Rumor Demo 4 November - Provokasi Media dan Jurnalisme Damai
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Cerpen: Devy Gita
LAUT, aku datang lagi. Kembali menduduki pasirmu yang kasar. memandangimu yang sedang tenang saat ini. Hembusan angin menggelitik pipiku lalu menelusup di belakang telinga. Kau selalu bisa memanjakanku dengan caramu. Karena itu, aku selalu datang dan datang lagi. Aku harap kau senang. Mudah-mudahan begitu. Sebab, aku tak tahu lagi ke mana aku akan pergi jika kau bosan padaku dan pada cerita-ceritaku. Seperti biasa, aku akan berdiam di bawah pohon kelapa yang kuharap kali ini tidak membuatku terkejut. Kemarin, dia menjatuhkan buahnya tepat di sebelahku. Itu cukup membuatku terlonjak. Lain kali, mintalah dia menjatuhkan buahnya yang masih muda. Agar aku bisa menikmati segarnya. Itupun kalau aku bisa membelahnya. Aku selalu menumpahkan isi kepalaku kepadamu, laut. Kali ini pun begitu. Senja ini, saat matahari perlihatkan semburat jingga aku sudah siap dengan kisahku. Bukan lagi kisah tentang orang tuaku yang tidak harmonis. Pasti kau sudah bosan dengan keluhku pasal rumah yang selalu sunyi sehingga membuatku kosong hingga aku selalu berlari padamu. Lalu apa? Kau mulai penasaran, mulai bertanya-tanya apakah yang akan gadis aneh ini sampaikan. Well, aku bertemu seseorang. Ya, seorang pria. Bertemu dengannya di tempat biasa aku mengamen bersama puisi-puisiku. Dia ada di sana. Aku bagai tersihir. Tak bisa berhenti menatapnya. Dia lebih indah dari puisi yang kulantunkan bersama gitarku. Ekor mataku mengikuti kemanapun dia bergerak. Aku tidak pernah seperti ini. Kau tahu itu kan? Dia bagai medan magnet, dan aku tertarik ke arahnya. Kami berasal dari kutub yang berbeda mungkin. Tarikan kosmis? Aku tak pernah dengar, yang aku mengerti, napasku seperti berhenti, seolah ada puluhan tentara menderapkan kaki mereka di dadaku, serta ratusan kupu-kupu beterbangan dalam perutku. Mungkin kau akan mengatakan kalau aku sangat berlebihan. Tapi aku tak merasa seperti itu. Pria itu ada di sana, saat aku memetik gitarku. Dia tidak tinggi untuk ukuran seorang pria. Kulitnya gelap dengan rambut yang rapi. Hei, dia menyapa semua orang. Mereka pun seperti sudah sangat mengenal laki-laki dengan kumis dan jenggot tipisnya itu. Tapi, kenapa aku baru kali ini menyadari kehadirannya? Nama? Laut, kau bertanya siapa namanya? Kau tertawa saat aku mengatakan aku hanya berani menatapnya dari jauh. Bahkan, aku tidak sempat berkata halo saat itu. Aku tidak sepenakut itu, kau tahu. Ya, ya, aku tidak langsung menyapanya. Aku bertanya tentangnya pada seseorang. Kau benar, laut, nyaliku belum terlalu besar untuk bertanya langsung padanya. Tertawalah sepuasmu. Namanya, Sakti. Dyama Sakti Wijaya. Nama yang indah bukan? Aku menelusurinya di media sosial. Tidak sulit menemukannya. Tiba-tiba aku merasa semakin rendah diri. Seperti remah-remah biskuit, terjatuh ke tanah, terinjak kemudian tersapu angin. Wow, apakah aku semenyedihkan itu? Bagaimana menurutmu, laut? Mudah-mudahan saja tidak, karena aku memberanikan diri untuk menyapanya di media sosial. Setidaknya perkembangan yang positif. Aku meleleh, dia begitu ramah. Dia memang ramah pada semua orang. Aku mulai menyusut, lagi.. Tidak seperti diriku, entah dari mana asalnya nyali ini, aku berkunjung ke tempat tinggalnya. Aku merayunya? Hmm.. Aku tidak pandai merayu. Kami bercakap, semakin dekat, semakin dekat. Kami berpeluk.. Aku bagai mendapatkan sayap. Energi yang aku tidak mengerti menjalar dari telapak kakiku. Naik perlahan berhenti di dalam perutku, berputar dan merangkak memeras dadaku. Aku terlonjak. “Kau seorang istri, seharusnya berada di rumah dan mengurus anak!” “Lalu, uang akan datang darimana jika kau sendiri sebagai suami tidak menafkahi?” Tiba-tiba aku terpekik, dia kaget. Aku teringat orang tuaku, suasana rumahku. Ayah dan ibuku yang saling tidak bicara. Kalaupun mereka bicara hanya ada teriakan, cacian. Aku tidak boleh mencintai siapapun. Aku tak boleh jatuh ke pelukan siapapun. Mereka membuatku muak akan cinta. Akupun terisak. Sakti menciumi keningku. Turun pelan menyentuh bibirku. Memelukku semakin erat, mataku terpejam. Tidak, laut, aku belum menyerahkan diriku sepenuhnya. Tenang saja, aku masih ingat akan diriku. Aku tidak mau mengulang tragedi yang terjadi pada ibu. Harus menikah di usianya yang sangat muda, melahirkanku, kehilangan separuh hidup dan mengubur mimpinya. Lantas? Biarkan aku bernapas sebentar sebelum aku melanjutkan kisahku. Saat ini bayangan ayah yang mengendap-endap dalam kepalaku. Dia pulang dalam keadaan mabuk lagi malam kemarin, sementara ibuku belum tiba di rumah. Aku mengunci diriku di dalam kamar. Ayah melempar barang-barang yang ada di luar. Dia belum lagi mendapatkan pekerjaan, wanita simpanannya merongrongnya, lalu dia mengosongkan dompet ibu. Airmataku sudah beku akan kelakuan mereka. Apa yang mereka pertahankan? Sebaiknya mereka berpisah saja. Atau aku saja yang pergi dari mereka? Semakin dingin saja, andai Sakti ada di sini berpeluk denganku. Aku masih merasakan napasnya, detak jantungnya. Bayanganku pada dekapnya semakin nyalang. Liar, Sakti mulai menghujam kecupan pada sekujur tubuhku. Aku membeku, kaku. “Mintalah perempuan jalang itu mengurusmu, jangan aku!” “Setidaknya perempuan itu lebih bernafsu, dari pada kau!” Kututup telingaku, sial.. Nafsu? Sakti memandangku penuh tanya. Matanya indah menyusuri wajah dan leherku. Ini bukan cinta, tidak ada cinta di antara kami. Aku sebatas mengaguminya. Mereka menyebutnya nafsu, aku belum mengerti. Sakti mendekapku tak membiarkanku pergi. Menahanku penuh pesona. Aku berbisik di telinganya: Belum ku memuja. Hanya terkesima. Kau tenang saja, waktu takkan memaksa. Bait-bait terlantun untukmu. Rinai dan pelangi kan bertemu. Mungkin bagimu semu. Saat kau buat tubuhku kaku. “Apa alasanmu, menahanku?” tanyaku lirih “Aku tak perlu alasan untuk setiap tindakanku.” jawabnya Ranjangnya berderit saat aku beranjak dan melepaskan pelukannya. Dia bergeming, kami saling tatap. Apa yang sebenarnya dia inginkan? Kami bukan siapa-siapa tapi sama-sama menikmati sentuhan itu. Ini salah, aku tahu kau menyalahkanku, laut. Dia tidak menganggapku siapa-siapa, namun aku mengijinkannya mennyentuhku, menciumku dan sialnya aku menyukainya. Perempuan macam apa aku ini? Aku tidak peduli. Aku sedang menghukum diriku, atau mungkin sedang memberikan liburan pada tubuh dan jiwaku. Mereka terlalu jenuh akan cinta palsu dari orang tua palsu yang berpura-pura saling mencintai di depan semua orang. Aku menikmati sentuhan tanpa cinta sebab aku tidak mengijinkan diriku untuk mencintai. Untuk apa cinta dan status jika kita bisa menari di atas tubuh satu sama lain? Ikatan bagiku hanya ilusi. Bukan ketakutan, hanya saja bagiku itu semua semu. Aku tak percaya cinta, yang ada nafsu untuk menguasai satu sama lain. Menguasai jiwa dan juga raga. Jatuh cinta, terikat, bosan, penghianatan. Itu-itu saja. Di sinilah aku sekarang, bercerita padamu di bawah terang rembulan. Masih sendiri seperti biasa. Ditemani hanya deburan pelan ombakmu dan bisikkan angin malam. Di mana Sakti? Aku tak tahu dan sedang tak ingin tahu. Dan kau tahu aku berbohong soal itu kan? Sakti bukan siapa-siapa, rindu tak bertali tapi dia mengikatku dengan ajaib. Rindu itu pun akan lepas, terbang, hilang. (T) Denpasar, 26 Juli 2017
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Hai Gess! Kenken Kabare, Gess? Nu inget nyoblos, Gess? Calon Tunggal di Buleleng jani, Gess. Memusuh jak KOTAK KOSONG, Gess. Musuh ngenah aluh ngelawan! Musuh sing ngenah, kaden al...
Sekilas MEA ASEAN sebagai pasar tunggal kemudian disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), seperti dimuat pada laman Kementerian Luar Negeri RI (www.kemlu.go.id), Selasa 17 Maret 20...
BELAJAR dari figur dan tokoh perempuan, itulah barangkali pesan utama dari buku kumpulan cerpen berbahasa Bali terbaru I Made Suarsa, “Luh-Luh”. Buku ini memuat 19 cerpen yang kese...
Dear para jomblo di muka Bumi ini, Aku adalah kawanmu yang masih setia. Menjomblo bersama kalian adalah sebuah anugerah tak terbatas. Terima kasih karena kalian juga masih setia...
TIDAK banyak yang mengira bahwa kini masyarakat Eropa ternyata malas dalam mempelajari bahasa asing. Meski perkembangan pendidikan di Eropa sangatlah pesat, siapa sangka bahwa mere...
Prodi Pendidikan Seni Rupa, FBS, Undiksha, Singaraja, menggelar pameran bertajuk “Qilin” (Membaca Sosial Budaya Warga Pecinan Kota Singaraja) di Neka Art Museum, Jalan Sanggingan C...
SARJANA. Bak mobil yang telah turun kastanya dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan primer. Sarjanapun, maknanya semakin memudar. Terlalu banyak sarjana modern yang merasa sal...
ANDA pernah jatuh cinta? Baiklah, yang sudah pernah jatuh cinta sebelumnya pasti akan mengerti tentang pembahasan kali ini. Jika belum pernah, sayang sekali, anda hanya akan bisa...
Cerpen: Komang AstiariAKU rindu kampung halaman. Aku rindu nenek. Kepergiannya masih menyakitkan bagiku, batinku belum mampu menerima dia sudah pergi, selamanya. Apakah Tuhan mengg...