Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
Bersama 8 pemain inti (termasuk saya), yakni Iin Velentine (Teater Orok), Trees (Teater Orok), Damar (Teater Orok), Anang (Teater Orok), Jecko (Teater Kini Berseri), Novy Rainy (Teater Angin), Wisnu Negara (Teater Kalangan) dan saya. Hampir sebulan terakhir ini kami berdiskusi, di warung kopi, di warung lalapan, di tempat latihan, usai menonton pementasan, saat membuat panggung bahkan sampai di rumah kami tetap berpikir, menggodok ide, konsep, adegan, bunyi apa saja yang ingin dimasukan, pada produksi pementasan yang kami beri judul “Bebunyian”. Bisa dikatakan hampir 70% waktu kami gunakan untuk berdiskusi pada berbagai kesempatan.
Akhirnya kami sepakat untuk mengusung Bali dengan segala kegelisahannya sebagai lini utama pementasan.“Bebunyian” ingin menyampaikan pendapatnya tentang Bali, menerka Bali, mengisahkan Bali, bahkan lebih jauh meramal Bali melalui jejeran fakta, fenomena yang saat ini sedang bergolak. Terutama hal-hal yang menyangkut tentang ikatan manusia terhadap alam sekitarnya. Menjadi topik hangat yang sedang dibicarakan di mana-mana, bolehlah kami para pencinta teater juga membawanya ke ranah pemanggungan. Namun dengan pendekatan yang berbeda, tidak melalui tata logika narasi yang teratur dan harmonis.Melainkan dengan keliaran bahasa bunyi, bahasa gerak, bunyi tubuh dan bunyi tak bernada, namun sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Lompatan-lompatan peritiwa tentang Bali, kami hadirkan dalam adegan yang terkesan sedang berlompatan dari waktu ke waktu. Benang merahnya mungkin samaratau sama sekali tidak terlihat, namun kami berusaha untuk merajutnya agar (terasa) terlihat hangat. Terlebih lagi sebagian besar dari kami dibesarkan di Bali, tentu akan menjadi sah-sah saja saat kritik disampaikan kepada saudara sendiri (autokritik) untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Di tengah latihan kami sering berbincang tentang gerakan Bali Tolak Reklamasi; petani garam tradisional Amed yang terhimpit pembangunan pariwisata; pedagang arak yang sering masuk penjara padahal dia menjaga kearifan lokal Bali; tentang gebogan buah yang didominasi minuman kaleng; tentang tumpek bubuh, tumpek kandang, tumpek wayang yang semakin hari kehilangan esensinya dan seterusnya.
Proses Kreatif
Satu hal yang penting pada pementasan kali ini adalah keberadaan naskah. Kami sama sekali tidak berangkat dari naskah utuh. Kami berdelapan membangunnya di tengah proses latihan, sembari menimbang kemungkinan-kemungkinan estetika di atas panggung. Naskah hanya berupa coretan-coretan di atas kertas nasi, catatan di ponsel pintar, buku sketsanya Rizky Wahyu yang kebetulan suka menggambar. Lalu coretan-coretan itu kami satukan perlahan (diketik ulang) agar mudah diingat dan dipahami.
Ketidakberadaan naskah memberi ruang luas untuk berdebat antar pelaku. Metode ini melatih kami dalam mengambil keputusan agar tidak menyakiti satu sama lain. Jika salah satu orang tidak setuju dengan adegan (gerakan) yang diajukan, ia bisa menyampaikan keberatannya dengan segala alasan yang masuk akal, bukan hanya berdasarkan perasaan kurang “sreg” saja.
Secara tidak langsung kami melatih teater sistematis berdasarkan logika peristiwa, bukan bertumpu berat pada adegan improvisasi.Yang sering terjadi, misalnya satu adegan dianggap kurang, yang lain ikut menambahkan, yang satu menginterpretasi, yang satu mencari respon gerak, yang satu mencari respon bunyinya. Kerja kolektif seperti ini memang membutuhkan kesabaran, keikhlasan serta keberanian untuk mengatakan cukup, sebab kita berangkat dari nol, kapan berhenti pun kadang kita tidak pahami secara sadar. Mengerikan!
Dalam produksi kali ini saya cukup banyak berbincang dengan Rizky Wahyu (Jecko) seorang penari dubstep di Denpasar.Ia memberikan banyak masukan kamus gerakan dan tarian kepada kami. Hampir seluruh gerakan di setiap adegan merupakan cikal bakal dari idenya, kemudian kami “goreng” bersama untuk mencapai energi yang diinginkan.Selain Jecko saya sendiri banyak terpengaruh dari sejumlah pementasan teatar eksperimental seperti Payung Hitam, Teater Garasi, Creamer Box yang saya tonton secara berulang di cannel Youtube.Kendati referensi dari luar Bali, wacana ke-Bali-an tetap kami junjung tinggi sebagai pondasi bangunan pementasan.
Sementara komposisi bunyi banyak mendapat asupan gizi dari Wisnu Negara yang saat ini menempuh studi musik di Amerika. Dari Wisnu, kami belajar banyak tentang musik klasik, komposisi harmonis, atonal dan segala macam teknik-teknik yang tidak kami pahami sebelumnya. Ini menjadi tantangan bagi saya selaku sutradara (hanya formalitas) untuk menyatukan segala macam komponen menjadi satu genggaman pukulan yang baik. Ramuan antara bunyi dan gerak agar tidak saling menonjol, tapi berjalan beriringan, namun juga menghadirkan kejutan-kejutan yang tak terduga bagi penikmatnya.
Terus terang garapan ini masih sangat muda, tapi menarik menjadi variasi tontonan di tengah jagat perteateran di Bali, Denpasar khususnya.Saya mencoba menggarap pementasan di ruang-ruang yang kurang lazim. Konsep tersebut terinspirasi dari pertunjukan musik grup Band Sigurros dari Islandia yang sering pentas musik di gedung tua, di perbukitan, di café kecil, dan lain sebagainya.Kalau di Denpasar biasanya ada Dramawan Abu Bakar yang menyajikan pentas teater rumahan.Pak Abu mengeksplorasi bagian rumah sebagai panggung pementasan.
Memilih lahan pentas secara acak seperti yang kami lakukan tentu memiliki resiko yang cukup tinggi, terutama kami harus observasi lebih dalam atas faktor eksternal tempat pementasan, seperti meminta izin tetangga, kepala dinas, kelian adat, serta pecalang. Selain itu di lahan pentas pun kami mesti melakukan adaptasi ruang dari awal, membuat setting dengan penuh kesadaran agar tidak terlalu banyak mengubah lahan yang sudah ada. Alih-alih membuat bangunan baru, lebih baik mendayakan alam yang sudah ada. Lahan pentas “Bebunyian” adalah tanah milik salah seorang sahabat saya, rencananya di lahan tersebut akan dibangun gudang untuk usaha properti miliknya. Kami memerawani tanahnya terlebih dahulu sebelum dipakai pemiliknya.
Pementasan “Bebunyian” ini, belum utuh sepenuhnya, saya sendiri agak enggan mengatakan pementasan ini adalah akhir, melainkan awa untuk pementasan yang lebih matang, mungkin satu-dua-lima bulan, bahkan setahun lagi.Bagi kami, itu sah sah saja.setiap adegannya masih dapat dikembangkan sampai titik batas tertentu. Untuk itu, perlu masukan dari penonton/undangan yang hadir. Kemudian kami jadikan ramuan untuk pentas berikutnya. Entah kapan, tapi PASTI! Selamat menikmati.
Teater Kalangan 2017
Baca juga: Catatan Penata Bunyi Sebelum Pentas
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...