Putu Gede Pradipta# Mantra Penjinak Ular

Putu Gede Pradipta
by Putu Gede Pradipta — Juli 08, 2017 in Puisi

Tatkala.co
MANTRA PENJINAK ULAR datanglah ke desaku, bujang akan kuberi kau sebait mantra adalah angin yang mendesirkan dari telinga menuju perasaan agar lakumu seiring ucapan ini mantra penjinak ular yang lama sudah hilangnya tak diketahui pula riwayatnya padamu ia berjodoh rupanya maka segala ular di mayapada padamu karib dan bersaudara jangan takut. jangan hendak melangkah mundur dariku tak ada syarat berat melekat cukup lakoni dengan ikhlas nanti akan lancar mengalir darahmu jadi sedingin ular bisa tak lagi membuat gentar (2016) KOPI GUATEMALA Ada kopi terbaik. Menjadikan bahagia si penikmat yang kesepian. Di Guatemala ia tumbuh hujanlah membasuh dan mengasuh. Ada kopi terbaik. Damai perasaan petani ke biji-bijinya tersusupkan. Di daun-daunnya setiap pagi embun bersuluh turun. Ada kopi terbaik. Di Guatemala tempatnya. Kitalah penyair yang bahagia menikmati wangi sihir puisinya. (2016/2017) KUCING HITAM EDGAR ALLAN POE Kucing hitam itu aku pinjam dari cerita pendek yang sumpek dipenuhi anyir darah, gelimpang mayat hilang kepala, dan serakan belulang pengerat. Oh, tidak ada Dewa, apalagi Tuhan di sini. Keyakinan lebih rentan dari udara. Biarkan pemuda Edgar bingung mencarinya. Kelak, ia pun akan sadar kami pernah saling bertemu di meja judi dan luput saling bunuh diri. Kami memilih terserap ke rona bibir perempuan dan lenyap ke dalam remang. Hanya ngiang ngiau di kejauhan, dan sorot mata yang menyala mengincar nyawa. (2016) BATU kerap kausebut keliru aku adalah sebuah batu mengapung membawa rindu (2012/2016) KELAK SAAT TAK MENULIS SAJAK Di masa tuanya, ia akan mengayuh sampan sendirian. Ke tepian yang jadi muara segala gairah dan perhentian pengetahuan. Tubuhnya mula-mula diliputi gelisah. Benda-benda yang pernah diberinya nama dan harapan, kembali menciptakan riak yang mendesaknya untuk abai pada perjalanan. Hasrat itu hendak menariknya mundur di setiap langkah yang ia ulur. Tapi angin dingin terus menggiring tubuh ke muara itu. Dan sampan pun hanya sampai di batas doa. Bersama karma dimasukinya punarbhawa. (2017) GAMBAR HUTAN Seorang anak menggambar hutan. Ia luput membubuhkan burung pun satwa lainnya. Hutan yang lebat yang menyimpan jantung air itu semacam kesepian panjang yang tumbuh dari kesedihan tak terperikan. Disimpannya gambar hutan di laci, berbaur dengan pensil warna, penghapus, dan penggaris. Ia berencana merampungkan hutan yang telah diciptakannya kelak, di usia saat anak-anaknya lahir dan bertanya di mana hutan terletak. (2017) HAKIKAT MEMISAH Mayat burung membusuk di bawah pohon ini. Pohon hayat. Tempat anak-anak membangun impian nan sarat. Ada jejak kaki membekas abadi. Dinaungi daun-daun yang berguguran dimainkan angin. Sebentar lalu dilupakan. Malam yang jatuh begitu cair. Bercucuran membilas yang bertahun diuji usia. Jadi kerak melapisi tubuhnya yang retak. Melampaui segenap gegabah. Tak terhitung jumlah tabah. Berakhir memisah ini kisah. (2016) MENCUCI DIRI Aku ingin mencuci diriku. Betapa hujan memahami seluruh kenangan dalam pejam. Betapa dingin kesendirian dan samar perasaan. Aku ingin mencuci diriku. Meluruhkan rupa-rupa daki. Biar hati yang bernoda hitam jadi semula. Tak berpaling dari kenyataan. (2017) SAJAK TIGA SEUNTAI Lukai langit Mencipta badai Di kening Pada mata bening Warna mega Langit yang bercahaya Kuning terbanting --jasad daun-daun Sebuah desakan Air mata bergulir Merelakan takdir Sihir penyair (2017) MENGGAMBAR AWAN Kekasihku menggambar awan. Dirasa belum cukup putih ditimpa hitam. Tibalah merah dijatuhkan. Terhapuslah biru yang lebih dulu membentang itu. Kekasihku paham. Luka digurat seiring alur garis hitam. Katanya, “Tiada guna lebih lama memendam.” Dan merah terakhir dijatuhkan. Biru terakhir terhapuskan. (2017)
Tag: Puisi
Avatar

Putu Gede Pradipta

Related Posts