Kambali Zutas# Camar-Camar di Teluk Benoa, Kepada Gadis Seksi Kolong Underpass

Kambali Zutas
by Kambali Zutas — Juli 11, 2017 in Puisi

Tatkala.co
camar-camar di teluk benoa camar-camar di teluk benoa samar-samar terdengar kabar-kabar terbayar camar-camar di teluk benoa samar-samar tak terdengar kabar-kabar dibayar camar-camar di teluk benoa samar-samar tersiar kabar-kabar terbayar camar-camar di teluk benoa samar-samar tak tersiar kabar-kabar dibayar camar-camar di teluk benoa panjang lebar ingar-bingar (2016) nyiur sanur aku, rindu sanur nyiur berimpit matahari terbit pagi bak mimpi pesona pelangi ufuk mentari kuning memerah terkenang aku, rindu sanur nyiur surga tarian bidadari tak sempat kedip pandangan mata lagu debur ombak lengking terbentur senderan gulungan kecil menepi aku, duduk di bale tanpa cela pagi mendera bercumbu pasir berbaris berbisik asmara dibumbui semilir angin aku, bergegas lukisan kisah cinta bertutur le mayur nostalgia kilas balik umur tempat padu padan harmoni uzur aku, rindu sanur nyiur tiba malam daun tidur tergiur kuncup bunga tumbuh subur nan masyhur (2016) geger yang mulia lima tahun lalu, aku bertemu pak yan bersenda gurau di laut pantai geger. bersama anak-anaknya panen rumput laut. dua tiga orang membantu. mencuci, mengangkat lalu dipikul menuju gubuk. lima tahun lalu, aku tegur sapa dengan bu ngah. ia bergegas membawakan makanan. sambil menggendong putu yang masih berusia tiga tahun. di tengah terik matahari. berhenti berkumpul di pantai. membuka bungkusan lalu makan bersama. nasi sambal. air penghapus haus dahaga. lima tahun lalu, aku lihat pekak de menjemur rumput laut di pantai. tubuh kulit cokelat kurus penuh semangat memilah dan memilih rumput basah dan kering. di atas terpal plastik ukuran lima meter persegi. lima tahun lalu, aku berbincang-bincang dengan dadong mang. bertanya berapa harga rumput laut per kilogram. harga cukup lumayan waktu itu. mendengarkan cerita tawaran tengkulak. memborong. mengenang dan berharap masa kejayaan beberapa tahun lalu. lima tahun lalu, aku menilik anak-anak berlari-lari. kejar-kejaran tanpa busana. menemani orang tua yang sibuk mengumpulkan rumput laut. terkadang membantu memasukkan ke keranjang bambu ukuran diameter setengah meter. tepat lima tahun lalu, aku memandang turis-turis asing manja berendam. bercengkrama tanpa busana. sebagian tanpa bra terbaring, berjemur, mujur. begitu santai menikmati pesisir alami. lalu tepat lima tahun ini, aku masih melihat pantai geger nan indah itu. aku masih melihat pesona pesisir nan mulia itu. aku masih melihat hamparan air tenang itu. aku pun masih melihat para bule menikmati liburannya. lalu tepat lima tahun ini, aku tak melihat mereka. mengumpulkan hasil panennya di pelataran pantai. tak ada gubuk. tempat istirahat sejenak. tempat memilah dan memilih rumput basah dan kering. tak ada lagi rumput dijemur. ada jalan dan senderan penghadang. hamparan berganti bangunan. pasir berganti mewah. geger yang mulia. lalu tepat lima tahun ini hanya kenangan belaka (2016) kepada gadis seksi kolong underpass perjumpaan tengah hari, gincu seksi bersolek malam. mengumbar dahaga pergi. kala beranjak mendekati. bujuk rayu hingga diriku tak sadarkan diri. terbuai anggur hitam sesloki. lantas begitu menikmati. tak kalah hari sebelumnya. setiap hari? tidak juga. pesta malam hingga larut waktu purnama menepat di setiap sudut bagian paling nikmat bergumul para pemikat kamar remang terkenang. sorot mata melirik kanan kiri. tak canggung. menuangkan air. senyum sesumbar. malam ini adalah malammu. nikmatilah! seteguk, dua teguk, tiga teguk. kepala terasa sedikit berat. mengangguk atau menubruk. jari tangan berkelana. bibir indahmu itu menutup. lalu bisik mendesir di telinga. tak terdengar. begitu puas. tersungkur lalu mendengkur. tak lama. hanya beberapa menit. duduk di sisi meja. gadis-gadisku, kau cantik, seksi, indah, mempesona, manis, kuat. kau begitu buas gadis-gadisku, tuntunlah! antarkan pulang, tidak! tidak! bawa ke lorong lagi jam masih malam ada satu kamar ada uang sepuluh lembar menghabiskan satu tablet obat kuat kupu-kupuku. terbanglah tapi tunggu di kolong itu. aku pulang dulu. melintas by pass masuk kolong underpass. atau keliling simpangsiur bima dan dewa ruci. jangan hirau cela hina. kecup bibirmu begitu terasa. kau adalah ratu. (2016) pesta ennamla baiklah! aku berjalan menembus angin sunyi di tepi jalan kota. mengelilingi bagian-bagian petak tanah bekas warisan penjajah. tepat di halaman hotel tua tempat singgah. akhir pesta para semut tadi malam. sebelum memilih pindah. tergusur. tidak-tidak. mereka hanya berbondong-bondong melewati pelataran rumah. belum sampai, mereka berhenti. hujan lebat. berteduh tepat di pinggir tembok berdiri mewah. baiklah! aku masih menunggu. kesetiaan semut tak lelah merampai. seribu musim telah terlewati. pencarian kesunyian meremukkan bahtera tamsil. aku telah terkubur dalam keniscayaan. jibril lalu memanggil. engkaukah yang datang? apakah semut berdendang? menyejukkan seraya hawa setelah diguyur hujan. sujud sayup tak berwujud. baiklah! aku tak sampai hati. mereka meneteskan air dengan mata sayu. mengumpulkan sisa-sisa makanan dari gemercik hujan. bertubi-tubi meronta. sambil berdekapan saat kilat sambar-menyambar. ia benar-benar menggigil. mikail lalu memanggil. engkaukah yang datang? semut bangkit menggapai biduk. berduyun-duyun memutar tubuh ronta. tafakur ennamla di ujung syukur. (2016)
Tag: Puisi
Avatar

Kambali Zutas

Related Posts