Surya Gemilang# Di Persimpangan Pendapat, Puisi Menulis Aku

Surya Gemilang
by Surya Gemilang — Mei 13, 2017 in Puisi

Tatkala.co
DI PERSIMPANGAN PENDAPAT di desa ini anak-anak tak berhak menghentikan kematian anak-anak hanya boleh bermain dengan ketegangan kelamin dan keasaman senja yang tak tertebak di desa ini pohon-pohon pencakar langit wajib menggantung kebahagiaan untuk anak-anak di ketinggian yang mustahil: serangga-serangga penggigit menanti di jarak yang mematikan; keruncingan bumi mestilah mencintai punggung anak-anak yang tak akan pernah jatuh cinta anak-anak tak boleh mengacungkan tangan untuk bertanya pada guru di kelas. pertanyaan macam apa pun terlalu berbahaya dan belum pantas untuk kerontang usia mereka. anak-anak hanya boleh mengangguk untuk apa yang mereka mengerti maupun tidak di desa ini anak-anak bertumpahan dari rahim untuk menambal retak di perut dan ubun-ubun orang dewasa anak-anak tak perlu menyadari betapa rawannya dada mereka di tengah desakan sumber-sumber kematian (Denpasar, 2016) PUISI MENULIS AKU ranting-ranting berjatuhan sebagaimana kota-kota isi-isian perut terburai sebagaimana kata-kata surat-surat cinta terbakar sebagaimana kota-kota mata-mata terbutakan sebagaimana kata-kata sungai-sungai tercekik arusnya sebagaimana kota-kota kaki-kaki pada pincang sebagaimana kata-kata remah-remah roti tersapu angin sebagaimana kota-kota kepala-kepala meledak sebagaimana kata-kata di belahan bumi yang tak terduga, kota-kota hanya boleh ditinggali oleh kata-kata—yang tak terduga. (Denpasar, 2016) SUSU LOKAL saya menyusu dari sembahyang dan tangis kalian. menyusu pula dari pohon tarra* dan puisi-puisi puang matua** bila “waktu” tiba nanti, di luar passiliran***, adakah susu yang tiba-tiba menjadi fana? (Denpasar, 2016) *) Pohon besar—diameternya bisa mencapai 3 meter—yang dijadikan tempat untuk mengubur bayi di Toraja. **) Tuhan. ***) Kuburan bayi di Toraja. KEMEJA BASAH menjemur kemeja putih di ruang berhujan pintu dan jendela sila kaututup agar panas pun angin tak mengganggu ketenangan air ratusan ekor lebah menjebak diri di dalam pendingin ruangan dua ekor ikan berenang-tanpa-jiwa di langit-langit, mengitari bohlam yang mewiru cahaya sebuah kapal berlayar di kerah kemeja itu. sesosok bayi kangguru dan bayi manusia sekarat di dalam sakunya. para penduduk desa mengungsi ke setiap kancing meski mengetahui adanya bahaya di lubang-lubang pasangannya. * terdengar ada yang mencakar-cakar pintu ruang berhujan dari luar: maaf, tapi aku tak memelihara anjing, atau kucing, atau hewan apa pun yang bercakar —lantas, siapa di luar sana? terdengar ada yang mengetuk-ngetuk kaca jendela ruang berhujan dari luar: maaf, tapi tak ada orang lain yang hidup di negara ini selain kami yang berada di dalam rumah ajaib —lantas, siapa di luar sana? * menjemur kemeja putih di ruang berhujan pintu dan jendela jangan kaubuka agar tak ada apa-siapa pun yang terlibat dalam hujan pendingin ruangan mati. bohlam padam. kapal karam. sesosok bayi kangguru dan bayi manusia dibunuh musim. semua kancing berjatuhan dari kemeja putih itu, membunuh para penduduk desa yang mengungsi sembari menantikan bahaya di tiap-tiap lubang kancing. tak ada yang mencakar-cakar pintu tak ada yang mengetuk-ngetuk kaca jendela menjemur kemeja putih di ruang berhujan: lima menit lagi aku harus pergi ke kantor, mengenakan kemeja itu (Denpasar, 2016) PERHITUNGAN satu lembar gurun pasir dua orang musafir tiga ekor burung merpati empat orang pemburu lima butir pelor enam kali senapan menyalak tujuh mayat mengambang di kali delapan orang perempuan menangis * tak ada yang sia-sia dalam perhitungan tak ada yang berlebihan dalam kematian tak ada yang akan berakhir jika tanpa permulaan (Denpasar, 2016) DI HADAPAN LAYAR KOMPUTER kau tak bisa menghilang puisi menjeratmu menikam jantung katamu: kau tak bisa menemukan jasadmu sendiri di baris- baris sajak ini lantas, apa yang akan kautangisi? “jasadku kausembunyikan di sajakmu yang lain!” (tapi diam-diam ada rindu yang menjelma jadi malam. tapi diam-diam ada sejarah yang mengalir dari pangkal pahamu. tapi diam-diam ada cinta dan luka yang kehilangan diamnya.) “tapi diam-diam …” (Denpasar, 2016) PERMAINAN BULAN apa yang membikinmu lupa bertandang ke pucuk bulan? “bulan hilang dari jendela kamarku. bulan hilang dari pucuk kelaminku. bulan hilang dari rimba benakku. bulan hilang dari riuh kotaku!” bukankah bulan ya bulan, ya orang yang mengatakan bulan? bukankah lelaki yang bulan ya bulannya bulan yang hilangnya bulan? bukankah bulan adalah pucuk rindu yang kepada bulan ya bukan orang yang bulan? “tapi aku bukan permainan kata- kata,” bulan menjawab. lantas, apa yang membikinmu lupa jalan pulang dari bualan bulan? (Denpasar, 2016)
Tag: Puisi
Avatar

Surya Gemilang

Related Posts
Dongeng

Takut Galungan

BY Dede Putra Wiguna Juni 27, 2026

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...

Read More