Fatah Anshori# Puisi: Membandingkan Tubuh di Genangan

Fatah Anshori
by Fatah Anshori — September 07, 2017 in Puisi

Tatkala.co
. MEMBANDINGKAN TUBUH DI GENANGAN Sejak hari semakin sengit memancarkan debu disekitar kaki para pekerja asing. Langit diam saja dan kenangan tumpah di wajah-wajah yang menahan lelah. Kadang mereka leleh menjadi percakapan yang sia-sia di dekat taman, rel kereta, atau beranda rumah yang menanggung sepi setiap pagi. Tidak ada hujan pagi itu, hanya sebuah genangan. Langit menyimak kota yang bekerja keras membagi dirinya seadil mungkin sebagai rutinitas. Gelisah kadang tumbuh di surat-surat yang tak terbalas, atau kabar -kabar yang tak kunjung datang entah sebagai berita baik atau buruk. Ia sudah lama tidak peduli pada baik dan buruk, jika Tuhan memang menciptakan segalanya dengan sempurna. Langit melihat tubuhnya tidak muat dan terlalu lapang bagi genangan. Tapi mereka yang berjalan di sekitar genangan tubuhnya terlalu kecil. Mereka terlalu mudah masuk dan keluar seperti pengunjung toko yang tidak mengerti apa yang ia cari. Tubuhnya dan tubuh mereka tidak pernah sebanding. sebagai apa yang selalu nyaman dipandang dari teras sewaktu pagi dan sore saja. 2017 TIDAK USAH MURUNG Akulah yang diam-diam bersembunyi di tidur lelapmu sebagai letih yang hendak kau kikis. Aku juga yang tumbuh secara tidak sengaja sebagai semak yang menjagamu dari tatapan asing yang kerap membuat tidurmu terusik. Entah apa yang coba kita pisahkan dari perjalanan panjang yang kian dingin di kening ini. Jika hidup hanya untuk mengejar hal-hal baik, mungkin aku akan menyendiri bersama perkara- perkara yang ingin dintinggalkan dan dilupakan. Aku akan memelihara meraka dan coba meninggalkan segala yang berisik diluar sana. Tubuhku adalah rumah bagi tangisan yang terpendam. Dan lenganku adalah ibu mereka yang mencintai tanpa memaki, kau juga boleh meminjam kaki jika kau berkenan melihat hijau bukit dan sawah yang ditanam dari rasa sakit para petani, Tidak usah murung, kita adalah pengalaman yang belajar dari pecahan rasa sakit dan kepingan air mata. 2017 TIGA EPISODE WAKTU Bahwa cepat atau lambat adalah urusan waktu, kau dan aku terseret di situ sebagai hidangan. Tubuhnya menjadi jalan raya yang mengantar orang-orang memuaskan angan yang kekanak-kanakan di dalam dirinya. Ia tidak mungkin memisahkan hari-hari yang murung dari nasibnya. Tidak ada yang tahu siapa yang telah merajut murung dan cemas menjadi tubuh yang ia kenakan kemana-mana. Ia pergi ke penjahit pada suatu pagi dimana kenangan berguguran seperti bintang yang rontok saat yang di atas sedang murka. Pintunya tertutup, hanya tersisa mesin jahit yang murung di sudut ruang. Bahwa cepat atau lambat adalah urusan waktu, kau dan aku jatuh disana sebagai nelangsa. Pagi mengantarkan ia pada banyak pilihan, namun sejak lahir ia telah akrab dengan dingin dan sepi yang kerap menemani malamnya. Ada musim dingin yang lekat pada serat-serat kain yang ia kenakan sebagai seragam. Ia pergi sejak pagi meninggalkan anak dan tugas-tugas rumah lainnya. Ia sadar dirinya di rajut dari benang-benang hitam dan putih saja. Hitam untuk duka yang pernah mengajaknya pada pesta upacara berkabung. Dan putih untuk hari-hari dimana semuanya tak memiliki rasa, gula dan garam sama saja di mulutnya, hambar dan berwarna putih. Bahwa cepat atau lambat selalu urusan waktu, kau dan aku tersangkut disana sebagai layang-layang putus. Ada yang pernah diterbangkan atas nama kebebasan. Ia melihat sore sebagai surga dimana ia boleh merebahkan tubuh di lapang dada langit. menyandarkan kepala pada empuk mendung yang jernih. Tapi seorang anak kecil di bawah tahu, kapan kau harus diturun dan naikkan. Ia tahu sepanjang apa umur kebahagian yang kau sembunyikan. Tapi sebelum itu, kau pasti melihat desa tak lagi sama. Ada asap yang mulai terbit dan mengusik burung-burung pipit. Jalanan kian memadat seperti awan mendung, buram dan menyesakkan. Rumah-rumah baru merenggut lapangan bola dan tawa riang anak- anak. Kau pasti mengerti perbuatan siapa ini. 2017 DI BULAN AGUSTUS TAHUN INI Di bulan Agustus ia dipenuhi keruh genangan: keramaian dan sepi yang terselip di sana sebagai yang ingin di usir. Setiap malam orang-orang ingin menjadi pemenang dan memukul siapa saja yang berani berdiri di dekatnya, aku hanya duduk sendiri di ujung keramaian sambil sesekali mendengar apa yang ingin di utarakan sepi. Mereka berusaha sekeras mungkin, menjadikan kerakusan sebagai tuan paling agung di dalam dirinya, dan membunuh kecemasan yang kerap menemani mereka tiap malam pada bulan-bulan yang telah lewat. Ia tidak bisa menangkap apa-apa lagi seperti sebelumnya. Bahkan cahaya telah menguap menjadi embun yang menghiasi gambar dan foto kekasihmu. Agustus kembali menyeretku pada hari-hari yang panas: mengubah seluruh percakapan sebagai perlombaan; mengganti harum secangkir kopi dengan amis pertengkaran; niat baik menjadi omong kosong belaka; dan doa adalah sepi yang hendak dibunuh pada malam hari. Ia akhirnya kembali pada satu rumah yang memendam dan mencintai buku cerita. Ia tidur disana, di sela-sela demarkasi sebagai puisi yang belum kutuliskan. 2017 DI KAMAR OPERASI Di kamar operasi kau mencoba mencari lagi, apa yang terselip di urat nadi sebagai pagi yang panjang saat kau menolak pergi dan hanya akan duduk disampingku sambil memandangi langit yang pernah membakarmu dengan ucapan selamat tinggal. Orang-orang asing bekerja dengan pisau masing-masing. Tubuhmu menjadi kue ulang tahun yang rela diacak-acak. Mereka mencari yang ingin kau cari sebagai sakit yang mengendap dan terlalu lama tidur di tubuhmu yang lebih lapang dari wajah pagi itu. Mereka bertanya pada paru-parumu yang biru, pada jantungmu yang menolak mati, juga pada hatimu yang kelam. Tidak ada setumpuk pilu disana, semuanya saling bekerja keras menyisipkan samsara sebagai tubuh yang utuh dan bukan sebagai musuh. Pagi yang panjang, hilang bersama kesal yang mengekal dibalik kemeja yang kau kenakan setiap hari. 2017
Tag: Puisi
Avatar

Fatah Anshori

Related Posts
Cerpen

Purnama Pasah

BY Kadek Desi Nurani Juli 23, 2016

Cerpen: Ni Kadek Desi Nurani Sari Purnama pasah, tiga anak bajang berjalan melenggang ke arah barat tempat di mana, rusuk seorang ibu tersesat jalan pulang. Mereka kembara, membawa...

Read More