Untuk Perbaiki Bali, “Ngiring Sareng-sareng Dados Balian”
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
Tema seksualitas yang diangkat adalah lintas gender dan soal fetisisme (fantasi seks) yang mengikutinya. Orientasi seksualitas yang diulas juga beragam, ada yang jatuh cinta pada sesama, incest, heteroseksual, pedofilia, bahkan mengarah pada benda (celana dalam, hak sepatu dan lain sebagainya).
Dalam menuangkan ide-idenya, doktor kajian budaya Universitas Udayana ini menggunakan bahasa yang lugas. Langsung menyodok tanpa harus mengupas makna kata yang dirangkainya.
Cerita ‘Purusa’ misalnya, penulis menohok seorang anggota parlemen terhormat. Widura, anggota parlemen itu telah melakukan kekerasan seksual terhadap Maya, perempuan yang kemudian ia sebut pelacur. Saat berdebat dengan kawannya sesama anggota dewan, Widura malah menuduh benih di rahim Maya adalah milik seribu lelaki. Bahkan Widura menyebut perempuan itu tak lebih seperti properti. Meski menang bersilat lidah dengan rekannya sesama anggota dewan, bhatin Widura tetap tertekan atas perbuatannya bersama perempuan yang ia sebut pelacur.
‘Gaun Merah di Ujung Malam’, menceritakan kisah cinta beserta keganjilan yang dialami Miss Poleska. Gadis desa uang berjuang perbaiki perekonomian keluarga. Ia begitu juga anak-anak di kampungnya selalu bermimpi menjadi penjaga toko dan karyawan hotel. Ia pergi ke kota dan kehidupannya berubah.
Ia yang dulu lugu, tak pernah bersolek, akrab dengan bau kotoran sapi dan kuda menjadi perempuan liar, pandai berdandan, dan tubuhnya wangi parfum. Jika dulu ia berdendang di hutan cari kayu bakar, kini ia bernyanyi di pub dan diskotik. Meski hanya sebagai lips singer, pengunjung hiburan malam tak mempermasalahkannya. Mereka tergila-gila pada Miss Poleska bukan lantaran suaranya, tapi energi dan keliaran perempuan itu di ranjang.
Sebagai perempuan, Miss Poleska juga punya hati dan cinta. Ia menemukan cinta sejati pada anak sekolahan yang malam itu ingin belajar bercinta. Simak ringkasan ceritanya:
“Mengapa kau kemari? Tahukah kau? Tempat ini tak pantas untukmu. Tidak punya kekasih? Sayang sekali! Lelaki muda setampan kau harusnya memiliki seorang kekasih yang bisa kau ajak tidur. Tapi kau masih anak-anak.”
Lelaki muda itu terdiam dan menundukkan kepalanya.
“Punya uang? Dari orangtuamu? Harusnya kau belajar atau tidur di rumah saja. Simpan uangmu! Mungkin kau perlukan untuk sekolah,” bisik Miss Poleska di belakang telinga lelaki itu.
“Ehm…. Aku punya seseorang”.
“Perempuan? Apa masalahmu?”
“Ehm… Kau tahu?! Ehm… Aku tak pernah melakukannya. Ehm… Aku tak tahu caranya. Ehm… Aku takut!”
“Hamil? Bodoh sekali, kau kan bisa pakai kontrasepsi!”
“Ehm… Aku malu….. Aku takut….. Aku tak mampu…. ehm.. Temanku yang mengajakku kemari. Ehm… Ia juga yang memberiku uang…”
“Begitukah?! Anak bodoh! Tapi, kau cukup tampan. Mari dekatlah padaku! Kau dan aku tak ada beda. Yang kau lihat, tak seperti yang kau duga. Aku akan mengajarimu. Simpan uangmu itu. Aku akan memberikanmu sesuatu yang akan kau kenang selama hidupmu,” desah Miss Poleska sambil mencumbui batang leher pemuda itu. Tubuh pemuda itu bergetar dan berkeringat.
Miss Poleska jatuh cinta. Menatap anak muda itu, letihnya menguap bersama asap tembakaunya. Ia melucuti pakaian anak muda itu dan mengajarinya bagaimana cara tidur tanpa rasa cemas. Miss Poleska, seperti seorang ibu menidurkan pemuda itu hingga tertidur puas dan pulas. Begitulah setiap akhir pekan, Miss Poleska berkencan dengan kekasih mudanya. Namun cinta itu akhirnya kandas, sang pemuda setamat kuliah ia memilih Maya dan ingin menjalani hidup normal.
***
Penulis juga menyuguhkan cinta dan tragedi pada cerita ‘Layar’ yang juga dipilih jadi judul antologi perdananya. Penulis mengisahkan kehidupan nelayan Supena dan istrinya, Karti. Seharusnya Supena berbahagia setelah mengetahui istrinya berbadan dua. Namun justru istrinya berikan kabar duka. Karti berterus terang, janin yang ada dalam kandungannya bukan hasil karya Supena, melainkan Jaka, yang sama-sama berprofesi sebagai nelayan. Kejujuran Karti membuat hati Supena hancur. Supena yang emosi kemudian menceraikan Jaka dari tubuh dan jiwanya. Kematian Jaka menyisakan raungan kepedihan bagi Karti. Jaka adalah ayah biologis dari janinnya sementara Supena adalah suami dan pelabuhan hatinya. Karti merasakan betapa dunia telah menenggelamkannya pada kesedihan yang mendalam. Tubuh Karti menggigil melihat polisi membawa suaminya dan memasukkan mayat Jaka ke dalam kantung hitam. Karti tak tahu apa yang harus dilakukannya. Supena tak mungkin membantunya dan Jaka telah mati. Karti tak punya pilihan. Setelah melahirkan dan menitipkan anaknya di kampung, ia pergi ke kota. Bekerja sebagai penjaga kafe dekat pelabuhan. Di antara kerlap kerlip temaram lampu, Karti menghibur para ABK. Sementara Supena dikisahkan harus dilayar ke penjara lainnya karena membunuh nara pidana lainnya. Supena jadi sadis dan punya kelainan seksual, seorang bocah menjadi keganasan nafsu birahinya. Dari 20 cerita yang disuguhkan, Gayatri Mantra yang seorang dosen tampaknya menyelipkan pesan pendidikan pada karyanya. Pesan terselubung itu justru menjadi kekuatan dalam buku ini. Secara garis besar tertangkap pesan seksualitas adalah hak dasar yang bersifat manusiawi. Pendidikan seksualitas penting untuk memahami peradaban manusia yang paling fundamental untuk melihat sisi terdalam manusia yang utuh sebagai diri. Sementara wacana gender yang dibangun bukan soal laki dan perempuan di ranah karir vs domestik saja. Tapi soal orientasi diri sebagai laki atau perempuan terhadap pilihan-pilihan hidupnya. Ada kegelisahan dan bahan tanya seputar cinta, perempuan, laki, bencong, trasgender, hingga transeksual. Hal itu tergambar pada cerpen berjudul ‘Wanita Sejati’. Seorang anak hasil adopsi semula percaya bahwa ibu angkatnya adalah wanita tulen. Ia tak menghiraukan cibiran teman sekolahnya yang menyebut ibu asuhnya bencong. Saking sering diejek, ia pun meminta ibu angkatnya membuktikan diri sebagai perempuan. Ibu yang menyayangi anak angkatnya ini tentu memenuhi keinginan putranya. Hingga sang anak percaya, bahwa ibu angkatnya sama dengan ibu-ibu yang lain. Punya payudara hingga vagina. Setelah dewasa, tokoh Aku akhirnya tahu dan mengerti. Ibu angkatnya adalah seorang transeksual, waria yang telah operasi kelamin. Tema fantasi seks dilukiskan dalam cerpen ‘Ray dan Sebentuk Wajah’ serta ‘Celana Dalam’. Ray adalah pemuda yang kesehariannya sebagai juru dandan jenazah. Ia pernah jatuh cinta pada seorang wanita, Maya namanya. Namun cinta itu bertepuk sebelah tangan karena Ray tak punya keberanian mengucapkan perasaannya. Maya jatuh ke dalam pelukan lelaki lain dan akhirnya meninggal. Saat menerima panggilan merias jenazah, barulah Ray tahu bahwa Maya telah tiada. Akibat fantasinya, Ray seakan mendapat bisikan dari roh Maya yang memintanya berterus terang. Pernah mencintainya dan Maya inginkan lelaki perias jenazah itu menciuminya. Ray pun menuruti. Keganjilan laku hidup di dunia nyata berupa cinta sesama jenis tergambarkan dalam cerpen ‘Megalomanius’ sementara hubungan ayah dengan anak kandung atau incest tergambar dalam cerita ‘Tidak Perawan Lagi’. Cerita-cerita yang ditawarkan sangat menggoda. Penulis tampak lihai memainkan perasaan dengan menggunakan alur campuran. (T)
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
TAHUN 1920-an sampai tahun 1950-an bisa dikatakan masa gemilang intelektualitas Buleleng, Bali Utara. Pada masa tersebut intelektual Buleleng bermunculan dan menerbitkan berbagai j...
MENJADI berbeda bukanlah suatu kesalahan karena itu merupakan anugrah dari Tuhan. Manusia diciptakan berbeda-beda oleh Yang Kuasa. Ketika seorang anak berbeda dari orang di sekitar...
Cerpen: Yusna Safitri BINTANG, pantai, dan kamu: tiga hal kesukaanku. Kencangnya angin malam tak membuatku malas untuk beranjak dari tempat tidurku. “22.30 WITA” “Pantai yuk,” aja...
Judul: Montase (Kumpulan Puisi) # Penulis: Wayan Jengki Sunarta # Penerbit: Pustaka Ekspresi # Tahun: 2016 # ISBN: 978-602-7610-73-6 PUISI bisa jadi apapun, apapun bisa jadi puisi....
DI KAMAR BLUES MASIH MENGALUN Dulu kita tak pernah percaya cinta "Cinta taik kucing!" katamu sambil mengacungkan botol bir ke langit memaki dia yang telah pergi Kini pun kita ta...
SEJUJURNYA, saya tidak tiba-tiba pandai menulis. Dari jalur genetik, tidak satu pun di antara kedua orang tua memiliki profesi penulis. Ayah seorang guru olah raga yang menjadi per...
BERKARYA hingga akhir hayat. Hal itulah yang dilakukan perupa Tedja Suminar. Perupa yang banyak memberikan pengaruh bagi ranah seni rupa di Bali dan Jawa Timur itu, tetap berkarya...
MARILAH kita tonton proses Pilkada sebagai sebuah seni pertunjukan drama. Kita mulai dari prosesi pendaftaran pasangan calon kepala daerah ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) 21-23 Sept...
Apakah aksara bisa dipentaskan? Naskah teater untuk generasi masakini berhadapan langsung dengan aplikasi bahasa digital maupun teknologi media. Ini memiliki kemungkinan efek balik...