Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
* * *
[caption id="attachment_3398" align="alignnone" width="726"]
Nanoq da Kansas paling kanan bersama Kelompok Badai di Atas Kepalanya[/caption]
NANOQ begitu mencintai musik. Hari-hari kerja di kantor, tak pernah sepi dari alunan lagu rock semacam Dream Theater atau Pink Floyd. Nanoq juga mencintai puisi. Terkadang musik di kantor berubah menu dari classic rock menjadi lagu-lagu musikalisasi puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono. Musik yang tadinya menghentak menjadi lembut mendayu-dayu.
Musik dan puisi tak bisa dipisahkan dari diri Nanoq. Dia kerap mengaransemen puisi menjadi musik. Proses itu kemudian lebih dikenal dengan nama aransemen musikalisasi puisi.
Pada tahun-tahun itu, bagi saya genre musik macam itu cukup mengganggu. Saya tak paham puisi, juga musikalisasi puisi. Bagi saya musik yang nikmat itu hanya rock atau punk.
Maka, ketika Nanoq rutin berlatih dengan kelompok Penyanyi Sakit Jiwa (Pesaji), saya menganggap itu musik yang aneh. Apalagi saat ia menggandeng beberapa teman saya bergabung dalam Pesaji. Seperti Herlyn Puspita Sari, pemain keyboard rock progresif yang kemudian menjadi vokalis. Juga Ratna Aniswati, penyanyi grup Qasidah tempat saya dulu menempuh pendidikan agama.
Lama kelamaan telinga saya bisa menerima musikalisasi puisi. Bahkan saya menikmatinya. Awal tahun 2017, Nanoq bersama Pesaji berproses menciptakan album pertama. Album berjudul Komposisi Seperti Angin itu dirilis pada pertengahan 2007 lalu. Sebuah album – yang bertahun kemudian saya pahami – bernuansa balada ala Leo Kristi.
* * *
[caption id="attachment_3399" align="alignnone" width="704"]
Anak-anak Badai di Atas Kepalanya yang selalu semangat[/caption]
NANOQ agaknya belum puas dengan aransemen musikalisasi puisi yang ia susun dulu. Tahun 2017 ini, dengan menggandeng tenaga-tenaga muda dia membentuk kelompok musik Badai Di Atas Kepalanya. Kali ini Nanoq tampil di belakang layar sebagai penata musik.
Pemain-pemain di atas panggung dipercayakan pada Yoga Permana dan Indra Anggita (gitar, vokal); Dinda Kristyana Dewi dan Rika Wibawanti (vokal, efek suara); Dewa Astawan Satia (vokal, perkusi, pianika, dan efek suara); serta Bobby Trenaldi (vokal, perkusi, suling, balera, dan efek suara).
Entah dengan bujuk rayu seperti apa, Nanoq bisa menggandeng mereka dan mempertemukannya dalam sebuah kelompok musik. Selama beberapa bulan mereka berproses, sebelum akhirnya diajak konser ke sejumlah tempat. Konon Nanoq tidak menjelaskan bahwa mereka akan bermain musikalisasi puisi. “Aku bilang ke mereka, kalau mereka menyanyikan puisi,” katanya setengah berbisik.
Malam itu, Rabu, 14 Juni 2017, Nanoq memboyong Badai Di Atas Kepalanya pentas di Singaraja. Pementasan dikemas dalam tajuk Indonesia Menyanyikan Puisi, dan digelar di Wantilan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja. Ini pementasan kedua Badai Di Atas Kepalanya – di luar Jembrana, setelah sebelumnya sempat pentas di Mataram.
Malam itu anak asuh Nanoq tampil out of the box dalam konteks musikalisasi puisi. Mereka tidak berpijak pada genre balada sebagaimana biasanya musikalisasi puisi dimainkan ketika lomba-lomba digelar. Mereka justru lebih liar dalam bermusik.
Badai Di Atas Kepalanya saya terjemahkan sebagai keliaran Nanoq dalam menggarap aransemen musikalisasi puisi. Ia seolah tidak ingin musikalisasi puisi yang itu-itu saja. Harus ada sesuatu yang berbeda, tidak biasa, anti mainstream!
Semuanya dieksplorasi. Terutama dalam memainkan alat musik. Yoga dan Indra, seolah tidak memetik gitar, namun menggosok gitar. Seperti para ibu menggosokkan sikat pada baju cucian.
Begitu juga dengan Bobby. Dia memainkan floor tom yang dimodifikasi sedemikian rupa, hingga dimainkan sebagaimana bass drum. Pedal pada bass drum dimodifikasi sehingga gerakannya naik turun, bukan maju mundur. Tentunya itu menghasilkan suara yang agak aneh, namun khas.
Sementara bass drum yang dimainkan oleh Dewa Astawan Satia, justru dimainkan dengan stik. Entah alat musik apalagi yang ia mainkan malam itu. Namun saya sempat menyaksikan jika Dewa Astawan memainkan selembar seng.
Semua itu cara yang anti mainstream dalam memainkan alat musik. Nanoq menyebutnya dengan musik salah. Salah dalam memainkan alat musik. Tetapi kesalahan itu menimbulkan bunyi-bunyi baru dan harmoni baru dalam bermusik.
Badai Di Atas Kepalanya berhasil lepas dari jebakan aransemen lomba-lomba musikalisasi puisi yang terkesan monoton. Mereka sekaligus membuktikan bahwa tanpa ruang lomba pun, mereka bisa berkembang. Mereka mampu menggelar konser, memainkan apa yang mereka inginkan, bukan apa yang ingin juri dengar. Mereka berhasil menjadi diri sendiri. Bukan mengikuti Leo Kristi, bukan juga seperti Letto, apalagi Kangen Band. (T)
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...