Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
***
PAGI itu, di sekitar Hari Pendidikan Nasional, awal Mei 2017, kamu sudah bangun sejak beberapa jam lalu. Kamu menyiapkan buku, sarapan seadanya, dan bersiap jalan kaki ke sekolah. Hari itu, kamu terpaksa sendirian menjejakkan kaki di jalan setapak di sela kebun dan hutan, karena adikmu, Gede Ariawan (8), sedang sakit dan tak bisa masuk sekolah. Si adik sakit mungkin karena kehujanan pulang sekolah beberapa hari sebelumnya. Sendirian kamu melangkah. Kamu tak pernah menyerah pada keadaan. Raut wajahmu alami, senyummu seperti daun yang mengembang di semak-semak. Tak terlihat tapi hidup. Sekolah, kamu tahu itu, adalah tempat formal untuk belajar. Kamu harus pernah masuk ke situ jika ingin dianggap sebagai “orang” di masa depan. “Saya sudah biasa jalan kaki,” katamu. Berjalan kaki di tengah kebun, bagi orang kota, mungkin dianggap tamasya, tapi bagi kamu jalan kaki adalah rutinitas yang tak luar biasa. Tapi, yang luar biasa, adalah karena tak banyak yang melakukannya. “Kadang saya jalan bersama Ibu kalau Ibu belanja ke pasar,” ujarmu. Kamu harus setiap hari bawa payung. Jaga-jaga jika turun hujan. Yang kamu sayangkan jika hujan adalah buku pelajaran jadi basah. Kalau badan kehujanan, katamu, tidak apa-apa. Waduh, kamu tahu bagaimana cara menyelamatkan masa depan, tapi kamu kadang tak hirau pada badan. Tapi semangat perjuangan dan alam di sekitar mungkin telah membentuk badanmu menjadi lebih kuat.***
Di sekolah kamu punya banyak teman. Itu bagus, meski kebanyakan teman-temanmu juga seperti kamu, lahir dari keluarga tak mampu dengan orang tua yang hanya mengandalkan upah buruh dan hasil kebun. Dan hanya sebagian kecil saja anak-anak memiliki orang tua dengan tingkat kesejahteraan yang baik. Jadi, belajar baik-baik, berteman baik-baik, kelak kamu dan teman-teman bukan hanya bisa membangun desa, melainkan juga membangun bangsa. “Boleh dibilang, sebagian kecil orangtua para murid hidup pada golongan menengah. Kebanyakan dari keluarga prasejahtera,” kata Kepala Sekolah SD N 4 Sudaji I Nyoman Mertana. [caption id="attachment_3059" align="alignnone" width="705"]
Ketut Sugiantara selalu membawa payung meski musim kemarau, jaga-jaga jika hujan[/caption]
Yakinlah, kepala sekolah dan guru-guru di sekolahmu adalah orang-orang baik. Mari kita doakan agar mereka terus bisa membimbing kamu dan teman-temanmu dengan setia dan sabar. Jika kamu telat, misalnya karena hujan lebat sehingga langkahmu sempat tercekat di tengah jalan, mohonlah maklum dan mereka akan memakluminya.
Atau jika sarana yang kamu miliki tak cukup untuk memenuhi standar pelajaran, maka mohonlah bimbingan lebih bijak. Jika sarana di sekolahmu juga kurang, karena sekolah itu juga berada di desa, maka belajarlah lebih giat dengan cara yang lain. Kepala sekolah dan gurumu pasti bakal semangat jika kamu dan teman-teman juga semangat.
“Anak-anak memiliki semangat belajar sangat tinggi, yang membuat kami jadi makin bersemangat mengajar,” kata Mertana, sang kepala sekolah. Nah, kan?
***
NAMAMU Ketut Sugiantara, 11 tahun, lahir di sebuah rumah tanpa listrik di pedalaman Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Buleleng, Bali. Kamu lahir 25 September 2005 ketika bangsa ini mengaku sangat maju secara ekonomi, namun sering kacau secara politik. Kamu pasti tak tahu itu. Ya, bagaimana kamu bisa tahu bahwa bangsa ini sudah maju, sedangkan untuk menerangi rumahmu yang di puncak perbukitan itu saja bapakmu masih harus memompa petromak. Namun kamu memang anak yang bukan hanya disiplin sekolah, namun juga disiplin mengumpulkan bekal untuk sekolah. Kamu membantu orang tuamu memelihara sapi, sebuah hal yang tak banyak dilakukan anak-anak zaman kini. Anak-anak di tempat lain mungkin sudah memelihara celengan yang diisi setiap hari oleh orang tua mereka. Selepas sekolah, setelah ganti seragam dan makan siang, kamu tak tinggal diam. Kamu melesat ke kebun mencari rumput untuk dua ekor sapi peliharaan. Kamu pasti tahu, jika sapi besar, itulah bekal nanti untuk kamu melanjutkan sekolah. Mungkin sampai SMP, mungkin sampai SMA, mungkin hingga kuliah. Kerta Masiada, Kepala Dusun Kaje Kauh, Desa Sudaji, sempat ke rumahmu. Kepala Dusun itu menemui ayahmu, Gede Mertayasa, untuk meminta fotocopy KTP dan KK. Mungkin jika beruntung, dengan fotokopi KTP dan KK itu, Kepala Dusun akan mengajukan permohonan kepada pemerintah agar keluargamu dibantu. Berdoalah agar pemerintah selalu baik hati kepada orang-orang yang tidak mampu. Saat Kepala Dusun datang, konon, kamu dan adikmu sedang menyabit rumput untuk makanan sapi. Dan memang begitulah selalu. Rajin dan ulet, pada saat ada atau tak ada bantuan. Seperti ayahmu, yang dulu sempat kerja tak tetap jadi buruh bangunan, kini sudah menikmati bekerja sebagai pembuat gula aren. Tahukah kamu, membuat gula aren adalah pekerjaan yang amat keren. (T/ditulis berdasar reportase Nugraha Hardiyanta).
Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...