Rai Sri Artini# Puisi: Kedai Cungkring, Tentang Kesibukan yang Berkejaran

Rai Sri Artini
by Rai Sri Artini — September 03, 2017 in Puisi

Tatkala.co
. SISA KALIMAT Adakah sisa kalimat untukku ? Jika tidak biarkan aku berlalu Meletakkan diri di tepi sungai agar selalu bercermin dari alir airnya Kulepas kulup murkaku Kulepas sisik egoku Menyaru dalam stupa sampai menjelma setengah Budha Menadahi getah pagi yang kepayang oleh embun Biarlah rautku paham akan rindu yang mangsi Sebab telah kukunci mulut menyesap roh Tuhan dari pori kulit sehingga Gumpalan lemak pecah menjadi daging beraroma dupa Menyelam dalam kalam dan pulang Pada rahim yang paling pagi Adakah sisa kalimat untukku ? Jika ada, biarkan kuresapi ruh tiap huruf Menyaring mana yang pantas meski lewat lensa silindrisku Meraba cahaya yang mungkin jadi puisi di tiap inci tubuhku Agar aku selalu bangun meriwayatkan siang malam Dalam hening yang takzim Merangkum sajak-sajak sunyi dalam lembar-lembar kitab Tanpa menafsir apapun kecuali hal ihwal Kedatangan dan kepergian Tegaljaya, Juni 2017 KE DIRIMU Ke hatimu paling ceruk Kutuangkan anggur dan hosti Mengatupkan hari-hari meragu Yang lama menganga akibat lapar yang purba Bayi-bayi menjerit dalam dada Anggur dan hosti bertukar rupa menjadi cahaya dalam lampin Memiuhkan nestapa yang berbaris rapi di riak darahmu paling dingin Adakah yang lebih mengharukan dari ricik anggur yang menuntaskan dahaga Dan melapangkan jiwa ? Adakah yang lebih menggetarkan dari santapan hosti yang Memaknai langkah demi langkah ? Ke dadamu paling liang Kudaraskan ayat-ayat dan kisah nabi Agar kau paham bahasa Ibu Agar kau jaga jangkar hati dari gelombang yang kuyup oleh liar dunia Ke rindumu paling biru kupetik huruf-huruf senja Menanaknya menjadi doa Membentangkan fragmen syukur Menggenapkan segala yang ganjil Seusai kemarau yang panjang Tegaljaya, Juni 2017 LORONG KEHILANGAN : Bagi Ayah Ibu Kau katakan cara mencium kehilangan Lalu kau tunjukkan lemari tempat kenangan,foto penuh debu, bumbu dapur, sayap-sayap kuno dan tanah tempat mengubur ari-ari Lalu aku menyandingkan kisahku dan kisahmu Mengakrabi kehilangan membiarkan deretan nada keluar Dari celahnya yang hitam Kubaca riwayat air mata di pelupukmu lalu lendir-lendir berjatuhan dari gelak tawa menjelma barisan dosa dan doa Ah, begitu semu batas dosa dan doa di garis matamu Begitu tipis renjana dan lencana dalam degup jantungmu Kini kau menjelma sepasang hujan Menjadi laras bagi musim-musim Di lorong kehilangan banyak orang tersesat Termasuk aku yang tertatih keluar dari pengapnya Di lorong kehilangan keheningan dapat tercipta Dengan memahami kehilangan sebagai siklus Dan jalan menuju kesadaran Kerobokan, Mei 2017 KOTAMU Menunggumu Di kota hujan Tanganku terlipat cemas Langit senja murung memanggil angin Kerinduan meniupkan nelangsa ke penjuru sendiku “Tunggu aku di Bojonggede,” Katamu Pernahkah angin membisikkan harapan kosong di telingamu ? Atau hujan datang mengantar nyanyian sunyi di hatimu ? Di stasiun ini aku merayakan pertemuan Dalam ingatanku kau memilih pergi bagai burung yang selalu nyala dalam rumah ingatan dan asap dupa yang baur dengan udara Akankah kini kau datang meninjau lekuk wajahku yang lama merindumu merindu kotamu Tempat segala angka kita tuangkan Tempat menyatukan dua sumbu melabur jejak sangka kala dengan nyala petir yang liar Seliar parfummu berkelana ke setiap saraf penciumanku Oh, angin yang memerangkapku di pohon sunyi Bawalah tangannya padaku Tangan pemanggil hujan di dadaku Segugus tangan lembut yang selalu melingkar di pinggangku Selembut belaian gerimis Di kotamu yang biru Tegaljaya, 4 April 2017 KEDAI CUNGKRING Telah kau lumat aku dalam bumbu kacang manis Kau lebarkan perih tubuhku menjadi malam panjang Saat kau kunyah potongan kikil sapi Kau menjadi takdir bagi kelahiranku Menimbang-nimbang jarak antara lapar dan nafsu Tangis dan lara Lontong-lontong kehilangan cerita Sebab kebisuan mencatat lebih banyak dosa ketimbang keriangan akan perjamuan di kedai ini Kita terlalu banyak bersepah hingga malaikat beranjak sedari tadi meski harum cungkring masih tersisa di liurnya Ke dadaku paling ceruk kau hidangkan cungkring paling lezat tuk penuhi hasrat purba Kau pungut reremah sesal dan menempelkan identitas di keningku Huruf-huruf berloncatan dari lidahku tak mampu membedakan terang dan mangsi Sesungguhnya aku ingin menjadi bumbu bagi cungkringmu Pelecut gairahmu Namun kau tak pernah ada di kedai ini Tegaljaya, 3 April 2017 TENTANG KESIBUKAN YANG BERKEJARAN Kita tak pernah sepi dari deru kendaraan, asap-asap, alarm Dan dering telepon Selalu berlari dalam lautan rutinitas Segalanya serba terburu-buru Entah apa yang kita buru Kelelahan hinggap di tubuh dan jiwa kita Lama-lama ia berkerak seperti lemak yang mengeras di pembuluh darah Menunggu saatnya pecah Mari kita ke Rancamaya belajar bahagia dari alam Sama seperti ketika pertamakali kata cinta hinggap di telinga Di Rancamaya kita cipta puisi tanpa mengungkit ketiadaan Tapi menumpu harapan tanpa mengeja kesibukan-kesibukan yang berkejaran Kita mulai kehabisan oksigen Tubuhku tubuhmu beku tak mengenal senyum Hanya meruncing jarak Di Rancamaya Diriku : Hirup oksigen sepuasnya, keluarkan getah luka dari kerutan dahi Dan kerutan garis senyum Dirimu : Mengembaralah ke puncak sajak, tebas sekat pekat Biarlah oksigen mencairkan kerak lemak di pembuluh darah Kita tanggalkan segalanya Tambatkan kata-kata dari lidah kaku Menulis segala yang kita pahami Merawat rindu membunuh curiga dan Menerka letakmu di jantungku Tegaljaya, 4 April 2017
Tag: Puisi
Avatar

Rai Sri Artini

Related Posts
Liputan Khusus

Ritual Menanam Beras Merah

BY Jaswanto Mei 28, 2026

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Pria yang diper...

Read More