanya mahasiswa yang seperti ini adalah anak-anak perantauan. Lalu mahasiswa yang tabah, yang hanya bisa berkata, “Sabar, sabar, dan tunggu,” itu jawaban yang aku terima (e malah nyanyi). Kemudian, mahasiswa yang sok kuat. Mahasiswa seperti ini tidak khawatir walaupun bidikmisi cair akhir semester, soalnya mereka ada uang bulanan dari orangtua, guys. Belum lagi bulan-bulan ini adalah bulan ulang tahun fakultas dan jurusan, yang kadang kala juga membutuhkan uang untuk mensukseskan acara itu. Oh iya lupa, bagi mahasiswa PPL, selamat ya harus ngekos lagi karena ditempatkan di luar kota. Uang lagi. “Jas, kamu ngapain malah ngelamun?” “Masa kita hanya makan Masako, Fiq, nasinya mana?” Taufiq nangis sambil guling-guling. (T)
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...