Zulkifli Songyanan# Lirik Kasmaran, Patah Hati, Kupandang Malam yang Lengang

Zulkifli Songyanan
by Zulkifli Songyanan — Mei 06, 2017 in Puisi

Tatkala.co
LIRIK KASMARAN Manakala kau sentuh jiwaku pirus dan safir bertebaran di bawah kakiku matahari menyingkap kegelapan hatiku dan sebuah galaksi, dengan gugusan planet biru mengitari, terbit dari setiap debu yang kuinjak di bumi. Jangan bertanya kenapa siulku lebih merdu ketimbang siul bulbul Sulaiman sedang napasku lebih lembut ketimbang desir angin selatan. Duduklah di sampingku dan saksikan bagaimana rusa buruan mencari lindungan di bawah belaian tanganku bagaimana singa lapar terpejam tiap kali kubisiki namamu. Ya kuncup segar sajakku! Bilamana sekejap saja kau lenyap apalah artinya dunia dan keajaiban ini bagiku? Manakala lengkung perahu senyumanmu melayari sepasang sungai di mataku darah dan madu tak henti-henti ngalir di situ ikan-ikan melompat kegirangan lalu bagai lumut pada permukaan batu kening pualammu turut menghijau lantaran lembutnya kecupanku. Ya seruling bambu lagu-lagu kerianganku! Bila kelak aku mati lantas kau dapati gema suaraku— pernyataan cintaku— pada letusan gunung atau badai berapi pahami, betapa segala yang terjadi bermula dari napas penghabisan penyair kasmaran ini. PATAH HATI Frasa sekaligus kecelakaan paling dominan dalam sejarah panjang kehidupan. Kekecewaan paling nyata kenyataan paling mengecewakan. Jika dibandingkan dengan perempuan laki-laki lebih dekat kepadanya. Pernyataan di atas belum dibuktikan namun aku yakin hal itu sepenuhnya benar. Berapa banyak perang dan sajak-sajak timbul darinya? Berapa banyak orang mendadak gila atau bijak karenanya? Pakar statistika lupa, menjawab hal itu amat penting bagi perkembangan ilmu jiwa. Jangan kau pikir ia tak akan hinggap pada orang dungu atau orang alim. Ia teman rahasia bagi mereka yang memiliki hati dan alat kelamin. Ia bisa datang kapan saja bahkan lewat cara yang tak lazim. Jauh di masa silam aku pernah bersentuhan dengannya. Jantungku kembang kempis dihempas arusnya yang dahsyat. Pikiranku tersayat mencengkeram ujung pisaunya berkilat-kilat. Mereka yang memiliki kesamaan nasib denganku setidaknya pernah punya alasan baik menyalahkan takdir. Dan saat kini kupandang dirinya aku bagai memandang sebuah taman di kejauhan. Taman dengan lampu-lampu temaram bangku-bangku kusam yang meski tak terawat terus menjulurkan mawar hitam. Cukup rumit menjelaskan bagaimana waktu bekerja mengajariku menertawakan dirinya. Ia yang pernah membuatku murung dan menderita setelah benar-benar tak ada nyatanya cuma lelucon kecil dilempar Tuhan—dengan gembira ke tengah kemegahan kenangan muram manusia. Bahkan sangat mungkin dilempar Tuhan—dengan sengaja demi mengembangkan senyum kemanusiaan kita. KUPANDANG MALAM YANG LENGANG Kupandang malam yang lengang. Sekali lagi, kupandang malam yang lengang. Kukenang deru hujan gemuruh seharian. Kukenang betapa basah sebuah ciuman. Sungguh tak dapat kupejamkan mataku. Tak dapat kuterima bahwa kau tak bersamaku. Malam kian lengang. Bintang-bintang tampak makin samar dan gemetar. Kuraba dadaku hampa. Kuremas-remas jemariku putus asa. Bagai sulur-sulur kembang anggrek kesunyian merambati dinginnya tembok jiwa. Mengapa cinta sanggup membuat hidup demikian menderita? Mengapa rindu kerap menghempas keras daun pintunya yang terbuka? Kupandang malam yang lengang. Sekali lagi, kupandang malam yang lengang. Gumpalan kabut merayap pelan menyelimuti lampu-lampu berkilauan. Mengapa kenangan terasa dekat justru saat aku dan dirinya berjauhan? Mengapa masa lalu terlihat indah manakala masa kini hancur berantakan? Angin. Hanya angin. Lalu kepak kelelawar di dahan pohonan. Angin. Benar-benar hanya angin. Lalu lolong anjing di simpang jalanan. Dingin. Sungguh dingin kutatap selembar potret dalam genggaman. Dingin. Benar-benar dingin hasrat pada sebuah dekapan melintasi malam. Sendiri. Hatiku sebongkah batu karang tampak tegar sekaligus putus asa. Rinai gerimis ingatan menjelma jadi guyuran lembing tajam seketika. Ah, tusukan kilau mutiara matanya! Busur alisnya! Bening betis serta senyumannya yang bercahaya cermin kelembutan alam semesta! Sajak cinta. Ya, aku tengah menulis sajak cinta. Aku menulis larik rayuan dan dukalara! Tapi, apalah arti semuanya jika kemudian aku malah terlihat menderita? Apalah arti semuanya jika aku tak kunjung bijak dan dewasa? Apalah arti sajak cinta jika aku terus mabuk dalam kemurungan tiada habisnya? Kupandang malam yang lengang. Sekali lagi, kupandang malam yang lengang. Bintang-bintang kian gemetar umpama baris-baris sajak sedih yang kutulis untuknya. Tuhan dan malaikat tersenyum melihat aku menangis untuk pertama kalinya.
Tag: Puisi
Avatar

Zulkifli Songyanan

Related Posts