Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
Bersama 8 pemain inti (termasuk saya), yakni Iin Velentine (Teater Orok), Trees (Teater Orok), Damar (Teater Orok), Anang (Teater Orok), Jecko (Teater Kini Berseri), Novy Rainy (Teater Angin), Wisnu Negara (Teater Kalangan) dan saya. Hampir sebulan terakhir ini kami berdiskusi, di warung kopi, di warung lalapan, di tempat latihan, usai menonton pementasan, saat membuat panggung bahkan sampai di rumah kami tetap berpikir, menggodok ide, konsep, adegan, bunyi apa saja yang ingin dimasukan, pada produksi pementasan yang kami beri judul “Bebunyian”. Bisa dikatakan hampir 70% waktu kami gunakan untuk berdiskusi pada berbagai kesempatan.
Akhirnya kami sepakat untuk mengusung Bali dengan segala kegelisahannya sebagai lini utama pementasan.“Bebunyian” ingin menyampaikan pendapatnya tentang Bali, menerka Bali, mengisahkan Bali, bahkan lebih jauh meramal Bali melalui jejeran fakta, fenomena yang saat ini sedang bergolak. Terutama hal-hal yang menyangkut tentang ikatan manusia terhadap alam sekitarnya. Menjadi topik hangat yang sedang dibicarakan di mana-mana, bolehlah kami para pencinta teater juga membawanya ke ranah pemanggungan. Namun dengan pendekatan yang berbeda, tidak melalui tata logika narasi yang teratur dan harmonis.Melainkan dengan keliaran bahasa bunyi, bahasa gerak, bunyi tubuh dan bunyi tak bernada, namun sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Lompatan-lompatan peritiwa tentang Bali, kami hadirkan dalam adegan yang terkesan sedang berlompatan dari waktu ke waktu. Benang merahnya mungkin samaratau sama sekali tidak terlihat, namun kami berusaha untuk merajutnya agar (terasa) terlihat hangat. Terlebih lagi sebagian besar dari kami dibesarkan di Bali, tentu akan menjadi sah-sah saja saat kritik disampaikan kepada saudara sendiri (autokritik) untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Di tengah latihan kami sering berbincang tentang gerakan Bali Tolak Reklamasi; petani garam tradisional Amed yang terhimpit pembangunan pariwisata; pedagang arak yang sering masuk penjara padahal dia menjaga kearifan lokal Bali; tentang gebogan buah yang didominasi minuman kaleng; tentang tumpek bubuh, tumpek kandang, tumpek wayang yang semakin hari kehilangan esensinya dan seterusnya.
Proses Kreatif
Satu hal yang penting pada pementasan kali ini adalah keberadaan naskah. Kami sama sekali tidak berangkat dari naskah utuh. Kami berdelapan membangunnya di tengah proses latihan, sembari menimbang kemungkinan-kemungkinan estetika di atas panggung. Naskah hanya berupa coretan-coretan di atas kertas nasi, catatan di ponsel pintar, buku sketsanya Rizky Wahyu yang kebetulan suka menggambar. Lalu coretan-coretan itu kami satukan perlahan (diketik ulang) agar mudah diingat dan dipahami.
Ketidakberadaan naskah memberi ruang luas untuk berdebat antar pelaku. Metode ini melatih kami dalam mengambil keputusan agar tidak menyakiti satu sama lain. Jika salah satu orang tidak setuju dengan adegan (gerakan) yang diajukan, ia bisa menyampaikan keberatannya dengan segala alasan yang masuk akal, bukan hanya berdasarkan perasaan kurang “sreg” saja.
Secara tidak langsung kami melatih teater sistematis berdasarkan logika peristiwa, bukan bertumpu berat pada adegan improvisasi.Yang sering terjadi, misalnya satu adegan dianggap kurang, yang lain ikut menambahkan, yang satu menginterpretasi, yang satu mencari respon gerak, yang satu mencari respon bunyinya. Kerja kolektif seperti ini memang membutuhkan kesabaran, keikhlasan serta keberanian untuk mengatakan cukup, sebab kita berangkat dari nol, kapan berhenti pun kadang kita tidak pahami secara sadar. Mengerikan!
Dalam produksi kali ini saya cukup banyak berbincang dengan Rizky Wahyu (Jecko) seorang penari dubstep di Denpasar.Ia memberikan banyak masukan kamus gerakan dan tarian kepada kami. Hampir seluruh gerakan di setiap adegan merupakan cikal bakal dari idenya, kemudian kami “goreng” bersama untuk mencapai energi yang diinginkan.Selain Jecko saya sendiri banyak terpengaruh dari sejumlah pementasan teatar eksperimental seperti Payung Hitam, Teater Garasi, Creamer Box yang saya tonton secara berulang di cannel Youtube.Kendati referensi dari luar Bali, wacana ke-Bali-an tetap kami junjung tinggi sebagai pondasi bangunan pementasan.
Sementara komposisi bunyi banyak mendapat asupan gizi dari Wisnu Negara yang saat ini menempuh studi musik di Amerika. Dari Wisnu, kami belajar banyak tentang musik klasik, komposisi harmonis, atonal dan segala macam teknik-teknik yang tidak kami pahami sebelumnya. Ini menjadi tantangan bagi saya selaku sutradara (hanya formalitas) untuk menyatukan segala macam komponen menjadi satu genggaman pukulan yang baik. Ramuan antara bunyi dan gerak agar tidak saling menonjol, tapi berjalan beriringan, namun juga menghadirkan kejutan-kejutan yang tak terduga bagi penikmatnya.
Terus terang garapan ini masih sangat muda, tapi menarik menjadi variasi tontonan di tengah jagat perteateran di Bali, Denpasar khususnya.Saya mencoba menggarap pementasan di ruang-ruang yang kurang lazim. Konsep tersebut terinspirasi dari pertunjukan musik grup Band Sigurros dari Islandia yang sering pentas musik di gedung tua, di perbukitan, di café kecil, dan lain sebagainya.Kalau di Denpasar biasanya ada Dramawan Abu Bakar yang menyajikan pentas teater rumahan.Pak Abu mengeksplorasi bagian rumah sebagai panggung pementasan.
Memilih lahan pentas secara acak seperti yang kami lakukan tentu memiliki resiko yang cukup tinggi, terutama kami harus observasi lebih dalam atas faktor eksternal tempat pementasan, seperti meminta izin tetangga, kepala dinas, kelian adat, serta pecalang. Selain itu di lahan pentas pun kami mesti melakukan adaptasi ruang dari awal, membuat setting dengan penuh kesadaran agar tidak terlalu banyak mengubah lahan yang sudah ada. Alih-alih membuat bangunan baru, lebih baik mendayakan alam yang sudah ada. Lahan pentas “Bebunyian” adalah tanah milik salah seorang sahabat saya, rencananya di lahan tersebut akan dibangun gudang untuk usaha properti miliknya. Kami memerawani tanahnya terlebih dahulu sebelum dipakai pemiliknya.
Pementasan “Bebunyian” ini, belum utuh sepenuhnya, saya sendiri agak enggan mengatakan pementasan ini adalah akhir, melainkan awa untuk pementasan yang lebih matang, mungkin satu-dua-lima bulan, bahkan setahun lagi.Bagi kami, itu sah sah saja.setiap adegannya masih dapat dikembangkan sampai titik batas tertentu. Untuk itu, perlu masukan dari penonton/undangan yang hadir. Kemudian kami jadikan ramuan untuk pentas berikutnya. Entah kapan, tapi PASTI! Selamat menikmati.
Teater Kalangan 2017
Baca juga: Catatan Penata Bunyi Sebelum Pentas
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
PADA zaman maya saat ini, seorang remaja tanpa menyentuh gadget atau handphone selama satu hari saja sudah termasuk hebat. Tapi di Desa Bungaya, Karangasem, Bali, ratusan remaja pu...
KESULITAN terbesar saya ketika harus membicarakan sajak-sajak Nuryana Asmaudi SA yang terkumpul dalam buku "Doa Bulan untuk Pungguk" (DBUP) adalah upaya menghilangkan bayang-bayang...
JIKA ingin melihat sejati-jatinya festival yang jujur, tanpa pesan ini-itu, tanpa pidato ini-itu, tanpa kampanye ini-itu, tanpa bau politik dan kekuasaan, tanpa EO dan panitia over...
MAHASISWA adalah sebutan untuk “siswa” dengan tambahan kata “maha” di depannya. Maha artinya besar. Mahasiswa tentu bukan lagi siswa biasa. Kehidupan siswa bisa bergantung pada or...
Cerpen: Made Adnyana Ole TUBUH mungil gadis itu ditusuk pedang cahaya ketika sinar purnama menerobos di sela ranting gaharu. Cahaya memantul dari tubuhnya hingga hutan kecil di tep...
IGAU andaikata rumput berwarna merah muda, sapi-sapi mungkin saja berwarna jingga. dan kau berdiri di atas batu kuning mengenakan sepatu hijau, menembaki aku dengan senapan buru l...
MASA KKN (Kuliah Kerja Nyata) kini sudah usai. Acara perpisahan di balai desa atau di lapangan umum sudah digelar dengan meriah, penuh canda sekaligus haru. Namun, setelah KKN buba...
MENYELENGGARAKAN ngaben megah menghabiskan banyak uang, diurus oleh beratus-ratus orang dengan uang ratusan juta rupiah, adalah salah satu contoh, betapa orang Bali senang sekali m...
BERBICARA sebagai orang awam, sembari turut menilai fenomena dan paradigma tentang berbagai hal yang terjadi di masyarakat, tentu dengan guyonan ringan ditambah dengan sruputan kop...