‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
Backdrop itu sama sekali tak mencerminkan gaya ukiran khas Buleleng. Padahal backdrop dengan gaya ukiran khas Buleleng selalu berusaha dipertahankan sejak Bulfest pertama hingga ketiga. Tahun ini kualitas backdrop mencapai titik nadir. Seorang kawan bahkan menyebut bentuknya tak jauh beda dari candi bentar tapal batas antar dusun.
Belum lagi stand kuliner yang semakin tahun, kian kehilangan bentuk. Sejak awal, stand kuliner didedikasikan bagi kuliner khas Buleleng. Bukan pengusaha kuliner asal Buleleng. Alih-alih menyajikan kuliner khas, justru menyajikan burger dan sosis. Barangkali di era milenial ini, burger dan sosis sudah jadi makanan khas Buleleng.
Tema “The Power of Buleleng” yang dipilih tahun ini, juga patut dikritisi. Kesenian mana yang merepresentasikan tema ini? Dinas Kebudayaan Buleleng mengklaim, tema ini sudah cukup diwakili dengan kehadiran 20 sekaa baleganjur, 10 sekaa ngoncang, dan empat drama modern. Faktanya kekuatan utama kesenian Buleleng bukan di sana.
Kesenian Wayang Wong yang menjadi salah satu kekuatan seni di Buleleng – bahkan meraih penghargaan UNESCO – tahun ini tak ditampilkan. Entah apa alasannya, padahal ini salah satu kesenian yang menunjukkan “power” Buleleng di kancah seni tradisi.
Pertunjukan pamungkas di panggung utama Buleleng Festival juga hanya diisi oleh bintang tamu dari luar. Jauh lebih membanggakan jika band lokal diberi kesempatan mengisi kesenian pamungkas. Penampilan musisi Buleleng yang tergabung dalam Singaraja Music for Unity (Simfony) yang membawakan garapan kolaborasi khusus, tentu sangat layak dinanti dan akan memperkuat capaian tema tahun ini.
Panitia juga tak perlu alergi menampilkan seni tradisi sebagai penampilan pamungkas di panggung utama. Jangan lupa, gong kebyar adalah kekuatan utama seni tradisi di Buleleng. Gong kebyar mebarung tentu layak ditampilkan sebagai hiburan pamungkas.
Bayangkan jika Padepokan Seni Dwi Mekar atau Sekaa Gong Kebyar Eka Wakya Banjar Paketan, tampil mebarung dengan Sanggar Cudamani atau Sekaa Yowana Gita Samudra Kuta. Mereka kemudian bersaing menampilan gaya kebyar masing-masing. Bali Utara bertahan dengan gaya Gde Manik, Bali Selatan memainkan gaya Wayan Lotring. Tentu jadi hiburan yang fantastis. Kurang “The Power of Buleleng” apa lagi coba?
Dinas Kebudayaan Buleleng juga perlu memperhatikan ketimpangan antara panggung satu dengan panggung lain. Setiap panggung, harus disediakan sound system dan tata cahaya yang memadai. Dari tiga panggung, tata cahaya dan sound system di Wantilan MR. Ketut Pudja (Lebih dikenal dengan nama Sasana Budaya) paling menyedihkan.
Wajib diingat, bahwa sejak awal Bulfest disusun dengan visi: membangkitkan kembali kebanggaan Buleleng sebagai kota warisan sejarah budaya bangsa.
Ada pula enam poin misi yang disusun. Pertama, menggali akar-akar kearifan lokal Buleleng; kedua, melestarikan budaya lokal Buleleng; ketiga, merepresentasikan karakter khas budaya Buleleng; keempat menggali budaya kontemporer yang berakar dan berkarakter; kelima, membina potensi lokal baik budaya tradisi maupun kontemporer; dan terakhir, membangkitkan potensi seni generasi muda. Ingatkan saya, jika visi-misi yang saya tulis ini salah.
Dengan visi-misi yang adiluhung, sudah sepatutnya Buleleng Festival memiliki target-target capaian yang jelas dari tahun ke tahun. Sejauh ini Buleleng Festival sudah sukses menghadirkan keramaian dan menghibur masyarakat Buleleng. Perkara sudah sejauh mana capaian visi-misi, jangan ditanya. Paling penting masyarakat terhibur, bapak juga senang.
Tahun depan, Bulfest konon akan diselenggarakan selama tujuh hari. Sebelum dilaksanakan selama itu, ada baiknya dilakukan evaluasi capaian visi-misi. Kalau indikator keberhasilannya hanya kunjungan dan perputaran ekonomi, ada baiknya Bulfest tidak dilaksanakan 7 hari. Lebih baik dilaksanakan selama 14 hari. Biar seperti pesta rakyat saat HUT Kota dan HUT RI. Toh indikator keberhasilannya tak jauh beda dengan event pasar malam. (T)
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...