Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Cerpen: Dee Hwang
PAGI ini, Remuna bangun tidur dengan wajah berseri-seri. Tidak ada yang lebih menyenangkan hatinya kecuali perumpamaan bahwa cinta mungkin sudah berbalas baginya. Ketika ia menghadapi kaca dan menemukan sehelai bulu mata jatuh di atas pipinya, ia langsung teringat dengan lelaki itu. Sebenarnya, ia kenal, tapi tak begitu lama dengan lelaki itu. Baru seminggu. Lewat Facebook. Sekedar lewat. Tapi, entah bagaimana, ia meninggalkan sesuatu yang membuat Remuna terkenang-kenang. Inikah cinta pada pandangan pertama? Uh. Bila cinta selalu tegak pada segala kemungkinan, maka cinta di media sosial cukup wajar menurutnya. Tiba-tiba saja seseorang itu muncul. Lelaki itu datang dengan profil yang...tampan. Rendah hati. Pandai. Punya kemauan untuk mendengarkan. Orang terkenal lagi. Apakah lelaki itu menghubungi Remuna karena foto profil Remuna menangkap hatinya? Apakah Remuna dirasa punya kualifikasi buat jadi calon istri? Remuna tersenyum-senyum. Sambil memandangi bulu mata yang diletakkannya di ujung telunjuk, ia teringat percakapan mereka. Bukan percakapan yang sering. Bukan yang panjang. Mungkin baru tiga kali. Itu pun setiap tengah malam. Mungkin lelaki itu sibuk dengan pekerjaannya. Maklum, orang kota. Kota besar. Sebenarnya, Remuna tidak hendak memberikan balasan, tapi apa yang bisa ia lakukan kalau lelaki itu datang dengan ajakan untuk menikah?***
Sebenarnya, Remuna merasa mengkhianati dirinya sendiri. Remuna, dalam sejarah kehidupannya, sudah memutuskan untuk tidak menikah. Ini langkah yang dibalas oleh keluarganya dengan urutan di dada. Terutama Umaknya. Disangka punya kesenangan sesama jenis, ternyata Remuna memang tidak tertarik pada jenis kelamin apapun. Bukan karena ia hilang nafsu. Ia hilang kepercayaan—cinta di hatinya yang perawan itu adalah penyakit dan penderitaan dan baginya itu cukup buat meleburkan segala keromantisan. Bila kau tanya, maka keyakinannya bahwa menikah, punya anak, menghabiskan hidup bersama seseorang adalah omong kosong, adalah sumbangan dari keputusan Umak-nya sendiri. Umak-nya hobi kawin-cerai. Sudah lima kali. Tahun depan, bisa saja tujuh kali. Oleh karena itu, Umak-nya cuma bisa mengurut dada—mengucap Tuhan ia merasa berdosa, kecuali kalau mengucap nama suaminya satu-satu, ia tak merasa sia-sia. Mendapati kehidupan yang tak pernah damai dari pernikahan Umak-nya yang kesekian itu, Remuna memutuskan buat tidak menikah. Sebenarnya, Remuna bukan perempuan buruk muka. Dia cantik. Kulitnya putih. Tak punya cacat. Pintar. Sekolahnya tinggi sampai ke seberang pulau. Punya kemampuan menundukkan hati siapa saja. Tapi, mungkin karena sudah pekat kebenciannya pada berbagai hubungan, maka ia tak punya teman kecuali dari media sosial yang menawarkan banyak jalan pintas buat dikenal. Remuna tidak tahu kalau hal itu bisa luntur cuma karena kehadiran satu orang. Remuna merasa ia harus membuka pintu hatinya sekarang, entah bagaimana. Seperti yang sudah kujelaskan di muka, Remuna dibuat terkenang-kenang. Ketika lelaki itu bertanya apakah Remuna masih sendiri, ketika lelaki itu menjelaskan seberapa rendah hatinya mengalah buat perempuan, dan ketika ia bertanya di mana alamat rumah Remuna, malam harinya, Remuna malah mimpi duduk di atas pelaminan.***
Remuna menatapi bulu mata yang jatuh di pipinya pagi ini. Kata orang dulu, itu artinya ada seseorang yang merindukannya. Entah siapa. Entah dimana. Apa lelaki itu? Boleh jadi. Mana tahu. Semoga betul. Remuna kan tak punya banyak kenalan lelaki—apalagi yang mau mengajaknya menikah. Dulu, Remuna menganggap ia sudah memikirkan matang-matang. Menurutnya, menikah tidak pernah mendatangkan kedamaian. Kalau tidak, buat apa Umak-nya menikah sampai lima kali? Remuna saja bingung mana Bapang-nya. Oleh karenanya, semua lelaki yang menikahi Umak-nya tak pernah ia panggil dengan sebutan sebagaimana orangtua, kecuali orang itu. Ya. Orang satu. Orang dua. Orang tiga. Orang....beruntung semua Bapang sambungnya tak pusing memikirkan sapaan. Menikahi janda jarang ada yang lurus dengan mengangkat anak. Remuna duduk di tepi tempat tidurnya, mengambil selembar sapu tangan, meletakkan bulu matanya itu hati-hati. Sudah lupa ia dengan bau badannya sendiri. Sudah lupa ia kalau perutnya kempis karena tak diisi sejak sore kemarin. Sudah lupa ia kalau ia sudah berkepala tiga. Sudah lupa Remuna kalau Umak-nya yang sudah pergi dengan orang kelima ke pulau seberang, sudah meninggal semester lalu. Lupa Remuna kalau ia hidup sendirian di rumah ini. Yang Remuna ingat hanya lelaki itu. Tetapi, apakah itu cukup? Remuna berkaca lagi. Sebenarnya, bingung, dia. Apakah ini sebab mengapa lelaki itu tak lagi muncul sampai sekarang? Oh. Dia terlalu sibuk. Maklum, orang kota. Kota besar. Bukankah ia penyair yang terkenal itu, yang sekarang lagi sibuk-sibuknya meluncurkan buku ketiganya? Apakah nama Remuna ada di situ? Atau, ia bukan satu-satunya perempuan yang diajak buat menikah? Apakah satu perempuan saja kurang buat jadi sumber kata-katanya? Remuna berkaca lagi. Ia sudah lupa bagaimana kesepian, sebagaimana yang Umak-nya hadapi dulu sehingga tak habis-habis menikah itu, berpotensi melalap ingatan habis-habisan. Lelaki itu harus jadi milik Remuna. Remuna memang merasa sudah mengkhianati dirinya sendiri, namun, mau bagaimana lagi. Remuna yang lama sudah mati. Remuna yang ini Remuna yang baru—ia perempuan yangsedang menghadapi cermin, dan mencabuti bulu matanya satu-satu. (T)
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...