Catatan Harian Sugi Lanus: Kisah Tri Sadaka & Siwa Wesnawa dalam Lontar Resi Wesnawa

Sugi Lanus
by Sugi Lanus — Juli 07, 2017 in Esai

Tatkala.co
Lontar 'Resi Wesnawa' ini bisa dibaca online. Isinya menarik, sebab lontar ini berkisah tentang 'gegelaran' atau 'keilmuan' dari Resi Wesnawa sesungguhnya adalah Siwa Waisnawa. Hal tersebut senada dengan lontar kuno yang berjudul 'Siwa Sasana', yang menjelaskan tentang beberapa cabang ajaran Sanghyang Siwa Sasana seperti: Siwa Sidanta, Wesnawa, Lepaka, Ratna Hara dan Sambu. Lontar Siwa Sesana adalah pedoman para pendeta dan guru besar (Dang Acarya) dalam mendidik para sisiwa. Dilanjutkan dengan uraian kewajiban para siwa (guru) terhadap siswanya atau sebaliknya. Lontar ini jelas mengatakan bahwa Wesnawa di Bali itu berakar dari ajaran Siwa Wesnawa. Selanjutnya lontar Resi Wesnawa ini berkisah cabang 'gegelaran' Siwa dan Buddha. Buddha yang dimaksud pun adalah Siwa-Buddha. Jadi turut mendampingi keberadaan Siwa adalah Siwa-Buddha dan Siwa-Wesnawa. Lontar ini memulai kisahnya tentang pemerintahan Ida Dewagung Airlangga di Jawa dan saat itu ada dua tokoh besar keagamaan, keduanya ini datang ke Bali, yaitu Mpu Kuturan dan Mpu Pradah. Mpu Pradah beragama Buda, Mpu Kuturan beragama Siwa. Mpu Kuturan turun di Padang Karangasem (kini Padangbai), dan di situlah beliau mendirikan parhyangan dan memberi ajaran baik Siwa dan Siwa-Buddha. Naskah ini mengandung informasi yang mungkin bersumber dari temuan arkeologi (?), berkisah tentang bagaimana ketika Prabu Airlangga wafat, abu jenasah beliau dipuja di Belahan dan dibuatkan patung Bhatara Wisnu mengendarai Garuda. Demikian juga terdapat informasi tentang masa pemerintahan Airlangga ditemui Resi Wesnawa yang menganut Siwa Waisnawa. Lontar ini kemudian menceritakan pemerintahan Ida Dewagung Jayapangus di Bali pada Çaka 1103, ketika itu datanglah seorang Mpu Gantaya dan Resi Aruna menganut paham Siwa Waisnawa. Kemudian Resi Waisnawa berubah menjadi Sangguhu Waisnawa. Sang Siwa Pasupati sebagai Brahmana. Sang Buda Mahayana menjadi Boda. Anak-anak (putra) Sang Siwa Waisnawa menjadi Sengguhu Bhujangga. Ini bukan persoalan tinggi-rendah, tapi 'pembagian kerja' yang saling membutuhkan dan tidak bisa saling meniadakan. Ketiganya sebagai kesatuan 'gegelaran' yang saling melengkapi. Informasi penting dari lontar ini berkisah tentang pembagian tugas Tri Sadaka: 1. Siwa Waisnawa melaksanakan upacara penangluk-merana (hama) dengan Catur Stawa. Siwa Waisnawa ini dikenal sebagai Sang Guru Bhujangga dapat menyelesaikan upacara Dewa dan Butakala. 2. Sang Boda bertugas menyucikan pitara pitara (roh leluhur). 3. Sang Brahmana patut menyucikan akasa atau sesajen untuk para Dewa. Pokok menarik yang dibahas terkait Tri Sadaka ini yang bertugas di masa itu yang menyelesaikan segala upacara-upakara seperti pancayadnya: Pendeta Siwa menyucikan ruang atas (angkasa), Buddha menyucikan tengah dan air (apah). Bhujangga menyucikan ruang bawah atau tanah (Pertiwi). Untuk lengkapnya lontar bisa langsung dibaca di link: RESI WESNAWA (T) Catatan Harian 22 Juni 2017
Avatar

Sugi Lanus

Related Posts
Cerpen

Gabriela

BY Putri Handayani Juli 03, 2016

Cerpen: Putri Handayani   “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...

Read More
Cerpen

Wanita Senja

BY Satia Guna Juni 25, 2016

Cerpen: Satia Guna                Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...

Read More