Ida Ayu Putri Adityarini# Cerita Tentang Kelahiran Matahari dan Bulan

Ida Ayu Putri Adityarini
by Ida Ayu Putri Adityarini — Juli 09, 2017 in Puisi

Tatkala.co
CERITA TENTANG KELAHIRAN MATAHARI DAN BULAN /I/ Kelahiran Matahari aku adalah anak mula lahir riang gembira dengan doa menyala dari rahim ibu bernama semesta kelahiranku panjang perjalanan penungguan dalam satu penanggalan penuh sejak laku upacara dilakukan dan doa sudah purna seluruh takdirku ditakdirkan bara penjaga hidup api merahnya adalah panas yang senantiasa nyala dalam hati demikianlah namaku menjelma tungku penanda kehidupan di hari pagi menjaga bara menyediakan api setelah tanak nasi lalu kukembalikan terang kembali ke rahim ibuku /II/ Kelahiran Bulan aku adalah anak ragil lahir setelah matahari dari rahim semesta yang sama tapi memilih jalan berbeda kelahiranku sunyi penantian kuciptakan diriku diam-diam kelak ketika kau bisa menghitung purnama kau akan tahu aku bersembunyi sampai hitungan ketiga takdirku ditakdirkan teduh tempat segala lelah berlabuh tugasku membacakan dongeng agar semakin nikmat terasa lauk tidur demikianlah namaku menjelma bunga perhiasan tetamanan malam yang dipetik saban hari dengan seribu satu kelopak dongeng aku serupa panen tanpa musim /III/ Epilog begitulah kami dilahirkan takdir kami penjaga hari menyediakan nyala pada tubuh siang dan malam kami tidak pernah sepakat dalam kata bernama pertemuan seperti yang sudah tertulis sejak berabad-abad lama mungkin sejak sebelum ibu semesta dilahirkan kami dian berbeda memberi nyala dalam waktu berbeda matahari dan bulan kami bernama kami dian berbeda lahir dari rahim yang sama (Kemenuh, Mei 2017) PETANU ada keringat mengalir di sepanjang tubuh petanu keringat yang membeku jadi abu batu-batu tubuh petanu mengandung benih yang dinanti doa-doa dan disambut sorak sorai suara anak-anak pemetik batu ayah mereka bertubuh tegap legam di punggungnya bergurat urat serupa gurat yang mereka ukir pada dinding-dinding batu ibu mereka perempuan-perempuan berbahu lebar dua tiga potong batu di kepala entah berapa berat mungkin lebih berat daripada tubuh anak-anaknya di ujung jalan menanjak anak-anak menanti batu berarti kehidupan batu juga jembatan penghubung napas-napas mereka dari hulu ke hilir ada doa mengalir di dalam tubuh petanu doa yang membatu di sepanjang musim yang mereka ukir (Kemenuh, April 2016) PULANG MALAM Kami pulang malam Bersama-sama Berderet-deret seperti kunang-kunang menyibak kabut dalam tikungan-tikungan Bersama-sama kami berjalan beriringan layaknya semut pengembara membawa gula-gula ke dalam sarang penuh cerita dengan lampu-lampu taman kebun-kebun kenangan dan dongeng-dongeng masa kanak Di jalan-jalan masa silam Kami menabur benih doa agar tumbuh pohon-pohon harapan tempat kami berteduh mengistirahatkan lelah atau tempat kami mengadu tentang sepi sebuah kamar sempit Perlahan kami bergerak meninggalkan lembah kecil di utara Menggapai rumah Lalu tertidur lelap (Bali Utara, November 2012—Juni 2013)
Tag: Puisi
Avatar

Ida Ayu Putri Adityarini

Tinggal di Gianyar, pernah kuliah di Singaraja. Kini terus menulis puisi dan cerpen sembari merawat masa berpacaran

Related Posts