Menyelami Doa Puisi Saras Dewi – Ulasan Kecil Buku “Kekasih Teluk”

Wulan Dewi Saraswati
by Wulan Dewi Saraswati — Agustus 20, 2017 in Ulasan

Tatkala.co
 
  • Kumpulan Puisi KEKASIH TELUK
  • Penulis : Saras Dewi
  • Editor/Proof-Read : Olin Monteiro
  • Kata Pengantar : Joko Pinurbo
  • Ilustrasi:  Parwa Lay-Out :Arif Hidayatullah
  • Penerbit : PBP Publishing  / PWAG Indonesia
  • Cetakan Pertama : Maret 2017
PUISI Saras Dewi merupakan puisi yang segar untuk dinikmati dan dipahami. Puisi yang dihadirkan oleh Saras Dewi sebagian besar adalah bentuk kecewa, kemarahan, dan gugatan terhadap manusia perusak alam.  Rasa kecewa itu seperti tidak henti menjadi perjalanan puisi Saras Dewi. Puisi yang tersaji sangat menarik karena pembaca akan memahami kekecewaan sekaligus harapan di dalamnya. Ketika menyampaikan keterhubungan antara kecewa dan harapan, Saras Dewi lebih memilih untuk bertimbang rasa kepada alam. Dialog-dialog pada alam sangat terasa dalam kumpulan puisi Kekasih Teluk ini. Saras Dewi mengajak alam berbicara seolah bersama kawan, kekasih, bahkan Ibu. Menyelami puisi Saras Dewi seperti menyelami rahim ibu. Kembali pada ibu yakni alam. Seperti pada puisinya yang berjudul Ibu  Aku tidak mau manusia menang Dalam perkelahian tidak setimbang dengan alam Sebab bila mereka menang, berarti mereka telah kalah Karena mereka sejatinya membunuh, Ibunya sendiri Menghormati ibu sama halnya dengan menghormati alam. Saras Dewi mengajak Ibu untuk bertimbang rasa dan berkeluh kesah. “Mereka” dalam puisi ini mengacu pada manusia yang semakin jemawa menindas alam. Kekecewaan itu juga terasa pada puisi Pernyataan untuk Teluk Di atas pasir yang basah Aku tuliskan pertanyaan kepada Teluk, “Mengapa begitu sakit untuk mencintaimu?” Aku menatap huruf-huruf itu Yang jawabannya sudah tersembunyi di nadiku Ombak datang lalu menghapuskan pertanyaan itu Lagi kutuliskan dengan ujung telunjuk “Mengapa begitu pilu untuk mencintaimu?” Penggalan puisi tersebut penulis kembali berdialog dengan alam kali ini Teluk. Perbincangan itu seperti rasa sakit hati karena begitu mencintai. Pada puisi ini Saras Dewi menghadirkan alam bagai kekasihnya yang sangat sulit untuk dipertahankan. Hal serupa juga terdapat pada puisi  Percumbuan dengan Teluk Cara bercinta dengan Teluk Tanpa tergesa-gesa Sebab Mahakala mengendurkan Ikatan waktu yang lazimnya mengekang dunia Bibirku yang panas Mengarungi lekuk tubuh Teluk Dadaku menindih dadanya Debarannya melahirkan tunas-tunas puisi Saras Dewi mencurahkan cintanya pada alam seperti dia menghormati manusia. Baginya alam adalah rumah yang penuh dengan cerita dan taksu. Bahkan pada puisi Rumah untuk Semua mampu menghadirkan percik-percik kisah dari Sanur.  Sanur adalah sahabat Ibu Yang memohon berkat untuk bayi mungilnya Agar matahari menguatkan tulang kecilnya …. Milayaran cerita tumpah ruah di Sanur Energinya menyala-nyala, Bermukim didalam jiwa para pemujanya Taksu Sanur, Taksu Sanur, Taksu Sanur  Selain soal Teluk, romansa serupa juga hadir pada Sanur. Beberapa puisi tentang Sanur juga hadir dan memberikan karakteristik kisahnya. Seperti pada judul Sanur dan Mereka yang Menjaga Sanur. Dari berbagai kekecewaan dan hasrat mengugat Saras, sampailah pada doa yang dia panjatkan tanpa nama agama.   Agamaku tidak diciptakan tuhan Atau para dewata Ia dinyanyikan oleh lumba-lumba Yang senyumnya mengajarkanku, Kebebasan … Keyakinanku tidak bertempat, Di rumah ibadah buatan manusia Laut adalah persemayaman yang luhur Pegunungan adalah kesaktian semesta Padang lamun adalah ruang suciku. Agamaku tidak dituliskan Dalam aksara-aksara pewahyuan Agamaku tertera didalam guratan batang-batang pepohonan raksasa. Ayat-ayat kehidupan terpatri Didalam kulit mereka. Puisi pembuka pada kumpulan puisi ini yakni “Agamaku”. Pembuka yang menjadi kesimpulan atas tujuan dan impian Saras Dewi bahwa tumbuhan dan hewan merupakan kebebasan yang luhur dan ruang suci untuk menyelami kehidupan. Wujud permohonan maaf juga dia sampaikan kepada hewan yang sangat jarang kita lihat proses ini. Wujud permohonan maaf itu terlihat pada puisi Nyanyian Terakhir Yang tersisa hanya permohonan maaf Dibalut dengan ribuan lapis air mata, Juga bertumpuk rasa sesal yang tiada berujung Maafkan aku burung layang Maafkan aku pohon cendana Maafkan aku paus biru Maafkan aku orang utan   Saras Dewi memiliki caranya sendiri untuk berdoa sebagai permohonan maaf dan rasa cinta. Bentuk penghormatan kepada alam ini juga terlihat di Bali pada ritual Tumpek Kandang yakni penghormatan dan rasa syukur kepada hewan yang telah memberikan kehidupan bagi manusia. Namun, Saras Dewi justru meminta maaf. Permohonan maaf tersebut lebih dalam dibandingkan hanya rasa terima kasih. Maka rasa memiliki sangat nyata dalam puisi-puisi Saras Dewi. Berawal dari kecewa kumudian menyepi menjadi doa cinta yang tetap akan memberikan harapan untuk hidup di hari esok. Puisi Pinta adalah bentuk keihklasan atas penerimaan yang terjadi. Segala harapan diyakini akan tumbuh dalam senyuman. Izinkanlah aku, menulis untukmu Cintaku bebas, Ia tidak menuntut apapun sebagai imbalan Ia menerima perih kerugian Sebagai mutiara didalam senyuman Harapan masih menyala, doa masih dipanjatkan, cinta masih menjadi bahagia. Selama semua itu utuh, maka puisi akan selalu hadir memberi ruang segar untuk setiap kepenatan jiwa dan kehidupan. Selamat atas lahirnya Kekasih Teluk. Kelak puisi akan hadir sebagai keberanian untuk tetap hidup memperjuangkan kehidupan bagi semua makhluk, seperti kata Pramoedya Ananta Toer “Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?” (T) Singaraja, 20 Agustus 2017
Avatar

Wulan Dewi Saraswati

Related Posts
Khas

Mengagumi Mobil Mini

BY Jaswanto Juni 22, 2026

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran International Automodified (...

Read More