Angga Wijaya# Puisi: Nocturno, Skizofrenia-3, Skizofrenia-4

Angga Wijaya
by Angga Wijaya — September 30, 2017 in Puisi

Tatkala.co
. NOCTURNO Daun-daun menguning Kenangan membiru Lebam oleh waktu Dimanakah kita bertemu Di ranjang atau kuburan Tempat segala usia Berakhir semestinya Aku merindukanmu, Ibu Maafkan aku tak bisa Membuat kau bahagia Sakit ini merenggut Mimpi dan harapan Beban kupikul sendiri Kadang aku tak kuat Tapi Tuhan baik Kirimkan aku gadis Merawat dan menjagaku Ibu suruh Tuhan? Terima Kasih, Ibu Aku berjanji Giat bekerja Suatu waktu Kita bertemu Lahir kembali Kulihat Ibu Dalam mata Anakku MANUSKRIP DIRI Aku sulit mengingat nama anak-anak Aku lebih suka menatap mata mereka Mata yang penuh kepolosan dan keluguan Juga tawa mereka yang lepas Bersamamu Aku menjadi kanak-kanak lagi Berlari sambil tertawa Melewati hari-hari yang semakin biru Adakah kau lihat bahagia Di mataku Di sekujur tubuhku Kasihmu membuatku bangkit Hari-hari yang kelam Kini berganti rupa Wahai Kekasih Mari mengucap doa Semoga perjalanan kita abadi, meski keabadian Milik Sang Khalik semata SEBELUM PULANG “jangan pulang kita ngobrol dulu,” ucapmu malam berjalan lambat jalanan riuh. kita menatap jendela berembun orang datang dan pergi restoran sebentar tutup kau enggan beranjak ingin mengabadikan perjumpaan kita bukan dengan gambar diambil dari ponsel seperti pasangan remaja genit dan kasmaran melukis malam di pundak waktu seakan tak ada hari esok sebelum pulang kulihat diriku di tajam matamu terbakar api cintamu! TEJAKULA Berapa kelok lagi Mesti kutempuh Untuk sampai padamu Jarak terasa jauh Ingatan melekat Masa laluku Perbincangan kita Menggantung Senja yang muram Celoteh anak-anak Bangunkanku dari mimpi Lukisan gadis kecil Tentang rumah Begitu membekas Dimanakah rumah? Hati yang tulus Rumah bagiku Kembara sunyi Penyair sepi Di matamu Kulihat cinta Sisakan jejak Jalan asing Tak bernama SKIZOFRENIA-3 Isap dan hembuskan rokokmu, agar dunia tahu kita masih ada. Melukis di atas kanvas, tuangkan gelisah dan laramu. Petik gitarmu dan nyanyikan lagu perlawanan. Jika kau lelah tidurlah, biarkan obat yang kau minum bekerja. Jangan pedulikan mereka yang tak peduli padamu. Kita orang terbuang, mereka lelah bersamamu dan membiarkan kau membusuk bertahun-tahun di rumah sakit jiwa. Jangan takut pada malam. Semua akan berlalu seiring pagi menjelang. Ingatlah bahwa duka adalah penawar rasa sakitmu. Menangislah! Bukan untuk dikasihani melainkan untuk bangkit kembali. Mari ber-ria, mari bersuka. Menarilah di bawah rembulan, di malam-malam saat sepi mencekikmu. Alam semesta bersamamu. Kawan abadi bagi setiap luka. SKIZOFRENIA-4 kepada Virginia Woolf Suara-suara itu berbisik di telingaku. Aku tak kuat lagi, kegilaan ini menyiksaku. Tokoh dalam bukuku seakan hidup dan aku ada di dalamnya. Kau dengar, aku mulai berbicara sendiri, meracau tentang sesuatu yang tak kumengerti. Aku berpikir untuk bunuh diri. Maafkan aku, mungkin ini jalan terbaik untuk mengakhiri semua. Jalan menuju desa sepi pagi itu. Daun-daun gugur, burung berkicau dengan riang. Sungai di dekat rumah kita mengalir deras. Air berwarna kecoklatan, hujan semalam membawa lumpur dan keruh. Aku bergegas memakai jaketku dan membuka pintu menuju ke sana. Bisikan di telingaku makin keras dan menyuruhku mengakhiri hidup. Aku tak tahan lagi. Menuju sungai, aku mengambil batu dan kumasukkan ke kantong jaketku lalu masuk ke dalam air. Sesaat aku tercenung, sebelum tenggelam ke dasar sungai. Kesunyian yang amat sangat.
Tag: Puisi
Avatar

Angga Wijaya

Related Posts