‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
I Dewa Nyoman Putra Hartawan[/caption]
I Dewa Nyoman Putra Hartawan yang lahir di Br. Tengah Kangin, Peliatan, Ubud, Gianyar pada tanggal 30 Maret 1971 adalah seorang kolektor uang yang pernah beredar di nusantara dan aktif sebagai seorang dosen luar biasa di jururan Arkeologi Univesitas Udayana. Pria yang berumur 46 tahun ini mulai menekuni mengkoleksi uang kurang lebih dari 20 tahun silam. Berawal dari rasa ingin tahu yang sangat kuat untuk mengetahui kenapa belanja atau menginginkan sesuatu harus membayar dengan uang.
Rasa ingin tahunya terjawab ketika ia menekuni dan mempelajari katalog, pedoman-pedoman, dan beberapa buku-buku yang menjelaskan terkait dengan uang. Menurutnya, uang yang beredar di nusantara pertamakali adalah “uang emas dan uang perak” yang dimulai sekitaran awal abad ke-9. Pada jaman Bali Kuno, masyarakat di Bali telah menggunakan uang sebagai alat pembayaran yang sah.
Dewa Hartawan juga telah menerbitkan sebuah buku yang berjudul “Uang Kepeng Cina Dalam Ritual Masyarakat Bali”. Buku tersebut telah dua kali dicetak, pertama tahun 2011 dan yang kedua tahun 2013. Pak Dewa, begitu dia disapa, hanya memamerkan koleksi uang kepengnya saja di stand pameran HUT Kota Gianyar.
Jika berkunjung ke pameran atau kebetulan lewat, dengarlah lebih banyak penjelasan Pak Dewa. Menarik sekali ketika kita bisa mengetahui sejarah perjalanan uang di nusantara, termasuk banyak uang yang konon katanya mempunyai kekuatan magis, seperti uang kepeng arjuna, bulan, sangket, jaring. Yang namanya koleksi, ya, hanya dijadikan koleksi. Tak unsur lain yang ia inginkan, apalagi berniat untuk memikat lawan jenis dengan uang kepeng Arjuna.
Uang Kepeng Dicetak Lagi
Uang kepeng adalah uang yang sering dijadikan sarana upacara yadnya di Bali, uang kepeng kuno sekarang ini sudah sangat sulit ditemukan.
Namun kini banyak uang kepeng dicetak kembali. Dewa Hartawan mengatakan, ketika uang kepeng kuno sulit ditemukan dan uang kepeng semakin bertambah keperluaannya untuk upacara, maka itulah yang menyebabkan banyak uang kepeng cetakan baru yang beredar.
[caption id="attachment_2907" align="alignleft" width="213"]
Koleksi uang kepeng Dewa Hartawan[/caption]
Uang kepeng cetakan tersebut ada dicetak oleh pengerajin dari Bali maupun dari luar Bali. Jika ditinjau, uang kepeng yang menjadi koleksi Dewa Hartawan lengkap dengan keterangan jamannya dan tahun peredarannya. Ia juga bisa menerangkan langsung terkait dengan uang kepeng yang kita punya agar kita tahu tahun peredarannya, karena ia telah menekuni bidang tersebut dengan mempelajari pedoman-pedomannya.
Dewa Hartawan juga bernaung dibawah komunitas kolektor mata uang di Bali, komunitas tersebut bernama Komunitas Numastik Bali. Banyak kolektor-kolektor mata uang di Bali yang sering berbagi pengetahuan dengan beliau, pertemuan sering kali dilaksanakan di kediaman beliau di Br. Tengah kangin Peliatan. Tak ada ruang khusus untuk berbagi pengetahuan akan tetapi itu tidak menjadi batas pemisah bagi mereka para koleltor mata uang Nusantara.
Jadi sebagai generasi muda yang kurang memikirkan tentang perjalanan uang menjadi alat pembayaran yang sah dan hanya menikmatinya saja, stand pameran uang kepeng Dewa Putra Hartawan memberikan wawasan pengetahuan tentang semua itu.
Stand Dewa Putra Hartawan telah di buka dari tanggal 17 April 2017 sampai tanggal 25 April nanti. Jadi jangan sia-siakan kesempatan untuk berkonsultasi atau berbagi pengetahuan terkait dengan perjalan mata uang yang pernah beredar di Nusantara. (T)
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...