Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi
APA yang tebersit ketika kita membayangkan kata grafis dalam kacamata kesenian hari ini? Bagaimana posisinya, atau bahkan eksistensinya, di era ketika hampir segala hal sah untuk...
Cerpen: Devy Gita
LAUT, aku datang lagi. Kembali menduduki pasirmu yang kasar. memandangimu yang sedang tenang saat ini. Hembusan angin menggelitik pipiku lalu menelusup di belakang telinga. Kau selalu bisa memanjakanku dengan caramu. Karena itu, aku selalu datang dan datang lagi. Aku harap kau senang. Mudah-mudahan begitu. Sebab, aku tak tahu lagi ke mana aku akan pergi jika kau bosan padaku dan pada cerita-ceritaku. Seperti biasa, aku akan berdiam di bawah pohon kelapa yang kuharap kali ini tidak membuatku terkejut. Kemarin, dia menjatuhkan buahnya tepat di sebelahku. Itu cukup membuatku terlonjak. Lain kali, mintalah dia menjatuhkan buahnya yang masih muda. Agar aku bisa menikmati segarnya. Itupun kalau aku bisa membelahnya. Aku selalu menumpahkan isi kepalaku kepadamu, laut. Kali ini pun begitu. Senja ini, saat matahari perlihatkan semburat jingga aku sudah siap dengan kisahku. Bukan lagi kisah tentang orang tuaku yang tidak harmonis. Pasti kau sudah bosan dengan keluhku pasal rumah yang selalu sunyi sehingga membuatku kosong hingga aku selalu berlari padamu. Lalu apa? Kau mulai penasaran, mulai bertanya-tanya apakah yang akan gadis aneh ini sampaikan. Well, aku bertemu seseorang. Ya, seorang pria. Bertemu dengannya di tempat biasa aku mengamen bersama puisi-puisiku. Dia ada di sana. Aku bagai tersihir. Tak bisa berhenti menatapnya. Dia lebih indah dari puisi yang kulantunkan bersama gitarku. Ekor mataku mengikuti kemanapun dia bergerak. Aku tidak pernah seperti ini. Kau tahu itu kan? Dia bagai medan magnet, dan aku tertarik ke arahnya. Kami berasal dari kutub yang berbeda mungkin. Tarikan kosmis? Aku tak pernah dengar, yang aku mengerti, napasku seperti berhenti, seolah ada puluhan tentara menderapkan kaki mereka di dadaku, serta ratusan kupu-kupu beterbangan dalam perutku. Mungkin kau akan mengatakan kalau aku sangat berlebihan. Tapi aku tak merasa seperti itu. Pria itu ada di sana, saat aku memetik gitarku. Dia tidak tinggi untuk ukuran seorang pria. Kulitnya gelap dengan rambut yang rapi. Hei, dia menyapa semua orang. Mereka pun seperti sudah sangat mengenal laki-laki dengan kumis dan jenggot tipisnya itu. Tapi, kenapa aku baru kali ini menyadari kehadirannya? Nama? Laut, kau bertanya siapa namanya? Kau tertawa saat aku mengatakan aku hanya berani menatapnya dari jauh. Bahkan, aku tidak sempat berkata halo saat itu. Aku tidak sepenakut itu, kau tahu. Ya, ya, aku tidak langsung menyapanya. Aku bertanya tentangnya pada seseorang. Kau benar, laut, nyaliku belum terlalu besar untuk bertanya langsung padanya. Tertawalah sepuasmu. Namanya, Sakti. Dyama Sakti Wijaya. Nama yang indah bukan? Aku menelusurinya di media sosial. Tidak sulit menemukannya. Tiba-tiba aku merasa semakin rendah diri. Seperti remah-remah biskuit, terjatuh ke tanah, terinjak kemudian tersapu angin. Wow, apakah aku semenyedihkan itu? Bagaimana menurutmu, laut? Mudah-mudahan saja tidak, karena aku memberanikan diri untuk menyapanya di media sosial. Setidaknya perkembangan yang positif. Aku meleleh, dia begitu ramah. Dia memang ramah pada semua orang. Aku mulai menyusut, lagi.. Tidak seperti diriku, entah dari mana asalnya nyali ini, aku berkunjung ke tempat tinggalnya. Aku merayunya? Hmm.. Aku tidak pandai merayu. Kami bercakap, semakin dekat, semakin dekat. Kami berpeluk.. Aku bagai mendapatkan sayap. Energi yang aku tidak mengerti menjalar dari telapak kakiku. Naik perlahan berhenti di dalam perutku, berputar dan merangkak memeras dadaku. Aku terlonjak. “Kau seorang istri, seharusnya berada di rumah dan mengurus anak!” “Lalu, uang akan datang darimana jika kau sendiri sebagai suami tidak menafkahi?” Tiba-tiba aku terpekik, dia kaget. Aku teringat orang tuaku, suasana rumahku. Ayah dan ibuku yang saling tidak bicara. Kalaupun mereka bicara hanya ada teriakan, cacian. Aku tidak boleh mencintai siapapun. Aku tak boleh jatuh ke pelukan siapapun. Mereka membuatku muak akan cinta. Akupun terisak. Sakti menciumi keningku. Turun pelan menyentuh bibirku. Memelukku semakin erat, mataku terpejam. Tidak, laut, aku belum menyerahkan diriku sepenuhnya. Tenang saja, aku masih ingat akan diriku. Aku tidak mau mengulang tragedi yang terjadi pada ibu. Harus menikah di usianya yang sangat muda, melahirkanku, kehilangan separuh hidup dan mengubur mimpinya. Lantas? Biarkan aku bernapas sebentar sebelum aku melanjutkan kisahku. Saat ini bayangan ayah yang mengendap-endap dalam kepalaku. Dia pulang dalam keadaan mabuk lagi malam kemarin, sementara ibuku belum tiba di rumah. Aku mengunci diriku di dalam kamar. Ayah melempar barang-barang yang ada di luar. Dia belum lagi mendapatkan pekerjaan, wanita simpanannya merongrongnya, lalu dia mengosongkan dompet ibu. Airmataku sudah beku akan kelakuan mereka. Apa yang mereka pertahankan? Sebaiknya mereka berpisah saja. Atau aku saja yang pergi dari mereka? Semakin dingin saja, andai Sakti ada di sini berpeluk denganku. Aku masih merasakan napasnya, detak jantungnya. Bayanganku pada dekapnya semakin nyalang. Liar, Sakti mulai menghujam kecupan pada sekujur tubuhku. Aku membeku, kaku. “Mintalah perempuan jalang itu mengurusmu, jangan aku!” “Setidaknya perempuan itu lebih bernafsu, dari pada kau!” Kututup telingaku, sial.. Nafsu? Sakti memandangku penuh tanya. Matanya indah menyusuri wajah dan leherku. Ini bukan cinta, tidak ada cinta di antara kami. Aku sebatas mengaguminya. Mereka menyebutnya nafsu, aku belum mengerti. Sakti mendekapku tak membiarkanku pergi. Menahanku penuh pesona. Aku berbisik di telinganya: Belum ku memuja. Hanya terkesima. Kau tenang saja, waktu takkan memaksa. Bait-bait terlantun untukmu. Rinai dan pelangi kan bertemu. Mungkin bagimu semu. Saat kau buat tubuhku kaku. “Apa alasanmu, menahanku?” tanyaku lirih “Aku tak perlu alasan untuk setiap tindakanku.” jawabnya Ranjangnya berderit saat aku beranjak dan melepaskan pelukannya. Dia bergeming, kami saling tatap. Apa yang sebenarnya dia inginkan? Kami bukan siapa-siapa tapi sama-sama menikmati sentuhan itu. Ini salah, aku tahu kau menyalahkanku, laut. Dia tidak menganggapku siapa-siapa, namun aku mengijinkannya mennyentuhku, menciumku dan sialnya aku menyukainya. Perempuan macam apa aku ini? Aku tidak peduli. Aku sedang menghukum diriku, atau mungkin sedang memberikan liburan pada tubuh dan jiwaku. Mereka terlalu jenuh akan cinta palsu dari orang tua palsu yang berpura-pura saling mencintai di depan semua orang. Aku menikmati sentuhan tanpa cinta sebab aku tidak mengijinkan diriku untuk mencintai. Untuk apa cinta dan status jika kita bisa menari di atas tubuh satu sama lain? Ikatan bagiku hanya ilusi. Bukan ketakutan, hanya saja bagiku itu semua semu. Aku tak percaya cinta, yang ada nafsu untuk menguasai satu sama lain. Menguasai jiwa dan juga raga. Jatuh cinta, terikat, bosan, penghianatan. Itu-itu saja. Di sinilah aku sekarang, bercerita padamu di bawah terang rembulan. Masih sendiri seperti biasa. Ditemani hanya deburan pelan ombakmu dan bisikkan angin malam. Di mana Sakti? Aku tak tahu dan sedang tak ingin tahu. Dan kau tahu aku berbohong soal itu kan? Sakti bukan siapa-siapa, rindu tak bertali tapi dia mengikatku dengan ajaib. Rindu itu pun akan lepas, terbang, hilang. (T) Denpasar, 26 Juli 2017
APA yang tebersit ketika kita membayangkan kata grafis dalam kacamata kesenian hari ini? Bagaimana posisinya, atau bahkan eksistensinya, di era ketika hampir segala hal sah untuk...
KOMUNIKASI lingkungan lahir dari sinergi dua disiplin ilmu utama, yakni ilmu komunikasi dan ilmu lingkungan. Perjumpaan ini bukanlah pertemuan yang kebetulan, melainkan sebuah keb...
Ada yang membanggakan pada Wimbakara (Lomba) Gending Rare peserta SD di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu 8 Pebruari 2026. Seluruh peserta tampil dengan kualit...
BALI-Indonesia dan Korea Selatan segera menjalin kerjasama dalam bidang seni dan pendidikan. Ini terjadi setelah akademisi dan maestro seni Prof. I Wayan Dibia dari Bali ber...
Bayangkan sebuah suara yang lahir dari tubuh yang tak lagi bisa bergerak, namun justru bergerak paling jauh, menembus dinding waktu, menyeberangi generasi, dan menyentuh ruang pal...
LUDWIG Wittgenstein said that language is not a monolithic thing, but rather a concept structured based on social consensus. Wittgenstein called this concept language games. For m...
SUATU pagi, secangkir kopi sering kita pahami hanya sebagai rutinitas. Ia hadir sebagai pengusir kantuk, teman bekerja, atau jeda singkat sebelum hari benar-benar dimulai. Kita ja...
MALAM hari kemarin, saat sedang menulis berita untuk media online di Jembrana, Bali, saya melihat notifikasi di ponsel saya. “I Wayan Westa mengomentari postingan Anda”. Jika buka...
SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung sore, seekor Cucak Ijo hinggap di ranting poho...
SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari. Di balik jendela istana,...