Riki Dhamparan Putra# Puisi: Kubutambahan, Tak Jadi Hujan di Singaraja, Pantai Lingga

Riki Dhamparan Putra
by Riki Dhamparan Putra — September 16, 2017 in Puisi

Tatkala.co
. KUBUTAMBAHAN Kau dengar nelayan itu tak pernah lagi kembali Ia menjelma bintang Yang jatuh sesubuh ini. Para leluhur masih Sebisu arca Tak ada yang sanggup mengusiknya Sedang kita tak mungkin menunggu Seperti samudera yang kehilangan warna Dalam tulusnya penyerahan Dan benteng-benteng yang melindungi kita Telah menjadi masa silam Tanah ini tak boleh menyandera kita Kapal-kapal telah tiba Dan kanak-kanak akan memiliki lautan Seluas yang mereka minta Aku memenuhi janjiku Untuk bangkit dari tebaran koral Di sepanjang pantai itu Karena kita adalah satria Dengan punggung karang Dengan sepasang sayap yang menawar haus di kejauhan Di atas bumi dan laut Ketika keduanya menjelma sepasang naga perkasa Dan garis pantai telah memisahkan mereka Kau dengar itu Dan kau tau tak seorang pun dapat menyamai dirinya Dengan apa saja yang ada di atas mereka Juga tidak dengan embun yang menyerap hari-hari Karena kita ada pada lintasan semua itu Seperti angin yang menghempaskan diri pada daun-daun kaktus Yang penuh duri Sementara para leluhur masih sebisu arca Bertahan sebagai benteng Dari masa silam yang tak pernah benar-benar kita miliki Kecuali rasa memiliki itu Yang membuat kita tetap hidup Dengan rasa kasmaran dan penasaran Kepada waktu TAK JADI HUJAN DI SINGARAJA Aku tau kau tak ingin pulang tanpa hujan Burung-burung sudah jauh. Peluit kapal terdengar senja di daratan Oktober penuh teka teki. Bunga bunga mekar tak ingin membagi wangi Aku terluka. Tanah hitam purbanimu mengerjarku bagai akar akar anggur penuh doa ; mungkin sebentang layar. layar? bukan! hanya angin puyuh seribu tangan batu yang sunyi tiba-tiba meronta ingin tumbuh! tiang tiang patah kendi kendi penuh dongeng berjatuhan di pucuk pucuk tanah bagai serpihan kaca benggala lapar dagingku tak puas mengunyahnya Saat itulah aku ingin melupakan segala yang pernah kuketuk di tubuhmu ; desa desa menuju malam. menuju lampu! kutu kutu tanpa pohon mengendap di dasar senyap impianku; buah-buahan yang tak pernah matang gugusan arca dan aroma cengkeh di bukit adalah ombak yang ingin tidur di hamparan pasir penuh bulan Engkau ingin menyepuhnya untukku. Untukku? Jangan, Kekasih! Biarkan saja begitu. Bukankah engkau ingin menjadi hujan yang tak pernah turun di altar cemas musim tanamku? Cuaca begitu liar Dan di bawah bintang jatuh doa doa hanyalah gumpalan angin garam yang gampang terbakar Padam bersama waktu Kembang kembang api di laut adalah tangan lembut bidadari yang ingin kau sentuh dengan hati kanak-kanakmu 2003 PANTAI LINGGA Agar-agar langit Agar-agar langit Tunjukkan kapan dingin menjadi tulang Pantai terlalu licin untuk kutempuh sendirian Kadangkadang dengan angin Kadangkadang saja bergembira Kadangkadang kurasakan laut ini tengah membuang dirinya Menghempaskan aku ke dalam sujud yang tak ada batasnya 1995
Tag: Puisi
Avatar

Riki Dhamparan Putra

Related Posts
Cerpen

Negeri Kopi

BY Ida Ayu Putri Adityarini Agustus 14, 2016

AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...

Read More