Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan yang dih...
***
Kisah itu nyata. Terjadi sekitar akhir tahun 1980-an. Dia – tokoh kita itu, adalah Ketut Rusnaya. Ia lahir di Desa Sudimara, Tabanan, dari keluarga petani. Setamat dari SMAN 1 Tabanan, tekadnya bulat untuk kuliah. Dan tekad itu ia perjuangkan dengan amat keras. Kini, jangan kaget. Ketut Rusnaya adalah Direktur Produksi Petrokimia Gresik yang diangkat sejak 13 Januari 2016. Namun perjalanan dramatik saat keberangkatan ke Surabaya untuk pertamakalinya itu sangat membekas di hati bungsu dari empat bersaudara ini. Saat kuliah, lelaki kelahiran Tabanan, 13 Juni 1967, itu bertekad bisa menyelesaikan kuliahnya secepat mungkin, karena tidak mau membebani orang tuanya “Ketika lulus kuliah tahun 1991, angan-angan saya sederhana saja. Bekerja, membangun rumah tangga, bisa membahagiakan keluarga dan kedua orang tua saya. Jika bisa mencapai posisi saat ini (sebagai Direktur Produksi Petrokimia Gresik), tentu saja sudah lebih dari apa yang pernah saya angankan,” ujarnya. Saat menduduki posisi tinggi di perusahaan besar, ia tidak berubah. Dia masih tetap seperti dulu, bersahaja dan hangat pada siapa saja. Lelaki yang pernah menjadi juara melukis antarpelajar SMP di tingkat provinsi Bali ini, tidak pernah malu menceritakan masa mudanya yang hidup dalam keterbatasan. Sebagai anak yang lahir dan tumbuh di keluarga petani, ia tidak pernah lupa dengan asal-usulnya. Apalagi dia terikat dengan aturan adat di tempat kelahirannya di Desa Sudimara. Di tengah kesibukannya, dia menyisakan waktu untuk mengikuti upacara keagamaan maupun adat. “Jika ada upacara dan saya bisa mudik, saya sempatkan untuk ngayah (kerja bakti), ikut mebat (masak) juga. Spesialisasi saya adalah masak jukut ares, sayur dengan bahan dasar batang pisang. Banyak yang suka dengan jukut ares buatan saya, katanya sih enak,” ujarnya. Ketika masih bertugas di Pupuk Kaltim banyak kawan dan atasannya yang mengakui kelezatan jukut ares buatannya. Petrokimia Gresik mempunyai banyak pabrik dengan berbagai produk, baik pupuk maupun non pupuk. Tentu saja, sebagai direktur produksi, masalah yang dihadapi Ketut Rusnaya sangat beragam, dan harus ada penyelesaiannya. Untuk itu, ayah dari Putu Krisnayudani dan Made Puspawedanti ini tidak malu bertanya pada bawahan. “Saya tidak segan untuk belajar kepada siapa saja, dari mulai GM hingga ke tingkat yang paling bawah. Dengan menyerap pengetahuan dari mereka, saya lebih mudah dalam menyelesaikan permasalahan yang saya hadapi,” akunya. Dengan berbagai tantangan dan permasalahan yang dihadapi, Ketut Rusnaya menjaga keseimbangan emosinya dengan berolahraga. Olah raga apa saja dia bisa, tapi yang paling disukai adalah sepak bola. “Saya suka bermain bola sejak kecil, bahkan pernah bercita-cita menjadi pemain bola. Olah raga ini kan tidak mahal ya, apalagi di lingkungan Petrokimia Gresik fasilitasnya banyak tersedia,” tuturnya. Meskipun usianya sudah setengah abad, dia masih kuat bermain bola di lapangan lebar. Ketut mengungkapkan, sepak bola merupakan gambaran yang paling pas jika berbicara tentang team work. “Masing-masing pemain punya peran sendiri-sendiri. Ada yang menjadi penyerang, pembagi bola, bertahan, hingga penjaga gawang. Tapi masing-masing pemain tidak merasa paling berperan, ketika timnya sukses memasukkan bola ke gawang lawan,” ujarnya. (T/editor ole)
PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan yang dih...
Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar pada manusia hari ini buk...
Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu, tahun 1945, Soekarno menyampaikan...
BAYANGKAN sebuah dunia tanpa warna, tanpa garis, dan tanpa bayangan sejak pertama kali kamu membuka mata di dunia. Bagi kebanyakan dari kita yang terbiasa mendominasi hari dengan...
BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor itu ternyata bukan makhluk g...
DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah ini. Karena cinta pertama ayahku bukanlah ibuku. Itu agak...
BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai sekitar 6,4 juta kilometer perse...
PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut tipis menggantung di atas sawah, dan embun menempel...
Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan karena ibutidak mau mencu...
Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh pariwisata, investasi...