Iwan Setiawan# Laila O Laila, Kita Masih Sepasang Bocah

Iwan Setiawan
by Iwan Setiawan — Juli 20, 2017 in Puisi

Tatkala.co
LAILA O LAILA di kota kecil dekat kebun anggur yang ranum kutumbuhi jendela-jendela angin untuk menghambur di segala sisi, airmata telah berakar dan berkembang di kesunyian ini, aku lunglai dalam kesabaranku sebagai kekasih tak lagi bisa kubendung dan selalu berubah menjadi embun yang akan terbang hilang bersama tebaran cahaya mentari kenangan-kenangan yang lalu telah menjadi kebun abu lautan gelisah dalam hatiku tak akan lagi meruntuh aku tahu dari dalam hutan cintamu telah di tumbuhi semak-semak baru yang mungkin akan menggelapkan pandang mataku yang sayu ini setelah warsa, wujud tiada sangka kau lempar semua rinduku yang bercawan aksara kedalam pendiangan malam dan kau telah sembunyi di balik bahu lelaki itu menjadi kekasih barunya tanpa melihat aku api telah tumbuh dan bicara di sini aku semakin di telan kecumburuan seperti seekor ikan yang terlempar dari air seperti seekor burung yang tak bersayap menggelapar dalam tangisan dahaga tanpa ada penolong jiwa aku telah terluka karena cintamu roemah bamboe, 2015 RINDU DI BULAN JULI rindu melipat syahdu pada bulan ketujuh kupanggil engkau juli dengan kesunyian penantian ini masih terjaga pada jarak dan waktu aku renangi lautan berharap sapa melintas di kata-kata engkau tahu juli sudah berapa warsa rindu kutahan dengan air mata sakitnya tiada banding seperti ribuan sembilu yang menghujam tubuhku di setiap berjumpa mata kucoba untuk memahami jika kelak kekasihku itu kembali aku tak lagi asing mengenal kerlingnya padang 2017 AKU DAN KENANGAN DI MASA LALU angin menaruh diam di malamku mataku liar mengejar cahaya kunang-kunang di teras kelam beratap ilalang kakiku menari memecah kesunyian dipan batang bambu kokoh menopang dan rindu menerpa di ujung hatiku bulan telah datang seperempatnya tergambar cemas kucoba pungut masa lalu dari tanah-tanah halaman rumahku untuk kujadikan kenangan padang, 2017 UNTUK AR ar, di matamu kulihat malam rindu kau selipkan pada gelap kelak air mata akan kau pinta padaku letih kau titipkan haruskah kutuang cerita ini dalam resah jiwa kita adalah pengembara kuresapi tajamnya sorot matamu dan kutemukan kesunyian itu katakanlah pada waktu, untuk segera berpacu sebab bisu ini sangat menyiksa bukankah kau merasakan juga, jika saja bulan tiba malam ini akan kubiarkan bintang menemaninya karena sepi kita begitu dalam menyerap dalam dekap kucari suara bibirmu di antara angin dari hutan-hutan berhulu kabut kuayunkan kenangan-kenangan silam tentang kita yang pernah menulis asa pada tembok-tembok hening dan aku pernah rasakan sakitmu yang begitu dalam menguras air mata ar, kita sudah lewati perjalan hidup ini suka, duka telah kita jadikan cerita aku merindukan tawa di masa yang purba akan kudekap duniamu akan kuruntuhkan tebing jarak itu akan kutumpahkan kelakar agar kau ingat bahwa aku pernah ada bersamamu prokimal, 1997 KITA MASIH SEPASANG BOCAH kita masih sepasang bocah tanpa baju dan celana kita tertawa, bercanda menari di ladang ilalang tanganmu selalu kugenggam dalam lingkar nyaman rambutmu panjang terurai selalu menggoda pandang mataku tapi kita belum mengenal cinta kita masih sepasan bocah tanpa baju dan celana berlarian di ladang ilalang menangkap jangkrik dan mengejar belalang sesekali tubuhmu kau rebahkan di bahuku karena lelah tapi kita belum mengenal cinta kita masih sepasang bocah tanpa baju dan celana saat matahari pulang mengejar malam kita sudahi permainan dan kembali menuju rumah di mana mimpi sudah menanti kita aku ingat, sebelum langkah kita terpisah jauh kau sempat cium kening hitamku tapi kita belum mengenal cinta sukadamai, 1995
Tag: Puisi
Avatar

Iwan Setiawan

Related Posts
Cerpen

Papuk, Cucu dan Puisi

BY Kumarsana Juli 30, 2016

Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...

Read More